
"Ayo, Sayang." Bobby merangkul dan membawa Aleta ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Aleta mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesampainya di mobil, Bobby segera membuka pintu mobil penumpang bagian depan. "Silakan masuk, Sayang." Bobby tersenyum lembut pada calon istrinya.
"Sekali lagi, Aleta hanya mengangguk sembari memasuki mobil.
Setelah itu, Bobby menutup pintu mobilnya. Kemudian dia mengitari mobil dan segera masuk lewat pintu kemudi. Tanpa membuang waktu, Bobby langsung melajukan mobilnya.
Saat ini di dalam mobil sangat hening tanpa ada pembicaraan. Aleta hanya asyik menatap jalanan dari kaca jendela mobilnya. Sementara itu, Bobby fokus menyetir sesekali menoleh ke arah calon istrinya.
Bobby yang merasa tidak tahan lagi dengan keheningan ini, dia pun langsung memulai pembicaraan dan memecah keheningan diantara mereka. "Sayang," panggil Bobby dengan lembut.
Mau tidak mau, Aleta yang saat ini sedang kesal pun langsung menoleh ke arah calon suaminya. "Iya, Mas," jawab Aleta dengan suara yang bete.
__ADS_1
"Kamu masih marah?" tanya Bobby sambil sesekali menatap calon istrinya.
"Enggak kok, kenapa aku harus marah sama Mas," timpal Aleta dengan memutar bola matanya malas.
"Kamu berbohong, Leta. Aku tahu kamu sedang marah, kalau kamu tidak marah ... terus kenapa kamu pulang tanpa memberi tahuku terlebih dahulu? Bagaimana jika terjadi sesuatu sama kamu di jalan? Aku akan sangat merasa bersalah nantinya," jelas Bobby.
"Sudahlah, Mas. Jangan pikirkan itu, itu hanya pemikiran Mas saja. Tadi, Leta mau bilang sama Mas, akan tetapi aku tidak enak mengganggu pembicaraan kalian. Lagi pula aku ini sudah besar, aku bukan anak kecil lagi yang harus dikhawatirkan seperti ini. Aku sudah terbiasa pulang sendiri sejak aku kecil," timpal Aleta dengan nada yang ketus.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa bicara seperti itu. Kamu harus ingat aku ini calon suamimu, wajar saja jika aku khawatir. Kamu jangan lupa jika kamu ini akan menjadi istriku, aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu." Bobby menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya.
"Aku mau jelasin sesuatu," ujar Bobby.
"Ya udah, jelasin aja kenapa harus meminta izin terlebih dahulu. Aku ini hanya bawahan murahanmu saja, Mas," celetuk Aleta dengan hati yang berkobar amarah mengingat hinaan yang dilontarkan Cesya, mantan istrinya Bobby.
__ADS_1
"Apa kamu mendengar pembicaraan kami tadi?" Bobby kembali bertanya lagi pada Aleta.
"Ck. Untuk apa aku mendengar pembicaraan kalian. Ingatlah aku ini, Leta. Aku bukan ibu-ibu julid dan rempong yang suka menguping!" tegas Aleta yang semakin kesal.
Mendengar hal itu, Bobby pun jadi sedikit tertawa. Bagaimana tidak, tingkah Aleta ini benar-benar random dan kocak. "Menggemaskan!" Bobby mencubit pelan kedua pipi Aleta.
"Sakit, Mas! Jangan cubit aku seperti itu! Aku bukan bayi," jawab Aleta dengan mengerucutkan bibirnya.
Muach!
Tanpa Aleta duga, Bobby mengecup bibir Aleta dengan secepat kilat. Alhasil, dia mendapatkan serangan lagi dari calon suaminya. "Ih, atasan mesum! Cari-cari kesempatan dalam kesempitan!" celetuk Aleta sembari mengusap bibirnya.
"Enggak apa-apa kamu ejek aku seperti itu. Yang penting aku mesumnya itu sama calon istriku saja. Lampiaskan semua kekesalanmu itu, Sayang. Hina aku sepuasmu agar kamu merasa lega dan lebih baik," timpal Bobby dengan senyuman yang tulus.
__ADS_1
"Cowok aneh!" celetuk Aleta sembari mengalihkan pandangannya.
****