Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Perfect


__ADS_3

"Ta, semua itu enggak mungkin! Percaya deh sama calon suamimu, bisa aja 'kan ini hanya akal busuknya Bu Cesya agar pernikahan kalian dibatalkan? Apa lo mau gagal nikah sama Pak Bobby?" skak Zainisa dengan sorotan matanya yang tajam.


Aleta pun menggeleng pelan. "Ya, enggaklah, Sa. Cewek mana sih yang mau gagal nikah apalagi semua kartu undangan udah disebar. Gila aja kalau gue mau batalin nikah."


"Nah, itu lo sadar. Udah sekarang dari pada lo melow gini mending bantuin make up-in gue deh. Bentar lagi gue mau ketemu sama pria es batu," Nisa membujuk sahabatnya dengan menaik-turunkan alisnya.


"Yee, ada maunya lo." Aleta memutar bola matanya malas.


"Ayolah, 'kan bentar lagi lo mau merried. Sekali ini aja bantuin kawannya." Nisa mengedip-ngedipkan matanya.


"Ya udah iya. Ayo, gue bantu." Aleta beranjak dari duduknya dan berjalan menuju rumah. Diikuti oleh Nisa dari belakang.


****


Sesampainya di kamar, mereka pun mulai bersiap-siap. Mereka menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Nisa serta mencocokkan dengan heels dan tas. Tidak lupa, Aleta juga memberikan beberapa aksesoris miliknya untuk dipakai sahabatnya.

__ADS_1


"Ini gue kasih aksesoris kesayangan gue sebagai kenang-kenangan. Lo pakai ya." Aleta menyodorkan beberapa aksesorisnya.


"Wah, lo seriusan, Ta?" Kedua mata Nisa berbinar.


"Iya, gue serius. Nih." Aleta memberikan aksesoris itu pada sahabatnya.


"Thank you so much, Bestie." Nisa memeluk erat Aleta.


"Heh, lo napa? Ini cuma aksesoris, Sa! Enggak perlu sampe kek gini juga kali."


"Wah, parah lo! Keberuntungan ada ditangan Tuhan. Ngapain percaya sama benda kek ginian. Sa, Sa! Nyebut lo!" Aleta menggelengkan kepalanya.


"Bercanda kali, serius amat lo." Nisa mencolek dagu Aleta sebagai tanda menggodanya.


"Udah, jangan banyak bercanda. Jadi gue make up-in?"

__ADS_1


"Jadi jadi. Ayo, make up-in gue sekarang." Dengan cepat Nisa duduk di depan meja rias milik Aleta.


Aleta berdiri di sebelah sahabatnya. Dia menyuruh Nisa untuk menghadap padanya. Gadis yang tengah duduk itu pun mengangguk dan menghadap ke arah perias dadakan itu.


Setelah itu Aleta mulai memoles wajah natural Nisa dengan beberapa tahap. Tangannya yang halus serta jemarinya yang lentik menari lincah nan elegant di wajah natural sahabatnya. Pandangannya begitu fokus menatap ke arah wajah yang sedang dia rias.


Sehingga setelah beberapa menit kemudian, Nisa sudah selesai di rias. Kini mereka sedang memilih pakaian yang cocok dengan riasan simple tapi elegant itu. Setelah beberapa dress di keluarkan dari lemari, Aleta tertarik pada dress yang sejak tadi mengalihkan fokusnya.


Tanpa berlama-lama, dia meraih dress itu dan meminta Nisa untuk memakainya. Zainisa pun mengangguk dan segera memakainya. Sambil menunggu sahabatnya selesai memakai dress, dia merapikan make up yang cukup berantakan di meja rias.


"Ta, gimana penampilan gue?" tanya Nisa yang sudah berada di belakang Aleta.


Aleta menghentikan aktivitasnya, lalu di menatap ke arah Nisa dari pantulan cermin. Sejenak dia terdiam seraya menatap tajam ke arah Zainisa. Tatapannya begitu tajam dan menelisik tubuh Nisa, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah dirasa cukup bagus, ia pun mengacungkan kedua jempolnya disertai senyuman.


"Perfect! You're very beautiful."

__ADS_1


****


__ADS_2