
"Ayah, Ibu. Ini ada kiriman pizza dari Mas Bobby," Aleta memanggil ayah dan ibunya.
Tak lama kemudian, ayah dan ibunya pun datang. Mereka berjalan menghampiri Aleta yang tengah berdiri di dekat sofa. "Terus Nak Bobby-nya mana?" tanya Devica pada putrinya.
"Udah pulang, dia merajuk sama Leta, Bu," jawab Aleta secara terang-terangan. Kemudian dia menaruh dua box besar pizza untuk orang tuanya di meja.
"Merajuk kenapa?" tanya Elvaro pada putrinya.
"Masa cuma karena Leta kalah taruhan Mas Bobby nagih janji Leta untuk cium dia sepuluh kali. Ya Leta tolak aja, karena Leta enggak mau," jelas Aleta dengan polosnya.
Mendengar penjelasan putrinya, sontak Elvaro dengan istrinya, saling menatap satu sama lain. "Apa sejak awal kamu menyetujui taruhannya?" tanya Devica yang saat ini sudah duduk bersebelahan dengan suaminya.
Aleta mengangguk pelan. "Iya, Bu. Leta pikir Leta akan menang makanya Leta setuju aja. Eh taunya Leta yang kalah dan harus menciumnya sebanyak sepuluh kali. Dan sekarang Mas Bobby sedang merajuk," jawab Aleta tanpa dosa.
"Tentu saja dia merajuk karena kamu tidak menepati janjinya makanya lain kali kalau mau bertaruhan dipikir dulu. Sudah, sekarang kami istirahat gih," timpal Devica sembari menahan tawa.
"Iya, Leta ke kamar dulu ya. Ayah sama Ibu habiskan pizza-nya. Selamat malam," ucap Aketa sambil membalikkan badan.
"Malam, Sayang," jawab Devica dan Elvaro secara bersamaan.
Setelah melihat putrinya pergi, mereka pun tertawa terbahak-bahak menertawakan kepolosan Aleta. "Sepertinya kepolosan Aleta menurun dari dirimu, Sayang," ledek Elvaro pada istrinya.
__ADS_1
"Haha, apakah dulu aku juga polos sepertinya? Dengan polosnya dia menceritakan semua itu pada kita. Jangan sampai pas malam pertama nanti dia menceritakan pada kita lagi," kekeh Devica sambil memegangi perutnya.
"Jangan sampai itu, Bu. Bisa malu nanti menantu kita," Elvaro turut tertawa.
"Seharusnya dari awal kita beri tahu Nak Bobby tentang sikap randomnya putri kita. Enggak kebayang gimana kesal dan malunya kalau Aleta sedng kumat."
"Hush! Ibu ini, sama anak sendiri kok diledekin seperti itu. Sudah, jangan ledekin putri ayah seperti itu. Lebih baik kita dinner." Elvaro menaik-turunkan alisnya.
"Masa iya dinner di rumah, enggak asik lah, Yah."
"Ya, tadinya 'kan Ayah mau ngajak Ibu makan malam di luar tapi berhubung menantu kita bawain makanan ya udah kita dinner di sini aja," kekeh Elvaro.
****
Ceklek!
Aleta membuka pintu kamarnya, lalu dia masuk dengan menenteng kantong plastik berisi pizza. Setelah berada di kamar, ia kembali menutup pintu dan berjalan menuju sofa yang tak jauh dari ranjang.
"Sa, lo udah tidur?" tanya Aleta yang melihat Nisa sedang terbaring di ranjang membelakanginya.
"Belum, Ta. Lo ngapain aja sih di bawah? Lama amat, kalian kissing dulu?" celetuk Nisa sembari beranjak dari ranjangnya.
__ADS_1
"Sembarangan, siapa yang kissing."
"Lah, bukannya tadi lo bilang lo kalah taruhan? Pak Bobby pasti nagih janji lo,"
"Iya, dia nagih tapi gue tolak."
"Lah terus? Dia enggak marah lo enggak menepati janjinya?" tanya Nisa dengan memasang wajah penasaran.
"Enggak marah dari mana? Justru dia merajuk makanya langsung pulang," jawab Aleta dengan wajah bete.
Kemudian dia menaruh pizza di atas meja dan duduk berhadapan dengan sahabatnya. "Gimana marahnya laki lo? Nyeremin enggak?"
"Sumpah ya, Sa ... gue belum pernah liat sikap Mas Bobby yang seperti ini. Walaupun dia masih bicara sama gue, tapi sikap dinginnya itu buat gue takut. Dari matanya saja udah nyeremin. Gimana kalau dibentak ih, jangan sampai deh. Lo tau, Sa ... sekarang gue takut." Aleta menatap serius Zainisa.
"Takut kenapa?"
"Gue takut pas malam pertama gue nanti," celetuk Aleta tanpa rasa malu sedikitpun.
"Astaga, Leta! Lo enggak malu apa bahasa kek beginian sama gue? Gue masih polos Aleta, jangan kau buat gue jadi enggak polos lagi!" protes Nisa seraya menutup kedua telinganya.
****
__ADS_1