Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Ajakan Makan Siang


__ADS_3

"Sorry, sorry gue kelepasan," Aleta cengengesan dengan menunjukkan dua harinya tanda peace.


"Udah, lupain itu. Sekarang berikan separuh undangannya, biar gue bantu sebarin undangan ini," pinta Nisa.


"Okay, bentar." Aleta mengambil kartu undangan yang sempat terjatuh di lantai karena terkejut. "Ini undangannya." Aleta memberikan setengah undangannya pada Zainisa.


"Ayo kita sebar undangan sekarang, setelah itu lo harus traktir gue makan siang," ujar Nisa dengan mengambil setengah kartu undangannya.


"Gampang itu, sekarang bantuin gue dulu." Aleta tersenyum seraya berjalan menghampiri para karyawan yang masih menatap ke arahnya.


Nisa pun mulai menyebarkan undangan pernikahan sahabatnya pada para karyawan Albern Food. Setelah beberapa saat kemudian, kartu undangan sudah selesai disebar. Sesuai dengan janjinya, Aleta mengajak Nisa untuk makan siang di luar.


Mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan packing. Baru saja beberapa langkah keluar dari ruang packing, Bobby dan Hadwin tiba-tiba berpapasan dengan Aleta dan Nisa. Seketika mereka berempat menghentikan langkahnya dan tatapan mereka bertemu.


Bobby tersenyum penuh pesona di hadapan calon istri dan pasangan belum resmi itu. Aleta membalas senyuman Bobby dengan senyuman yang lembut. Berbeda dengan Hadwin dan Nisa. Mereka hanya mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah.

__ADS_1


"Berhubung saya tidak ada jadwal meeting lagi, saya dan Aleta ingin mengajak kalian makan siang di luar, bagaimana?" Bobby mengajak Nisa dan Hadwin untuk makan siang bersama.


"Saya, Pak?" Sontak Hadwin dan Nisa menunjuk dirinya masing-masing dengan mengucapkannya berbarengan.


"Ekhem," Aleta berdehem sembari melirik ke arah suaminya.


"Iya, kalian. Kami harap kalian tidak menolak ajakanku ini," ujar Bobby dengan nada yang sedikit tegas.


"Baik, Pak. Saya tidak akan menolak ajakan Pak Bobby," timpal Hadwin dengan curi-curi pandang ke arah Nisa.


"Eh, iya-iya. Gue mau, Leta." Nisa langsung tersadar dari lamunannya.


Hadwin terlihat sedang tersenyum kecil melihat ke arah Nisa. Menurutnya wajah Nisa sedikit menggemaskan pada saat sedang melamun. Tentu saja Nisa langsung tertunduk malu pada saat menyadari jika Hadwin sedang tersenyum ke arahnya.


Jantungnya berdebar tak karuan. 'Aduh, ngapain pake liatin gue kek gitu sih? Gue 'kan jadi nervous kalau diliatin cogan kek gini,' omel Nisa di dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya udah, ayo kita pergi." Aleta mengajak mereka semua.


Aleta menggandeng tangan kekasihnya. Sementara Nisa berjalan di sebelah Hadwin dan tepat berada di belakang atasannya. Nisa meremas jemarinya karena jantungnya yang masih berdegup kencang.


Lagi-lagi Hadwin melihat itu. Dengan pekanya pria yang berada di samping Nisa pun langsung meraih tangan gadis itu dan memegangnya. Hal itu yang membuat Nisa kembali menoleh ke samping. Namun, pandangan Hadwin fokus menatap ke arah depan tanpa mempedulikan jika Nisa sedang memperhatikannya.


'Mimpi apa gue semalam? Gue dapat rezeki nomplok. Gila, tangannya halus bagus kek sutra,' ucap Nisa dalam hatinya.


"Perhatikan langkahmu! Kamu bisa jatuh nanti!" tegas Hadwin tanpa menoleh sedikitpun.


"Eh, ii-iya, Pak," Nisa menjawab dengan sedikit gelagapan karena gugup.


Setelah berjalan beberapa menit, mereka pun sampai di basement. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka langsung masuk ke mobil Bobby. Aleta duduk di depan, tepatnya disebelah kursi kemudi yang kekasihnya duduki. Sementara itu, Hadwin dan Nisa duduk di kursi penumpang belakang.


Bobby segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama diperjalanan mereka isi dengan obrolan santai. Mereka saling bercanda gurau satu sama lain.

__ADS_1


****


__ADS_2