
"Benar, Sayang. Kami ingin Leta menikah dengan putra Kami Bobby 3 bulan lagi. Apakah Leta bersedia menerima lamaran ini?" tanya Ellena dengan penuh kelembutan.
Glek!
Aleta menelan salivanya mendengar pertanyaan dari calon ibu mertuanya. Sebenarnya dia tidak merasa keberatan jika pernikahannya dipercepat. Akan tetapi, dia kebingungan menyampaikan jawabannya karena saat ini dia sedang gugup dan salah tingkah.
Melihat itu, Devica menyentuh tangan putrinya dan menatapnya dengan lekat. "Sayang, kenapa diam saja? Bu Ellena sedang bertanya padamu." Devica menyentuh wajah putrinya.
Aleta pun tersadar, dia menoleh ke arah ibunya. "Eh, iya. Bu," ucap Aleta dengan senyumannya yang membuat semua orang terkekeh melihat tingkah gadis ini yang begitu menggemaskan.
"Kamu ini." Elvaro menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya.
"Kamu mikirin apa, Nak?" tanya Allard pada calon menantunya.
"Hehe ... anu Om, Leta sedang memikirkan jawaban tentang pertanyaan Tante Ellena. Leta bingung mau menjawabnya apa," jawab Aleta secara terang-terangan dan memperlihatkan kepolosannya.
"Astaga, kau terlalu jujur, Sayang." Bobby terkekeh mendengar jawaban calon istrinya.
__ADS_1
Seketika semua yang mendengarnya langsung ikut tertawa kecil. Sementara itu, Aleta hanya tersenyum bingung. Dia tidak merasa ada yang lucu dari jawabannya. Padahal dia menjawab sesuai dengan apa yang ingin dia katakan.
"Begini saja, biar calon menantuku ini tidak bingung. Tante tanya sekali lagi. Apakah Leta bersedia menikah dengan Bobby dalam waktu 3 bulan lagi?" tanya Ellena sekali lagi.
Aleta lagi-lagi tercekat dengan pertanyaan calon ibu mertuanya. Dia meremas kedua jemarinya. Dia terlihat sangat gugup, sehingga dia pun hanya bisa menjawab pertanyaan Ellena dengan anggukan saja yang disertai senyuman kecil.
"Apa ini artinya, Sayang?" pancing Bobby dengan sedikit menaik-turunkan alisnya.
"Iya, Leta bersedia. Leta menerima lamaran darimu, Mas. Leta bersedia menikah dengan Mas Bobby," jawab Aleta dengan wajahnya yang merona bak kepiting rebus.
"Syukurlah. Kami senang mendengarnya. Kami merasa lega karena putra kami ini akan berhenti dijuluki duren sawit," canda Ellena seraya melirik ke arah putranya.
Ellena dan yang lainnya tertawa bersama. Mereka bercanda gurau sembari menikmati jamuan yang dihidangkan oleh Devica. Sehingga beberapa menit kemudian, Bobby beranjak dari duduknya.
"Om, Tante ... saya izin mengajak Aleta keluar bentar ya. Ada hal yang ingin saya sampaikan pada calon istriku ini," tutur Bobby dengan penuh kesopanan dan keramahan.
"Iya, silakan," jawab Elvaro dengan senyuman.
__ADS_1
"Leta, ayo." Bobby mengulurkan tangannya.
Aleta pun memegang tangan Bobby dan beranjak dari kursi. Kemudian mereka pun berjalan keluar rumah. Sementara itu, orang tua Bobby dan orang tua Aleta sedang membicarakan konsep pernikahan putra putrinya.
Sesampainya di luar, Bobby segera membawa Aleta ke dalam mobilnya. Aleta pun menurutinya dengan masuk ke mobil calon suaminya. Diikuti oleh Bobby yang mengitari mobil serta masuk melalui pintu kemudi.
Setelah memakai seat belt, Aleta menoleh ke arah Bobby. Bobby pun menyadarinya jika Aleta sedang memperhatikannya. Dia yang baru saja mau melajukan mobilnya, langsung mematikan kembali mesinnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bobby.
"Kita mau ke mana, Mas?" alih-alih menjawab, Aleta justru balik bertanya pada Bobby.
"Fitting baju pengantin," jawab Bobby yang singkat, padat dan jelas.
"Apa?" Mata Aleta seketika membola dengan sempurna. "Ss-sekarang juga, Mas? Kenapa cepat sekali?" Aleta gelagapan karena gugup.
"Hidup itu harus sat set, Gadis cabai," kekeh Bobby.
__ADS_1
"Idih, gaul juga Mas Bobby ini." Seketika Aleta langsung tertawa renyah mendengar jawaban calon suaminya padahal dia sempat gugup dan terkejut dengan jawaban singkat Bobby.
****