Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Di Buat Kaget


__ADS_3

"Yah, Bu! Leta pulang," ucap Aleta sembari masuk rumah.


"Eh, Sayang. Kok baru pulang? Kamu habis dari mana? Jam segini baru pulang," tanya Devica yang tiba-tiba datang dari arah dapur.


"Iya nih, Bu. Tadi Mas Bobby mengajak Leta berkeliling bentar." Aleta menggandeng tangan ibunya sembari berjalan menuju ruang tengah.


"Oh iya, Leta ... apa kamu tadi ninggalin teman kamu di restoran?"


Seketika langkah Aleta langsung terhenti. Dia menoleh ke arah ibunya dengan bola matanya yang membulat dengan sempurna. Gadis ini kebingungan, bagaimana ibunya bisa tahu hal itu padahal dirinya belum menceritakan apa-apa.


"Leta! Ditanya malah bengong?" Devica menyenggol pelan badan putrinya.


Aleta tersadar. "Eh ... iya, Bu. Leta sama Mas Bobby ada hal penting, beneran deh Leta enggak bermaksud ninggalin Nisa," Aleta menjawab pertanyaan ibunya disertai tangan peace dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


"Ya sudah, lain kali jangan tinggalin temanmu seperti itu. Sekarang temui Nisa, dia ada di ruang tengah."

__ADS_1


"Nisa ada di sini, Bu?"


"Iya, buruan temui Nisa dan minta maaf lah. Ibu tidak mau kalian musuhan ya." Devica tersenyum hangat seraya mengelus lembut kepala putrinya.


"Siap, Bu." Aleta langsung berlari ke ruang tengah untuk menemui temannya.


Dan benar saja, ternyata Nisa memang berada di rumahnya. Zainisa saat ini tengah duduk sembari memeluk bantal kecil dengan tatapan matanya tertuju pada TV yang menayangkan film kartun kesukaannya. Tidak, bukan hanya kesukaan Nisa saja melainkan kartun kesukaan Aleta juga.


Tanpa berlama-lama, Aleta langsung duduk di sebelah Nisa. Namun, temannya sama sekali tidak mempedulikan kedatangan Aleta. Nisa tampak asyik dengan kartun kesukaannya. Kartun yang saat ini sedang Nisa tonton adalah kartun masha and the bear.


"Maafin gue, Sa. Gue enggak bermaksud buat ninggalin lo tadi, gue sama Mas Bobby ingin lo dekat dan jadian sama Pak Hadwin. Itu aja kok, kami tidak ada maksud lain," Aleta menjelaskan kejadian beberapa jam yang lalu pada saat dirinya meninggalkan Nisa bersama Hadwin.


"Gue paham, gue enggak marah kok." Nisa tersenyum sembari menatap temannya.


"Lah, kalau lo enggak marah ... Ngapa ekspresi lo kek lagi kesal? Gue mikirnya lo marah sama gue." Aleta dibuat bingung dengan ekspresi yang sahabatnya tunjukkan.

__ADS_1


Nisa terdiam. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu hanya mengalihkan tatapannya menuju layar TV dan kembali menonton kartunnya.


"Ada apa? Semua baik-baik aja 'kan? Ayo cerita, apa yang sebenarnya terjadi saat gue ninggalin lo tadi sama Pak Hadwin?" Aleta memegang tangan temannya dengan erat.


"Pak Hadwin nembak gue," Nisa menjawab pertanyaan Aleta dengan singkat dan disertai raut yang kebingungan.


"Apa?" Aleta terperanjat dari duduknya.


Dia tidak menduga jika dugaannya bersama Bobby akan menjadi kenyataan. Ternyata sosok Hadwin yang selama ini terkenal tertutup dan sedikit galak itu mampu menyatakan perasaannya secepat ini. Kali ini Aleta semakin penasaran dengan jawaban Nisa perihal perasaannya itu.


"Lalu, lo jawab apa? Lo terima 'kan?" Aleta membenarkan posisi duduknya dan menopang dagu sembari menatap serius ke arah sahabatnya.


Perlahan Nisa menggelengkan kepalanya. "Gue tolak," sekali lagi, Nisa menjawab rasa penasaran Aleta dengan jawaban yang singkat, padat dan jelas.


Lagi-lagi jantung Aleta dibuat melompat dari tempatnya. Dia terkejut bukan main pada saat mendengar jawaban dari sahabatnya. Dia tidak habis pikir, apa yang membuat Nisa sampai menolak pria dingin dan pria populer di kantornya?

__ADS_1


****


__ADS_2