
"Syaratnya cukup mudah, kamu harus mau mengandung anak-anakku dalam waktu cepat. Aku tidak ingin menunda untuk memiliki seorang anak. Bagaimana?" Pembicaraan Bobby kini mengarah pada hal yang serius.
Sontak, Aleta yang mendengar itu langsung tersedak kala dia sedang minum. Seketika wajahnya merona bak kepiting rebus. Ia mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa gerah padahal AC sudah menyala.
"Sayang, kamu kenapa? Ini minum dulu." Bobby mengambil segelas air dan memberikan pada kekasihnya.
Tanpa banyak bicara, Aleta mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis. Setelah itu, dia menaruh jelas tanpa air di meja. "Terima kasih, Mas," ucap Aleta tanpa menoleh ke arah Bobby.
"Are you okay?" Bobby menyentuh kedua tangan Aleta.
"Eoh ... Ya, i'm okay." Aleta tersenyum kecil.
"Bagaimana? Apa kamu bersedia untuk mengandung anak-anakku dalam waktu cepat?"
Lagi-lagi Bobby mengejutkan Aleta dengan pertanyaannya itu. Sejujurnya, Aleta malu membahas hal ini, akan tetapi sebentar lagi dia akan menjadi istri Bobby. Lambat laun pembicaraan mereka akan mengarah pada anak juga.
__ADS_1
"Leta gimana Mas aja. Jika Mas ingin Leta mengandung anak Mas secepatnya maka aku akan menurutinya. Asalkan Mas bahagia," Aleta menjawab dengan nada yang lembut disertai senyuman yang sangat manis.
"Terima kasih, Sayang." Bobby langsung menarik tubuh Aleta dan memeluknya.
"Mas, jangan seperti ini. Malu kalau dilihat Ibu dan Ayah," ucap Aleta dengan suara yang malu-malu.
****
Hari demi hari sudah mereka lewati. Bahkan minggu demi minggu sudah Aleta dan Bobby lewati. Kini satu persatu persiapan untuk pernikahannya sudah selesai.
Mereka ingin semua karyawan Albern Food bisa hadir di acara pernikahannya nanti. Berhubung hari ini Bobby ada meeting bersama pengusaha lain, Aleta pun memutuskan untuk menyebar undangan sendirian. Ruangan demi ruangan Aleta datangi dan mengundang setiap karyawan yang sedang fokus bekerja.
Selesai itu, Aleta pergi menuju ruang packing. Tempat sahabatnya bernama Nisa bekerja. Dengan niat jahilnya, Aleta berjalan pelan untuk mengejutkan temannya itu.
Namun, belum sempat dia mengejutkan sahabatnya, Nisa sudah berbalik badan sehingga keadaan jadi terbalik. Kini Aleta yang kena batunya. Dia terkejut karena ulahnya sendiri dengan menjatuhkan semua undangan yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Loh, Leta ... lo ngapain di sini? Dan, lo kenapa?" Nisa kebingungan melihat temannya itu tiba-tiba terkejut.
"Hehe, tadinya gue mau jahilin lo tapi malah gue yang kaget sendiri," Aleta cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yee, elu ... dari dulu masih saja jahil. Ingat, lo bentar lagi mau merried kurang-kurangin jahilnya," Nisa menasehati sahabatnya untuk mengurangi sikap jahilnya itu.
"Iya, iya Nisa! Bawel amat, Lo. Gue ke sini mau ngasih undangan buat lo dan semua karyawan. Lo mau 'kan bantuin gue?" Aleta menaik-turunkan alisnya.
"Eumm ... boleh aja sih, tapi ada syaratnya."
"Ah, tenang. Urusan itu gampang, gue akan bilang sama Pak Hadwin buat lamar lo juga, haha." Aleta meledek Nisa dengan suara yang cukup jelas sehingga para karyawan lain bisa mendengarnya.
Sontak semua karyawan yang berada di ruang packing tatapannya mengarah pada Aleta dan juga Nisa. Melihat hal itu, Nisa langsung menginhak kaki Aleta dan memberi kode lewat tatapan matanya. "Aww, sakit tahu." Aleta mengangkat kakinya yang telah diinjak oleh sahabatnya.
Nisa maju beberapa langkah. "Leta, gue enggak mau ya, kalau gue digosipin yang enggak-enggak di kantor apalagi digosipkan sama Pak Hadwin. Lo itu punya mulut jolang banget sih!" bisik Nisa dengan nada yang sedikit kesal.
__ADS_1
****