Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Terlalu Over


__ADS_3

Pintu kembali terbuka, Hadwin mempersilakan bosnya untuk masuk. Bobby masuk dan berjalan menuju ruang tengah. Diikuti oleh Hadwin dari belakang. Tak lupa dia juga sudah menutup pintunya terlebih dahulu.


"Pak Bobby mau minum apa?" Hadwin bertanya mengenai minuman yang akan bosnya minum.


"Apa saja, Win. Kamu tidak perlu repot-repot," Bobby menjawab dengan santai.


"Sama sekali tidak, Pak. Saya ke pantry sebentar." Hadwin melangkahkan kakinya menuju pantry.


Sementara Bobby, dia hanya sibuk dengan ponselnya. Jemarinya sangat lihat menari di layar keyboard. Rupanya pria bermata biru ini tengah asyik chatting'an dengan kekasihnya.


{Si Nisa gimana? Apa kamu udah tau jawabannya? Mereka jadian 'kan?}


Bobby mengetik sebuah kalimat tanya dan mengirimkannya pada Aleta. Tak lama kemudian, pesan balasan dari kekasihnya sudah masuk. Bobby membaca pesannya.


{Gagal, Mas. Nisa menolak Pak Hadwin. Emot sedih}.


Dengan gerakan yang cepat, Bobby kembali membalas chat itu. {Hah? Seriusan kamu, Yang? Masa iya cowok sekeren Hadwin ditolak cewek? Emot bingung}.

__ADS_1


{Mana aku tau, Mas. Lebih baik tanyakan saja sama orangnya. Emot cemberut}.


{Gemesin deh. Ya udah nanti aku tanya sama Hadwin. Sudah dulu ya, aku masih ada urusan. Love you, Baby. Emot kiss}.


Dengan sedikit tertawa kecil, Bobby menaruh ponselnya di meja. Tak lama kemudian, Hadwin datang sengaja membawa dua cangkir teh hangat dan menaruhnya di meja. Sang CEO itu pun duduk berhadapan dengan atasannya.


"Silakan diminum tehnya, Pak." Hadwin mempersilakan bosnya untuk minum.


"Thanks, Win." Bobby mengambil secangkir teh yang ada di hadapannya dan meminum teh tersebut.


"Sama-sama, Pak." Hadwin mengangguk kecil disertai senyuman kecil.


Hadwin yang mendengar pertanyaan itu ya sontak langsung terbelalak sembari tersedak. "Uhuk! Uhuk! Ba-bapak tahu dari mana?" alih-alih menjawab, Hadwin malah balik bertanya.


"Kamu ini, bukan dijawab pertanyaan saya malah balik bertanya." Bobby menggelengkan kepadanya seraya menaruh secangkir teh itu di tempat semula.


"Maaf, Pak. Memang benar kalau saya nembak Nisa,"

__ADS_1


Mau tidak mau, suka tidak suka Hadwin pun menjawab pertanyaan Bobby dengan jujur. Dia heran, bagaimana bosnya bisa tahu perihal dia nembak bawahannya itu. Agar hatinya tenang, pria itu menghabiskan teh hangat buatannya itu.


"Kalian sudah jadian sekarang?"


"Jadian apanya, Pak? Jadi-jadian yang ada," timpal Hadwin dengan memasang wajah yang malu.


"Apa maksudmu, Win? Kalau bicara itu yang jelas."


Bobby ingin sekali tertawa. Sejujurnya dia sudah tahu kalau temannya ini sedang patah hati karena ditolak. Tapi, disatu sisi dia ingin tahu respon dari Hadwin.


"Saya ditolak," jawab Hadwin dengan nada yang pelan.


"Seriusan kamu, Win? Ah, masa iya cowok populer di kantor bisa ditolak sama cewek mana bawahannya pula," kekeh Bobby.


Dia menertawakan raut wajah Hadwin yang terlihat sedang menahan malu. Sementara itu, Hadwin ingin rasanya menghilang saat ini juga. Dia benar-benar malu dengan yang namanya cinta ditolak, karena menurutnya ini aib.


"Ya mungkin saya bukan tipe cowok yang ideal kali, Pak. Atau bisa saja si Nisa merasa insecure dengan saya," celetuk Hadwin tanpa difilter terlebih dahulu ucapannya.

__ADS_1


"Ini nih, ini yang buat Nisa nolak cinta kamu, Win. Kamu ini over percaya diri! Kurang-kurangi bersikap seperti ini. Belajar jadi pria yang lembut, peka dan pengertian dengan begitu Nisa akan menerima cintamu. Percaya deh sama saya," Bobby memberi saran pada Hadwin dengan sedikit menaik-turunkan alisnya.


****


__ADS_2