
Aleta yang saat ini merasa gabut pun berniat untuk menjahili kekasihnya. Perlahan dia merebut ponselnya dari tangan Bobby, lalu berlari sekencang mungkin. Sontak Bobby mengejar Aleta untuk mengambil ponselnya.
"Rasain! Suruh siapa maen HP terus, kalau bisa ambil nih HP-nya!" Aleta menantang Bobby dengan sedikit menjulurkan lidahnya tanda meledek.
"Wah, nantangin nih." Bobby tersenyum dengan menambah kecepatan larinya.
Melihat itu, ya tentu si gadis cabai ini semakin kuat berlari sembari tertawa. Menurut dia ini sangat menghibur kegabutannya. Setelah berlari cukup jauh, tiba-tiba saja Aleta menghentikan lariannya dan menatap ke layar ponsel. Yup, saat ini ponsel Bobby terdering ada yang menelepon.
Aleta cukup terkejut ketika melihat nama si penelepon itu. Ternyata yang menghubungi Bobby adalah mantan istrinya. Karena penasaran, Aleta mengangkat teleponnya. Ia penasaran kenapa mantan istrinya sampai menghubungi Bobby kembali.
Telepon terhubung!
"Hallo, Sayang!" terdengar suara Cesya dari seberang telepon.
'Sayang? Dia memanggil calon suamiku dengan sebutan sayang? Apa aku tidak salah dengar?' Aleta membatin dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Mas, kenapa diam aja? Apa kamu malu bicara denganku setelah apa yang kita lakukan semalam?"
'Hah? Semalam mereka ngapain? Apa yang mereka lakukan?' Aleta kembali membatin seraya membalikkan badannya menatap ke arah Bobby yang masih berlari ke arahnya.
"Baiklah jika kamu malu, aku tidak akan membahasnya. Aku cuma mau bilang kalau aku sangat mencintaimu. Aku selalu ketagihan dengan caramu bermain. Aku selalu merasa terbang di udara saat kamu menyentuh setiap inci tubuhku. Lain kali kalau kamu butuh service hubungi aku saja. Bye, Bobby. Muach! Tutt!" Setelah bicara panjang lebar, Cesya akhirnya menutup obrolannya.
Telepon terputus!
"Ck. Menjijikan!" Aleta mengumpat dengan wajahnya yang sudah merah padam karena emosi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bobby dengan napas yang tersenggal-senggal.
"Loh, kok jawabannya gitu? Ada apa? Apa kamu gabut lagi? Mau lakuin sesuatu agar kamu enggak gabut lagi?" tawar Bobby dengan menaik-turunkan alisnya.
"Kamu mau tahu?" Aleta mendongak sembari melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
"Tentu saja."
"Kalau begitu, tanyakan saja pacar pantat love-mu!" Aleta memberikan ponselnya pada Bobby.
Dengan penuh rasa kesal Aleta kembali berlari meninggalkan Bobby. Sementara itu, sang duren sawit ini hanya tertawa ngakak mendengar ucapan konyol calon istrinya. Entah kenapa, dia semakin gemas melihat tingkah Aleta yang semakin hari semakin ada saja yang membuatnya tertawa ngakak.
"Pantat love apa? Wanita itu kalau lagi gabut menakutkan sekaligus lucu juga." Bobby masih tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perut.
Di sisi lain, Aleta semakin kesal. Dia tidak mengerti kenapa Bobby masih berhubungan dengan barang bekas seperti itu. Ia semakin mempercepat larinya, Aleta ingin segera sampai di rumahnya.
Melihat gadis cabainya itu berlari cukup cepat, membuat sang duren sawit kewalahan mengejarnya. Calon istri kecilnya ini benar-benar lincah. Dia layaknya anak kecil yang sedang aktif-aktifnya.
****
"Aku akan terus menerormu, gadis kampung! Aku tidak akan membiarkanmu bisa menikah dengan Bobby! Wanita yang pantas, menikah dengan Bobby hanya aku. Jika aku tidak bisa menikahinya maka wanita lain pun tidak bisa menikah dengannya!" Cesya menatap ke arah Aleta yang tengah berlari. Matanya menunjukkan kebencian yang begitu besar.
__ADS_1
Cesya menyeringai ke arah Aleta yang masih dikejar oleh Bobby. Tangannya seketika mengepal karena kesal. Saking kesalnya, Cesya membanting ponselnya sendiri.
****