Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Kebimbangan Aleta


__ADS_3

Di Albern Home ....


Saat ini Aleta berada di kamar tamu. Dia mengurung dirinya setelah mendengar ungkapan yang keluar dari mulut bosnya itu. Gadis cabai ini sedang berguling-guling di ranjangnya yang besar. Wajahnya merona setiap membayangkan ungkapan Presdir Bobby.


"Mungkinkah saat ini gue lagi mimpi? Masa iya Pak Bobby mau menjadikan sekretarisnya sebagai tunangannya? Enggak! Gue pasti mimpi ini!" Aleta menepis semua kenyataan yang telah terungkap jika bosnya telah menyukainya.


Untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan, Aleta terpaksa mencubit tangannya sendiri guna membuktikannya. "Aaww!" Aleta meringis pada saat dia menyubit lengannya sendiri.


"Sakit. Itu artinya ini kenyataan bukan mimpi. Jadi, selama ini aku salah satu wanita yang telah memikat hatinya? Haruskah aku berbangga diri? Haruskah aku kasih tau kabar ini pada sahabatku, Nisa? Mungkin dia memberiku solusi tentang masalah ini atau enggak saran sebelum aku menjawab kejujuran Pak Bobby?" gumam Aleta.


Aleta meraih ponsel yang berada di meja nakas. Dia berniat ingin memberi tahu temannya. Namun, pada saat dia hendak menghubungi nomor Nisa, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk. Aleta yang saat ini sedang menelepon Nisa langsung menaruh ponselnga di meja nakas dengan layar ponselnya yang dibawah. Sehingga tidak terlibat apakah telepon telah tersambung atau belum. Aleta beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu untuk membukanya.


"Pak Bobby?" panggil Aleta setelah pintu kamarnya terbuka. Yup, jadi yang datang ke kamarnya adalah bosnya.


"Boleh saya masuk?" tanya Bobby.


"Ya, Pak. Silakan, ini 'kan rumah Bapak sendiri," jawab Aleta seraya mempersilakan bosnya untuk masuk.


"Kau ini." Bobby tertawa kecil seraya mengelus kepala Aleta.


Aleta menatap ke arah Bobby yang sudah berjalan memasuki kamar. Dia memegang kepalanya sendiri yang barusan di Bobby elus. Tanpa gadis ini sadari, kini senyuman manis terlukis di bibirnya.


"Leta, kemarilah!" Bobby melambaikan tangan agar Aleta menghampirinya.

__ADS_1


Aleta segera menghampiri bosnya yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang. "Duduklah, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu." Bobby menepuk ranjang sebelahnya.


'Aduh, apalagi yang ingin pria bule ini bicarakan? Jangan sampai dia membicarakan soal pertunangan lagi. Aku terlalu gugup untuk menjawabnya,' batin Aleta berbicara.


"Leta!"


"Eh ... iya, Pak." Aleta langsung duduk di sebelah bosnya.


"Sebentar lagi aku akan pergi ke konferensi pers. Tapi, aku akan mengajakmu juga. Aku sudah memutuskan jika aku tidak akan mengelak pada gosip ini. Aku akan mempublikasikan tentang pertunangan kita," jelas Bobby dengan tatapan yang serius.


"Tapi, Pak? Saya belum menjawab tentang pertunangan ini. Saya belum siap untuk menemui media sekarang apalagi mengatakan tentang pertunangan ini. Apakah tidak ada cara lain untuk menangani masalah ini, Pak?" tanya Aleta.


"Tidak ada. Kita hanya memiliki cara ini untuk membungkam para netizen. Saya tidak ingin jika nama baikmu jatuh. Saya juga ingin menampar mantan istri saya dengan berita baik ini. Jadi, saya mohon ... pikirkan ini baik-baik! Pikirkan nasib keluargamu juga. Jika kau menolak ini maka kau akan terus dicap menjadi sugar baby saya. Hal itu akan melukai perasaan keluargamu. Semua keputusan ada padamu. Saya akan tunggu di bawah dalam 10 menit, jika kau tidak turun dalam waktu 10 menit berarti kau menolak cara ini! Pikirkan ini dengan baik!" Bobby beranjak dari duduknya dan pergi dari kamar Aleta.


Sementara itu, Aleta merasa sangat bimbang. Apa yang akan dia putuskan sekarang. Langkah apa yang akan dia ambil.


"Kenapa hidupku serumit ini sih? Bagaimana bisa aku bertunangan dengan bosku sendiri? Ini akan membuatku canggung," keluh Aleta disertai deru napasnya yang panjang.


'Gawat! Apa Nisa mendengar semua pembicaraan ini? Aah, bodoh sekali! Bagaimana aku bisa seceroboh ini,' Aleta merutuki dirinya sendiri dari dalam hatinya.


Telepon terhubung!


"Hallo, Nisa," ucap Aleta dengan nada yang pelan.


"Gue sudah dengar semuanya! Lo enggak udah ngelak lagi apalagi sampai nyembunyiin ini dari gue!" tegas Nisa di seberang telepon.


"Nis, gue bisa jelasin semuanya. Semua yang lo dengar itu tidak semuanya benar. Gue bisa jelasin semuanya sama lo," timpal Aleta.

__ADS_1


"Sudah, enggak usah mengelak! Gue dengar semuanya. Mending lo jujur deh sama gue, apa lo mau menjadi tunangannya Pak Bobby?" tanya Nisa.


"Gue bingung, Nisa. Gue benar-benar bimbang saat ini. Di satu sisi, gue enggak siap untuk tunangan secepat ini apalagi dengan bosku sendiri. Tapi di sisi lain, gue tidak ingin keluarga gue yang kena dampak dari masalah ini. Gue harus apa Nisa? Apa yang harus gue putuskan?"


"Begini deh, coba lo tanyakan pada Pak Bobby. Kenapa dia ingin menjadikanmu tunangannya? Apakah terpaksa karena masalah ini atau ada hal lain yang membuatnya ingin bertubangan denganmu?"


"Sebenarnya, Pak Bobby bilang ... kalau gue adalah wanita yang telah berhasil memikat hatinya. Menurut lo, apa ungkapan itu adalah ungkapan cinta atau hanya ungkapan kagum saja?" tanya Aleta yang Masih bingung dengan ungkapan bosnya.


"Wah ... lo serius, Pak Bobby ungkapin itu sama lo?" Nisa terdengar terkejut.


"Iya, dia bilang kek gitu. Gue belum menjawabnya, karena gue enggak tahu apa maksud perkataannya tadi," timpal Aleta.


"Itu sudah sangat jelas jika Pak Bobby telah jatuh cinta padamu. Sekarang gini, gue tanya sama lo ... bagaimana perasaan lo sama Pak Bobby? Apa lo suka atau tidak sama bosmu?" tanya Nisa.


"Gue enggak yakin apa gue suka atau tidak sama Pak Bobby. Gue enggak tahu perasaan suka ataupun jatuh cinta itu seperti apa. Selama ini gue belum pernah merasakan jatuh cinta,"


"Intinya gini, setiap lo sama Pak Bobby sedang bersama apa yang lo rasakan? Apakah jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya? Atau engga nama Pak Bobby selalu muncul dibenak lo dan apakah lo susah tidur karena selalu memikirkan bosmu? Katakan, apa yang sedang kau rasakan saat ini?"


"Jujur, gue selalu deg-degan jika gue sedang bersama Pak Bobby. Mungkin karena gue sedikit takut sama dia. Namun, terkadang ... gue juga merasa nyaman jika sedang mengobrol di luar jam kerja. Ternyata dugaan gue tentang Pak Bobby salah besar, Nis. Pak Bobby tidak seburuk apa yang gue kira. Ternyata dia sangat dewasa, mandiri dan terkadang dia lucu juga." Aleta tersenyum pada saat dia sedang membicarakan bosnya.


"Sudah gue tebak jika lo juga sudah jatuh cinta sama bos lo. Leta, tidak ada salahnya lo buat jalani hubungan dengan Pak Bobby. Gue yakin, Pak Bobby pria yang tulus."


"Jadi, maksud lo ... gue terima pertunangan ini?"


"Yup!''


"Ya udah, kalau begitu gue akan susul Pak Bobby sekarang. Gue tutup teleponnya. Bye, Bestie. Tutt!" Aleta memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


Telepon terputus!


BERSAMBUNG...


__ADS_2