
Hadwin yang sedang posisi duduk di kursi kerjanya pun kembali teringat akan saran dari Bobby. Sejenak dia menghentikan pekerjaannya sembari melepas kaca mata anti radiasi yang dia pakai saat bekerja. Pria itu meraih ponsel di sebelah kanan.
"Apa aku telepon aja Nisa dan bilang untuk mempertimbangkan jawabannya? Tapi, kalau dia masih marah gimana?"
Hadwin kebingungan antara harus menelepon Nisa atau tidak. Di satu sisi dia ingin menghubunginya akan tetapi dia takut mengganggu waktu istirahatnya Zainisa. Sehingga Hadwin hanya menatap layar ponselnya dengan wajah yang bingung.
Sementara di sisi lain, Zainisa sedang berdiri di balkon kamar sahabatnya. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit yang cukup terang dengan sinar bulan dan juga bintang-bintang. Sesekali dia tersenyum dengan helaan napas yang cukup panjang.
"Apa Kak Hadwin sungguh-sungguh menyukaiku atau cuma sebatas memerlukan status aja?"
"Itu sudah pasti, jika tidak menyukaimu mana mungkin menyatakan perasaannya," sahut seseorang dari belakang Nisa.
Sontak Nisa yang mendengar sahutan itu langsung menoleh ke belakang. "Leta, sejak kapan lo berdiam diri di situ?" tanya Nisa pada sahabatnya.
Ternyata orang yang tiba-tiba menyahut itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aleta. "Sejak lo lagi liatin bintang," jawab Aleta.
Dia berjalan menghampiri Nisa yang tetap setia di posisinya. Aleta menepuk pelan bahu sahabatnya disertai senyuman. "Ta, gue bingung ... menurut lo, Pak Hadwin beneran suka enggak sih sama gue?" Nisa menatap Aleta dengan wajah yang kebingungan.
__ADS_1
"Tentu saja, kalau enggak suka ngapain dia nembak lo tadi? Lagian lo ih ini kenapa sih? Udah tau lo itu suka sama Pak Hadwin tapi sok-sok'an nolak. Jadi nyesel 'kan sekarang," celetuk Aleta.
"Gue enggak nyesel, lagian mana ada cewek yang bisa jawab secepat itu apalagi soal perasaan."
Drrtt! Drrtt!
Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari Hadwin. Dengan cepat Nisa membuka pesannya di hadapan Aleta. {Sa, aku mau bicara sesuatu. Jika kamu baca pesanku maka hubungi aku}.
Kedua mata Zainisa membelalak dengan sempurna setelah membaca isi pesan tersebut. Kini tatapannya beralih ke arah sahabatnya. "Siapa? Apa itu Pak Hadwin?" tebak Aleta dengan raut yang penasaran.
Nisa mengangguk cepat. "Iya nih, Ta. Gimana ya?"
"Dia bilang ada yang mau dibicarakan dan dia nyuruh gue buat nelepon. Menurut lo gimana?"
"Eum ... mending lo telepon aja deh soalnya gue yakin Pak Hadwin mau bicara hal penting."
"Ya udah deh gue telepon dia. Bisa lo tinggalin gue bentar?" Nisa mengedip-ngedipkan matanya.
__ADS_1
"Okay, good luck buat hubungan lo sama Pak Hadwin." Aleta menaik-turunkan alisnya.
"Haha, bisa aja lo."
Aleta membalikkan badan dan pergi meninggalkan sahabatnya. Sementara itu, Nisa mulai menghubungi Pak Hadwin sesuai pesan dari bosnya. Tak membutuhkan waktu lama, Pak Hadwin langsung mengangkat teleponnya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Pak. Selamat malam," sapa Nisa setelah telepon terhubung.
"Halo, Ta. Selamat malam juga," Hadwin balik menyapa Nisa dari seberang telepon.
"Ada apa ya, Pak? Kenapa meminta saya untuk menghubungi Bapak? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Nisa to the point.
"Begini, sebelumnya saya ingin meminta maaf. Saya tidak bermaksud untuk membuatmu bimbang. Sejujurnya aku memang menyukaimu dan aku ingin menjalin hubungan denganmu. Kamu tidak perlu khawatir, karena aku akan sabar menunggu jawabanmu."
"Pak, bagaimana jika kita bicarakan ini secara langsung? Rasanya aneh jika menyatakan perasaan hanya di telepon. Aku ingin Bapak membuktikan kalau Pak Hadwin bersungguh-sungguh menyukaiku. Aku ingin bukti bukan sekedar ucapan saja. Bapak pasti paham maksud Nisa."
__ADS_1
****