
"Mm-menikah?" Nisa gelagapan karena kaget. Kini bola matanya membulat dengan sempurna.
"Ya. Aku ingin menikahimu, Sa. Aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu. Jika kamu bersedia menikah denganku, ambilah cincin ini. Tapi, jika kamu menolak maka ambil lalu buang cincin ini di depanku," ujar Hadwin dengan tatapan yang serius.
Dengan jantungnya yang terus berdebar, Nisa memberanikan diri untuk maju satu satu. Perlahan tangan kanannya mengambil cincin itu dan menatapnya sejenak. Melihat itu, jantung Hadwin turut berdegup kencang. Dia merasa sedikit takut kalau Nisa akan menolaknya lagi.
Setelah yakin dengan keputusannya, Nisa pun menyodorkan cincin itu pada Hadwin. "Kak, aku mau menikah denganmu. Tapi--"
"Tapi apa? Apakah ada syaratnya?" Hadwin yang saat ini tengah tertunduk, seketika mengangkat wajahnya dan menatap Nisa.
"Apakah aku sendiri harus menyematkan cincin ini di jariku sendiri? Apakah Kakak tidak akan menyematkannya untukku?" Nisa tersenyum manis pada Hadwin.
Seketika bola mata Hadwin langsung terbelalak. Dia berdiri dan menatap lekat Nisa. "Apa ini tandanya kamu--"
"Ya, Kakak. Aku mau menikah denganmu. Sejujurnya aku sudah jatuh cinta pada saat aku bekerja di Albern food," sambung Nisa.
"Bodoh! Jika kamu mencintaiku, kenapa tidak bilang sejak awal?"
"Kakak ini, masa iya cewek yang harus menyatakan perasaannya? Malu lah, Kak."
"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang aku sudah mengetahui perasaanmu dan begitupun sebaliknya. Mulai saat ini, kamu menjadi milikku, aku akan menemui keluargamu setelah pernikahan Pak Bobby, bagaimana?" tanya Hadwin.
__ADS_1
"Kakak, pasangkan dulu cincinnya setelah itu baru bicara lebih lanjut. Peka lah sedikit," omel Nisa.
Mendengar itu Hadwin langsung tertawa. Rupanya dia lupa kalau dia belum menyematkan cincin di jari Nisa. Dengan cepat dia langsung menyematkan cincin di jari Nisa.
"Maaf, Sayang. Aku kelupaan, habisnya aku terlalu bersemangat untuk membicarakan pernikahan kita," timpal Hadwin dengan tawa kecilnya.
"Kakak ini, bisa-bisanya lupa." Nisa menepuk jidatnya sendiri.
****
Malam hari ...
"Leta!" panggil Nisa yang tiba-tiba berlari memasuki kamar Aleta dan langsung memeluk sahabatnya.
"Sa, lo kenapa? Tiba-tiba datang dan maen peluk aja? Jangan bilang kalau lo patah hati lagi?" tebak Aleta seraya menatap ke arah Nisa dari pantulan cermin.
"Yee, sembarangan! Apa wajah gue terlihat kek lagi patah hati emang?" alih-alih menjawab, Nisa malah mengomeli sahabatnya.
"Enggak sih. Terus lo kenapa tiba-tiba datang dan meluk gue?"
"Kak Hadwin ngelamar gue, Ta."
__ADS_1
"Apa? Ngelamar?" Aleta tercengang mendengar jawaban Nisa. Kedua bola matanya membulat seakan-akan hendak melompat dari tempatnya.
Nisa menganggukkan kepalanya. "Yup, dia ngelamar gue. Dan lo lihat cincin ini, cantik 'kan." Nisa memperlihatkan cincin yang tersemat di jarinya.
"Wah, cantik banget, Sa. Cincin itu cocok dipakai sama lo," Aleta memuji Nisa sembari menatap ke arah cincinnya.
"Dan lo tau, Ta ... setelah lo merried sama Pak Bobby, Kak Hadwin mau menemui keluargaku. Dia ingin membicarakan perihal pernikahan," jelas Nisa dengan tatapan yang berkaca-kaca karena begitu terharu.
"Seriusan? Ya, bagus dong. Itu artinya sebentar lagi lo akan soldout juga, hehe," celetuk Aleta disertai cengengesan.
"Soldout, lo kira gue barang apa," sewot Nisa.
"Yee, 'kan lo sendiri yang pertama ngatain gue kek gitu," kekeh Aleta.
"Haha, iya juga ya." Nisa turut tertawa.
Tiba-tiba Aleta teringat akan taruhan dengan calon suaminya. 'Mampus, jika gue kalah taruhan ... gue harus cium Mas Bobby 10 kali,' Aleta bermonolog dalam lamunannya.
"Tidak!" Aleta berteriak sampai Nisa terlonjak kaget mendengar teriakan sahabatnya.
****
__ADS_1