
"Lo mau nebeng mobil baru gue, enggak?" Aleta menaik-turunkan alisnya.
"Ya mau lah, masa enggak. Gue 'kan pengen nyoba nebeng di mobil barunya bestie gue ini," jawab Nisa dengan cengengesan.
"Ya udah, ayo. Nanti setelah pulang kerja kita healing yuk, nyobain nyetir keliling kota, haha." Aleta tertawa.
"Gas lah, gue pasti ikut. Ayo, kita berangkat."
"Ayo." Aleta masuk mobil dari pintu kemudi.
****
Sesampainya di basement Albern Food, Aleta dan Nisa keluar dari mobilnya. Mereka berjalan sambil mengobrol memasuki kantor. Aleta yang setiap pagi selalu tebar pesona ini tentu saja selalu membuat semua karyawan Albern Food selalu terkesima karena saking cantik dan segarnya melihat penampilan Aleta.
Namun, kali ini berbeda dari biasanya. Semua karyawan menatap Aleta seraya saling berbisik. Mereka lebih kayak memicingkan matanya begitu melihat Aleta datang.
Aleta yang sejak awal selalu acuh akan keadaan sekitar, saat ini pun dia tidak begitu peduli pada keadaan saat ini. "Leta, mereka semua kenapa ya? Kok dia liatin lo sampe segitunya?" bisik Nisa.
"Hiraukan saja! Jangan pedulikan mereka!" timpal Aleta.
"Keknya ada sesuatu deh, Leta. Kalau enggak, ngapain mereka bisik-bisik kek gitu," ucap Nisa.
"Udah biarin aja, itu hak mereka mau ngapain juga. Kita jangan terpancing, masih ada hal penting yang harus kita kerjakan, ayo." Aleta menarik tangan Nisa dan membawanya pergi.
"Pantas saja langsung jadi sekretarisnya Pak Bobby dalam sekejap, taunya sugar baby atasannya sendiri. Mana berhasil lagi menjadi tunangannya Pak Bobby, beruntung banget ya gadis itu," sindir seorang wanita pada Aleta yang sedang berjalan melewatinya.
Seketika Aleta yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya, dia berbalik badan dan menghampiri wanita itu. "Atas dasar apa kau mengatakan semua itu? Apa kau punya buktinya jika aku tunangannya Pak Bobby?" Aleta menatap tajam wanita itu.
"Tentu saja, untuk apa aku mengatakan ini jika aku tidak memiliki buktinya? Kau dengar ini baik-baik!" Wanita itu memutar senjata rekaman suara.
Setelah Aleta dan Nisa selesai mendengarkan rekaman suara itu, alangkah terkejutnya mereka mendengar ungkapan Presdir Bobby yang mengakui jika Aleta adalah calon tunangannya. Mereka membelalakkan matanya dengan saling menatap satu sama lain. 'Siapa yang merekam suara Pak Bobby? Bagaimana semua orang tahu tentang ini?' batin Aleta bertanya-tanya.
"Tuh 'kan dugaan gue apa? Presdir Bobby itu naksir sama lo." Nisa menyenggol lengan Aleta seraya menggodanya.
"Lo itu ngomong sih? Semua itu tidak benar!" Aleta pergi meninggalkan wanita itu dan pergi toilet.
Begitu sampai di toilet, Aleta masuk dan duduk di closet. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung merogoh ponsel di tasnya. Dia menghubungi Presdir Bobby. Tak lama kemudian, teleponnya pun diangkat oleh Presdir Bobby.
__ADS_1
Telepon terhubung!
"Hallo, Pak," sapa Aleta dengan suara yang pelan begitu telepon tersambung.
"Iya, Leta. Ada apa?" tanya Presdir Bobby dari seberang telepon.
"Pak, di kantor ada masalah. Bagaimana jika berita ini tersebar ke media, saya takut,"
"Masalah apa? Katakan dengan jelas?"
"Tentang ungkapan Pak Bobby saat di depan Bu Cesya. Saya tidak tahu siapa yang telah merekamnya dan saya juga tidak tahu siapa yang telah menyebarkan rekaman itu. Sekarang apa yang harus saya lakukan, Pak?"
"Saya akan putar balik sekarang. Tunggu saya dan jangan lakukan apapun! Tutt!" Presdir Bobby Menutup teleponnya.
"Tapi, Pak. Hallo, hal--" ucapan Aleta terpotong karena teleponnya sudah dimatikan oleh Presdir Bobby.
Telepon terputus!
*****
"Ada apa, Pak? Apakah ada masalah?" tanya Hadwin dengan menatap Presdir Bobby dari pantulan cermin tengah.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang cepatlah balik ke kantor. Batalkan penerbangan hari ini!" perintah Bobby.
"Baik, Pak." Hadwin segera putar balik mobilnya.
"Tambah kecepatan mobilnya! Jangan sampai para wartawan datang ke kantor!"
Hadwin pun menambah kecepatan mobilnya. Kini kecepatannya sudah diatas rata-rata. Butuh sekitar 34 menit untuk sampai di kantor.
Presdir Bobby tak tinggal diam. Dia terus mencari informasi melalui ipadnya. Tak lama setelah dia menelusuri setiap artikel terbaru, dia berhasil menemukan sebuah artikel terbaru yang baru saja diunggah beberapa menit yang lalu.
Bobby yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, dia pun membuka artikel tersebut. Begitu dia membaca, ternyata artikel itu berisi sebuah gosip tentang dirinya dan Aleta. 'Mengenai pernyataan ini hanya ada satu orang yang wajib dicurigai! Dan itu adalah Cesya. Aku yakin jika dia lah dalang dari semua masalah ini!'
****
Albern Food ....
__ADS_1
Kini Presdir Bobby dan Hadwin telah sampai di kantor. Mereka turun dari mobil secara bersamaan. Namun, setelah mereka keluar dari mobil. Beberapa wartawan berlarian menghampiri Bobby dan Hadwin dengan megang microphone dan kameranya.
Mau tidak mau Bobby balik lagi memasuki mobilnya. Dia segera mengirim sebuah pesan kepada Aleta, sang sekretarisnya.
****
{Leta, kau minta bantuan temanmu agar kau bisa keluar dari kantor. Saat ini di luar sedang banyak wartawan. Saya tunggu kau di mobil!}.
Setelah Aleta membaca pesan dari bosnya, tanpa pikir panjang dia keluar dari toilet langsung mencari keberadaan Nisa. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Nisa sudah muncul di hadapannya. Aleta yang melihat itu, langsung memanggil temannya.
"Nisa! Sini!" panggil Aleta seraya melambaikan tangan.
Nisa yang merasa namanya terpanggil pun langsung menghampiri temannya. "Ada apa, Leta?"
"Ikut aku!" Aleta menarik tangan Nisa dan membawanya ke kamar mandi.
"Woiiy, lo mau ngapain? Kenapa ngajak gue ke mari?"
"Buka pakaianmu!"
"Apa? Lo enggak waras ya? Ngapain nyuruh gue buat buka pakaian gue?"
"Ish, lo ini! Mikirnya kejauhan! Maksud gue itu kita tukeran pakaian. Saat ini di luar kantor banyak wartawan dan supaya gue bisa terbebas dari wartawan itu, dengan cara gue jadi lo. Lagi lupa gue enggak punya banyak waktu, Pak Bobby sedang menunggu gue di mobil," jelas Aleta.
"Tapi, bukankah dia akan terbang ke London?"
"Iya, tadinya. Tapi, dia batalkan penerbangannya. Cepat, buka baju lo! Gue enggak bakalan liat kok."
"Ya udah iya, bentar!" Nisa segera membuka pakaiannya.
Begitupun dengan Aleta. Dia membuka pakaiannya dan menukarnya dengan pakaian temannya. Setelah beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar mandi dan keluar dari kantor dari pintu keluar yang berbeda.
Begitu Aleta keluar, dia menundukkan kepalanya dan berlari ke arah mobil bosnya. Sementara Nisa, dia langsung di serbu wartawan karena mereka mengira jika dia adalah Aleta, calon tunangan Presdir Bobby. Nisa melirik sedikit ke arah Aleta yang sudah berhasil masuk mobi.
Nisa memberikan kode dengan mengacungkan jempol, dan tak lama setelah itu, mobil Presdir Bobby pun pergi meninggalkan kantornya. Wartawan yang menyadari itu langsung mengejar mobil Presdir Bobby yang sudah melaju dengan cepat. Alhasil, mereka kehilangan mereka.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1