Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Mencari


__ADS_3

"Ta, apa maksud pesan ini?" tanya Nisa dengan menunjukkan pesan itu pada Aleta.


"Gue enggak tau, gue rasa gue harus tau sesuatu." Aleta berlari ke ruangan Bobby.


"Hei, Leta! Tunggu!" Nisa mengejar sahabatnya.


Aleta benar-benar panik, dia terus menekan tombol elevator yang tak kunjung terbuka pintu. Karena sudah tidak sabar lagi, dia pun terpaksa pakai tangga darurat. Dia berlari sekencang mungkin untuk sampai di ruangan kekasihnya.


Dia berlari dengan heels yang cukup tinggi, sehingga di tangga yang kesekian kakinya terkilir dan jatuh. Meski begitu, dia tetap bangun dan terus menaiki tangga. Setelah beberapa menit, dia pun akhirnya sampai di lantai di mana ruangan Bobby berada.


Dengan kaki yang sedikit diseret dan heels yang dipegang di tangan, dia memberanikan diri untuk masuk ke ruangan Bobby. Begitu pintu terbuka, alangkah terkejutnya dia, kekasih yang selama ini dia cintai sedang berduaan di ruangan. Dan wanita tak tahu diri itu adalah Cesya Dree, sang mantan istri.


Dengan susah payah dia berjalan untuk sampai di ruangan itu, Aleta justru melihat pemandangan yang membuat matanya sakit. Tanpa dia sadari, heels yang sedang dia pegang pun terlepas dari pegangannya dan terjatuh. Begitupun dengan martabak yang dia tenteng di tangan kiri.


"Mas Bobby!" pekik Aleta dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Leta?" Bobby terperanjat dari kursi kerjanya ketika melihat Aleta.


Cesya Dree yang tadinya sedang duduk dipangkuan Bobby langsung terjungkal, sehingga bokongnya mencium lantai. "Aduh, Mas! Sakit tau!" rengek Cesya dengan berusaha bangun.


Aleta tidak mengatakan apa pun. Hanya kekecewaan yang dia perlihatkan. Tanpa dia duga, kini air mata yang sangat berharga itu akhirnya menetes di pipinya.


"Jadi, ini alasan kamu tidak mengirimiku pesan. Jadi, benar ucapan Bu Cesya kalau Mas selalu menghabiskan malam bersamanya? Aku baru sadar sikap Mas yang selama ini tunjukkan padaku semua itu palsu? Hah ... aku tidak habis pikir, bagaimana bisa aku begitu percaya pada pria sepertimu! Seharusnya aku tidak mempercayaimu, Pak Bobby Albern!" ucap Aleta dengan penuh kemarahan.


Aleta menyeka air matanya dengan kasar. Dia langsung keluar dari ruangan Bobby dengan rasa kecewa, dan berderai air mata. Hatinya benar-benar hancur, bagaimana bisa calon suaminya sibuk berduaan dengan mantan istri ketika pernikahannya sendiri akan segera dilangsungkan. Apakah semua pria beruang selalu memperlakukan wanita seperti ini? Apakah dia tidak merasa puas dengan satu wanita saja? Benak Aleta semakin banyak pertanyaan yang tidak bisa dia jawab.


Dia kembali meneteskan air mata, mengingat apa yang dia lihat beberapa menit di ruangan calon suaminya. "Apa dia sedang mempermainkanku? Kenapa dia setega ini? Apa aku pantas menjadi pelampiasan seperti ini? Aarrgghh!" teriak Aleta karena frustasi.


****


Di sisi lain, Bobby dengan cekcok dengan Cesya. Dia benar-benar marah karena Aleta sudah salah paham padanya. Dengan kasar, Bobby menyeret Cesya dan menguncinya di dinding dengan kedua tangan kekarnya.

__ADS_1


"Apa ini tujuanmu datang ke sini? Apa kau ingin menghancurkan hubunganku dengan Leta, hah?" bentak Bobby dengan wajah yang merah padam karena marah.


"Iya! Aku ingin kalian berpisah! Aku ingin kalian gagal menikah! Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan wanita lain selain aku! Kau harus tahu, Mas ... aku masih sangat mencintaimu! Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu, menikahlah denganku lagi, Mas. Ayo kita perbaiki hubungan kita yang retak sebelumnya." Cesya menyentuh lembut wajah Bobby.


"Dasar murahan! Berani sekali kau menggodaku! Aku tidak akan pernah kembali padamu lagi! Penyesalanmu tidak akan mengubah apa pun termasuk hatiku! Aku hanya mencintai Aleta, dialah wanita yang tulus yang selama ini aku cari. Jangan pernah mengusik kehidupan istriku atau aku bisa bertindak kasar padamu!" Bobby menepis tangan Cesya dengan kasar.


Tanpa banyak basa basi lagi, dia berlari keluar ruangan untuk mengejar Aleta. Pada saat keluar ruangan, dia berpapasan dengan Nisa. Keduanya saling bertatapan.


"Apa kau tau ke mana Leta pergi?" tanya Bobby.


Nisa menggelengkan kepalanya. "Saya sedang mencari Leta juga, Pak."


"Ya sudah, kau cari Leta ke sana, dan aku akan cari Leta ke rooftop. Jika sudah bertemu dengan Leta, hubungi saya!"


"Baik, Pak." Nisa menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

__ADS_1


****


__ADS_2