
Happy reading...
Sesampainya di Perusahaan Albern Food, Bobby dan kedua gadis yang menumpang di mobilnya pun keluar secara bersamaan. Aleta langsung nyelonong pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Bobby. Sementara Nisa, sebelum dia pergi memasuki kantor dia menyampaikan terima kasihnya pada Bobby.
"Pak, terima kasih banyak atas tumpangannya. Tolong maafkan teman saya, Aleta. Karakternya selalu membuat semua orang kesal," ucap Nisa sembari menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu berterima kasih, itu hanya kebetulan saja saya melihat kalian tadi. Beri tahu temanmu itu untuk bersikap ramah pada semua orang. Karena di Albern Food bersikap ramah sangat dianjurkan untuk para karyawannya." Bobby pergi memasuki Albern Food setelah mengatakan itu pada Nisa.
Sementara itu, Nisa yang mendengar ucapan Bobby hanya melongo menatap kepergian Bobby. Setelah beberapa saat, dia pun berlari menyusul temannya yang sudah masuk lebih awal. Nisa masuk ke sebuah ruangan di mana para pelamar kerja akan berkumpul dan di interview oleh salah satu staf dan HRD untuk membuat kontrak.
Nisa celingukan mencari keberadaan temannya dari ratusan pelamar kerja yang berkumpul. Tiba-tiba Nisa melihat lambaian tangan yang tidak lain dan tidak bukan itu lambaian tangan Aleta, temannya. Tanpa berlama-lama Nisa berjalan ke arah Aleta dan duduk di sebelahnya.
"Gila, banyak banget yang ngelamar kerja di sini," bisik Aleta pada Nisa.
"Jelas saja, karena perusahaan ini sangat unik. Albern Food tidak mempermasalahkan ijazah pelamarnya. Itulah, kenapa banyak yang melamar ke perusahaan ini," bisik Nisa di telinga Aleta.
Tak lama aku kemudian, masuk tiga pria yang berpakaian sangat rapi. Mereka tidak lain adalah CEO, Manager dan HRD. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Kedua pria itu bernama Hadwin dan Andrian.
Hadwin Maverick yaitu seorang CEO Albern Food. Sedangkan Andrian Edmund adalah Manager di Albern Food, dan Kelvin Stewart yaitu HRD Albern Food. Mereka memiliki tugas yang berbeda.
"Okay, perhatian semuanya. Sebelumnya kami akan memperkenalkan Presdir Albern Food agar kalian semua bisa mengenal beliau dengan baik," tutur Hadwin pada semua calon karyawan.
"Presdir, wah ... Kira-kira akan seperti apa penampilan Presdir kita ini, Aleta?" mata Nisa berbinar mendengar kata Presdir.
"Mana kutahu, kita liat aja nanti." Aleta menggidikkan bahunya.
Tak lama kemudian, terdengar suara sepatu pentopel memasuki ruangan. Kemudian masuk seorang pria bule dengan perawakan yang tinggi, bermata biru dan berwajah sangat tampan serta karismatik. Tentu saja, begitu pria itu masuk, semuanya bersorak dan bertepuk tangan.
Siapa yang tidak bersorak melihat pria tampan berkarismatik ada di hadapannya. Namun, berbeda dengan Aleta. Dia tidak begitu memperhatikan pria bule itu. Tatapannya menatap ke arah jendela melihat cuaca yang begitu cerah.
"Aleta, Aleta! Lihat itu!" Nisa mengguncang tubuh Aleta dengan tatapan mengarah ke arah pria bule yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa sih?" tanya Aleta dengan ketus.
"Lihat pria bule itu!" Nisa memegang wajah Aleta dan dia mengarahkan mata temannya ke arah pria yang ada di hadapan mereka.
Begitu tatapan Aleta melihat ke arah pria bule itu, tentu saja kedua bola mata Aleta membulat dengan sempurna. "Nis, dia 'kan pria yang memberikan tumpangan untuk kita tadi?" tanya Aleta tanpa menoleh ke arah temannya.
"Itu dia, mungkinkah dia Presdirnya?" tebak Nisa.
"Entahlah, mungkin saja," jawab Aleta.
"Tolong diam semuanya, saya akan memperkenalkan siapa pria tampan yang ada di sebelah saya ini. Beliau adalah Presdir sekaligus pemilik perusahaan Albern Food, Pak Bobby Albern, beri sambutan untuk beliau." Hadwin bertepuk tangan dan diikuti oleh ratusan calon karyawan.
"Sudah cukup. Halo, semuanya. Selamat pagi, sebelumnya saya sudah memperkenalkan diri saya sendiri pada saat peresmian perusahaan Albern Food. Tapi, saya akan memperkenalkan kembali. Saya Bobby Albern, Presdir Albern Food." Bobby memperkenalkan dirinya kembali di hadapan ratusan calon karyawan.
"Hallo, Pak. Selamat pagi," jawab seluruh ratusan calon karyawan.
"Silakan lanjutkan interview-nya, Good luck everyone." Bobby menatap tajam ke arah Aleta sebelum dia keluar dari ruangan itu setelah menyampaikan beberapa kata.
"Diam kau! Jangan nakutin gue kek gitu!" sewot Aleta.
****
Di ruangan Presdir Bobby ....
Di ruang kerjanya, Bobby sedang memeriksa dokumen dokumennya yang harus dia tandatangani untuk menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan. Tiba-tiba dia teringat gadis cabai yang dia berikan tumpangan itu. Dia tersenyum dan mengambil ponsel yang berada di sebelah laptopnya.
{Hadwin, aku ingin kalian meloloskan dia gadis yang bernama Aleta dan temannya yang kalau tidak salah namanya Nisa. Setelah itu, suruh gadis yang bernama Aleta untuk datang ke ruangan saya sekarang juga!}
Bobby mengirim pesan itu kepada CEO Hadwin. "Sepertinya aku harus memberikan pelajaran pada gadis cabai itu agar dia bisa sedikit ramah pada orang lain. Aku ingin melihat ekspresinya padaku sekarang," Bobby tersenyum membayangkan ekspresi gadis cabai yang jutek itu.
****
__ADS_1
Ruang interview ....
"Siapa yang bernama Aleta dan Nisa?" tanya Andrian Edmund.
Mendengar itu, Aleta dan Nisa saling menatap satu sama lain. Keduanya bertanya-tanya, kenapa mereka menyebutkan nama mereka padahal mereka belum diinterview. Kemudian mereka pun maju ke depan dan menghampiri ketiga pria itu.
"Iya, Pak. Aku Aleta dan ini temanku Nisa," ucap Aleta.
"Silakan duduk." Kelvin yang selalu HRD Albern Food mempersilakan kedua gadis itu untuk duduk di dua kursi kosong yang ada di hadapannya.
Keduanya pun duduk secara bersamaan dan menatap ketiga cogan yang ada di hadapannya. Di bawah meja, Aleta dan Nisa saling meremas jemarinya karena gugup. "Aleta, jika sampai aku tidak lolos karenamu aku tidak akan memaafkanmu!" bisik Nisa dengan sedikit mengancam.
"Positif thinking aja lah, jangan pesimis dulu. Kita tidak tau hasilnya, kita tunggu saja keputusan mereka," bisik Aleta.
"Kalian tanda tangan di sini!" Kelvin menyodorkan dua lembar kertas kepada Aleta dan Nisa.
Kedua gadis itu melongo. "Tanda tangan? Itu artinya--"
"Benar, kalian diterima di perusahaan Albern Food. Selamat bergabung dan mulai besok kalian sudah bisa mulai bekerja." Kelvin mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat.
"Wah, seriusan, Pak? Kami diterima? Kami lulusan SMP loh, Pak. Bapak bahkan belum memeriksa CV kami." bola mata Aleta berbinar seraya berdiri secara refleks.
"Itu tidak diperlukan. Sekarang tandatangani surat kontrak ini selama 6 bulan, jika kalian bekerja dengan baik makan kontrak kalian akan diperpanjang. Setelah ini, kau disuruh menghadap ke Presdir Bobby sekarang juga." Kelvin Menunjuk ke arah Aleta.
"Saya, Pak?" Aleta menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kau 'kan yang bernama Aleta," timpal Kelvin.
'Tamatlah riwayatku, entah apa yang akan Presdir Bobby lakukan padaku?' Wajah Aleta langsung berubah pucat serta matanya menunjukkan kecemasan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1