
Beberapa hari kemudian ....
Saat ini Aleta tengah menyetir, dia hendak pergi ke rumah orang tuanya di salah satu perumahan elite yang Bobby belikan. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada yang meneleponnya. Penelepon itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bobby Albern.
Dengan cepat, Aleta menepikan dan langsung mematikan mesin mobilnya. Kemudian dia mengangkat teleponnya. Sebelum dia bicara, dia menempelkan ponsel di telinga kanannya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Mas," ucap Aleta setelah telepon tersambung.
"Iya, hallo, Leta. Kamu lagi di mana?" tanya Bobby dari seberang telepon.
"Leta lagi di jalan menuju rumah Mama, Mas. Ada apa?" tanya Aleta.
"Aku sedang di bandara menuju rumahku. Nanti malam aku akan menemui orang tuamu bersama orang tuaku. Apa kamu siap, Sayang?" goda Bobby.
"Aku selalu siap, Mas. Aku akan siapkan hidangan seenak dan semewah mungkin untuk menyambut kedatangan orang tua Mas. Oh iya, apa Mas mau Leta jemput? Kebetulan Leta lagi di jalan," tawar Aleta.
"Tidak perlu, Sayang. Hadwin akan menjemputku dan juga keluargaku. Sekarang dia sedang di jalan. Kalau begitu, aku tutup teleponnya. Kamu hati-hati di jalannya, kabari aku jika kamu sudah sampai di rumah," ujar Bobby.
__ADS_1
"Baiklah, Mas hati-hati di jalannya. Mas jangan khawatir, Leta akan selalu ngabarin Mas. Sampai ketemu nanti malam, Sayang," timpal Aleta.
"Iya, Sayang. Sampai ketemu nanti malam. Bye, muach. Tutt!" Bobby mencium virtual Aleta sebelum akhirnya menutup teleponnya.
Telepon terputus!
Setelah telepon berakhir, Aleta pun kembali menghidupkan mesin mobilnya. Dia mulai menancapkan pedal gas dan tak lama kemudian mobil pun melaju. Gadis ini melaju dengan kecepatan sedang ke arah rumahnya.
Tak lama kemudian, Aleta sampai di kediamannya dalam waktu beberapa menit. Dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah, setelah itu Aleta keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya. "Ayah, Ibu! Aleta pulang," ucap Aleta begitu memasuki rumahnya.
"Sayang, kamu sudah pulang. Sini, Nak." Devica melambaikan tangan pada putrinya.
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa, lagian Nisa sudah memberi tahu Ibu kemarin malam. Oh iya, kok hari ini kamu tidak masuk kerja? Apa kamu sakit?" tanya Devica sembari menempelkan telapak tangan di kening putrinya.
"Tidak, Bu. Aleta tidak sakit, hari ini Aleta sedang cuti," jawab Aleta.
"Cuti? Loh, kenapa?"
"Karena ini permintaan Mas Bobby. Mas Bobby ingin Leta bersiap-siap," jawab Aleta dengan senyuman yang manis.
__ADS_1
"Bersiap-siap? Kamu mau pergi ke mana?" tanya Devica dengan menatap tajam putrinya.
"Ibu, malam ini Mas Bobby dan orang tuanya akan datang ke rumah dan melamar Aleta. Itulah, kenapa Leta disuruh libur kerja," jelas Aleta.
"Apa? Orang tua Bobby akan datang?" Devica membulatkan matanya dengan sempurna.
"Iya, Bu. Loh kenapa ekspresi Ibu seperti ini? Apa Ibu tidak senang jika putrinya dilamar?" tanya Aleta dengan memperhatikan ekspresi ibunya.
"Tidak, bukan begitu, Nak. Kenapa kamu baru memberi tahu kami sekarang? Kenapa tidak memberi tahu kami dari tadi? Kamu tahu, kami bisa mempersiapkannya sejak tadi," timpal Devica.
"Maafin Leta, Bu. Mas Bobby memberi tahuku juga seara mendadak. Saat ini mereka sedang di bandara. Bagaimana jika sekarang kita bersiap-siap sekarang? Kita harus menghidangkan makanan yang mewah untuk kedatangan Mas Bobby dan juga keluarganya."
"Ide bagus, ayo tunggu apa lagi? Ayo kita mulai bersiap-siap," ajak Devica.
Aleta mengangguk. "Ayah, kami ke dapur dulu ya, kami akan bersiap-siap sekarang," ucap Aleta pada ayahnya.
Dibalas anggukan kecil oleh ayahnya. Melihat hal itu, mereka pun berjalan ke arah dapur. Mereka akan membuat berbagai hidangan enak untuk Bobby dan juga keluarnya.
****
__ADS_1