Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Pria Itu Hadwin


__ADS_3

"Hadwin," jawab Nisa dengan malu-malu kucing.


"Apa? Hadwin? CEO Albern Food?" Seketika bola mata Aleta langsung terbelalak dengan sempurna.


Nisa mengangguk meng-iyakan. "Tapi, gimana ceritanya lo bisa deket sama Pak Hadwin? Bukankah dia pria yang sangat tertutup dan dingin juga ya? Kok lo bisa ketemuan sama dia?" tanya Aleta dengan raut wajahnya yang keheranan.


Karena yang Aleta tahu, Hadwin itu adalah pria yang misterius. Dia cukup tertutup dan selalu menjaga jarak dengan wanita. Apalagi sikapnya yang dingin dan tak pernah tersenyum pada wanita.


"Awalnya gue juga kaget, gue enggak percaya jika pria dingin seperti Pak Hadwin deketin gue kek gini. Sekarang gue balikin deh pertanyaan lo itu. Gimana ceritanya lo bisa dapatin hati Pak Bobby dan dilamar oleh sang duren sawit idaman itu, heum? Dan gue denger-denger, lo mau merried ya sama Pak Bobby? Hayo, ngaku lo!" skak Nisa seraya menaik-turunkan alisnya dan menggoda sahabatnya.


Sontak, mendengar hal itu Aleta langsung tekejut. "Eh, lo tau dari mana kalau gue mau nikah sama Pak Bobby?" tanya Aleta dengan wajah yang bingung karena dia belum memberi tahu Nisa sama sekali perihal pernikahannya itu.


"Nyokap lo yang bilang sama gue, gua di suruh jadi pagar ayu nanti." Nisa terus menggoda Aleta dengan tatapan yang meledek.

__ADS_1


"Apaan sih lo, biasa aja kali tatapan lo," timpal Aleta dengan mengalihkan pandangannya.


"Ya gimana, gue seneng banget lah denger bestie gue mau soldout, gue terharu dan mikir, gue kapan ya dilamar sama Pak Hadwin, haha," kekeh Nisa.


"Yee, elu! Malah halu. Udah ah, gue mau pulang, udah malam ini. Gue capek mau istirahat." Aleta beranjak dari duduknya dan hendak melangkahkan kaki.


Namun, tangan kekar meraih tangan Aleta dan memegangnya. Melihat itu, Nisa hanya bisa melongo menatap pria yang memegang tangan sahabatnya. Tentu saja, melihat Nisa berekspresi seperti itu membuat Aleta langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah memegang tangannya.


"Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahuku terlebih dahulu? Apa kau marah padaku, Gadis cabai?" tanya Bobby dengan mendekatkan wajahnya untuk menggoda calon istrinya yang sedang merajuk itu.


"Haha, gadis cabai. Julukan itu memang cocok untukmu, Leta!" tiba-tiba Nisa ber celetuk disertai tawanya yang meledek.


Aleta hanya menatap tajam pada Nisa, menandakan jika dia sedang tidak ingin bercanda. Menyadari hal itu, seketika Nisa langsung membungkam mulutnya agar berhenti tertawa. "Pak Bobby, Leta aku pamit pulang dulu ya," ucap Nisa seraya beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Bobby pun mengangguk. Sedangkan, Aleta malah memanggil Nisa kembali. "Woiiy, Nisa! Tunggu!" panggil Aleta dengan nada yang tinggi.


Nisa yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh ke arah sahabatnya. "Iya, Leta."


"Lo pulang bareng gue aja ya," ajak Aleta dengan memberi kode lewat tatapannya.


Namun, karena Nisa merasa tidak enak pada Bobby, dia pun menggeleng kecil. "Sorry, Leta. Gue udah ada yang jemput. Lo 'kan ada Pak Bobby, lo pulang sama Pak Bobby aja. Ya 'kan, Pak," timpal Nisa seraya menoleh ke arah Bobby.


"Iya, Sayang. Kamu pulang sama aku aja ya. Ada hal yang ingin aku katakan sama kamu," tutur Bobby dengan penuh kelembutan.


'Aduh, mampus! Awas lo, Nisa!' Aleta menggerutu dalam hatinya sembari menatap tajam ke arah sahabatnya.


****

__ADS_1


__ADS_2