
Bobby yang melihat Aleta sudah berada di hadapannya pun langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri calon istrinya. "Sayang, kamu cantik banget." Bobby memegang kedua tangan Aleta dan menatapnya dengan lekat.
Aleta langsung melirik ke sana ke mari, dia menyadari jika orang gua mereka dengan memperhatikan tingkah Bobby. "Ekhem!" Aleta berdehem untuk menyadarkan Bobby jika saat ini orang tuanya sedang memperhatikan mereka.
Seketika Bobby langsung melepaskan tangan Aleta dan menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Sementara itu, orang tua mereka hanya terkekeh melihat tingkah Bobby. Begitu pun dengan Aleta, dia tertawa kecil melihat tingkah suaminya.
"Ayo, Nak. Kita duduk," ajak Devica pada Bobby dan Aleta.
"Iya, Bu." Bobby mengangguk dan berjalan bersama Aleta dan juga calon ibu mertuanya menuju sofa.
Aleta duduk di sebelah Ibu dan Ayahnya. Begitu pun dengan Bobby, dia duduk di sebelah orang tuanya dan saling berhadapan dengan Aleta serta orang tuanya. Saat ini Aleta benar-benar merona karena dia malu berhadapan dengan orang tua calon suaminya.
__ADS_1
"Silahkan dicicipi hidangannya, Pak-Bu," tutur Devica dengan penuh kesopanan dan ramah tamahnya.
"Baik, Bu. Terima kasih telah menyiapkan hidangan semewah dan seenak ini. Kami akan cicipi," timpal Ellena dengan bahasa Indonesia yang kurang begitu lancar. Dia melemparkan senyuman pada Devica.
"Oh iya, Bu. Perkenalkan ini Mommy saya Ellena, dan ini Daddy saya Allard." Bobby tersenyum sembari memperkenalkan orang tuanya pada orang tua Aleta.
"Iya, Nak Bobby." Devica tersenyum. "Saya Devica dan ini suami saya Elvaro." Devica mengulurkan tangan pada Ellena dan Allard.
"Saya Allard." Allard pun berkenalan dengan orang tua Aleta. Begitu pun dengan Elvaro.
Sebelum mereka bicara ke hal yang lebih serius, sejenak mereka mengobrol santai sambil mencicipi hidangannya. Setelah beberapa menit kemudian, Allard pun membenarkan posisi duduknya. Dia sudah bersiap untuk membahas mengenai hubungan putranya.
__ADS_1
"Pak El, Bu Devi ... sebelumnya saya ingin menjelaskan kedatangan kami ke mari untuk melamar putri Pak El dan Bu Devi." Pak El menjelaskan maksud kedatangannya.
"Apa yang diucapkan suami saya benar, Bu Devi. Kami ingin melamar putri Ibu, Aleta. Putra saya Bobby sangat menyayangi Aleta dan dia ingin meminang putri anda. Tapi, sebelum itu ... kami ingin memberi tahu jika putra kami itu seorang Duda. Apakah Ibu Devi dan Pak El merestui hubungan Aleta dan Bobby?" Ellena menatap serius ke arah Aleta dan orang tuanya.
"Kami tidak keberatan dengan status Nak Bobby. Bagi kami, Nak Bobby ini pria yang baik, kami yakin jika Aleta akan hidup bahagia dengan putri anda. Sebelumnya saya juga ingin memberi tahu jika putri kami Aleta adalah orang yang sederhana. Kami tidak memiliki apa-apa. Status keluarga kami sangat berbeda dengan keluarga Nak Bobby. Apakah Pak Allard dan Bu Ellena tidak keberatan memiliki menantu yang berasal dari keluarga sederhana?" jelas Elvaro.
"Jangan bicara seperti itu, Pak. Kami semua sama di mata Tuhan. Kami tidak pernah memandang status. Yang kami inginkan adalah seorang menantu yang bisa menjadi istri yang patuh dan juga menyayangi putra kami dengan tulus. Dan kami yakin jika Aleta adalah menantu yang selama ini kami cari, benar 'kan Mom?" Allard menoleh ke arah istrinya.
"Suamiku benar. Yang terpenting kami sangat menyukai putri anda. Kami ingin menyampaikan maksud kami yang sebenarnya jika kami ingin melamar Aleta untuk putra Kami Bobby dan juga bagian dari keluarga kami. Jika Pak El dan Bu Devi tidak keberatan, kami ingin pernikahan putra putri kami diselenggarakan 3 bulan lagi, bagaiamana?" jelas Ellena.
"Tiga bulan?" Aleta langsung mengangkat wajahnya dan matanya membelalak dengan sempurna.
__ADS_1
****