Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Menagih Janji


__ADS_3

"Woiiy, ngapain teriak kek gitu? Gila lo ya, jantung gue hampir mau copot." Nisa mengomeli Aleta dengan memegang jantungnya.


"Eh, sorry sorry. Gue keinget sesuatu tadi." Aleta cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Keinget apaan? Ceritain sama gue." Nisa mengambil sebuah kursi dan duduk di sebelah sahabatnya.


"Gue kalah taruhan sama Mas Bobby," jawab Aleta dengan bibir yang dikerucutkan.


"Taruhan? Taruhan apa emangnya?" Nisa mengerutkan keningnya.


"Hehe, gue taruhan tentang hubungan lo sama Pak Hadwin," jawab Aleta sembari menunjukkan tanda peace.


"Hah?" Seketika Nisa langsung tercengang mendengar jawaban Aleta yang bertaruhan tentang hubungannya. "Bisa-bisanya lo taruhan soal hubungan sahabat lo sendiri. Kurang kerjaan banget sih lo!" omel Nisa dengan ketus.


"Ya sorry, gue enggak maksud kek gitu. Lagian itu idenya Mas Bobby, maafin gue ya." Aleta memegang kedua tangan Nisa disertai bujukan mautnya.


"Ya udah deh, berhubung sekarang gue lagi happy jadi lo gue maafin. Lain kali jangan taruhan mengenai hubungan orang lain, enggak baik." Nisa menasehati sahabatnya.


"Gue janji." Aleta menyodorkan jari kelingkingnya pada Nisa.


"Gue pegang janjimu." Nisa mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Aleta.


Drrrtt! Drrrttt!

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk membuat ponsel Aleta berdering serta bergetar. Tanpa berlama-lama, dia meraih ponsel yang berbunyi tersebut dan melihat siapa yang telah menghubunginya. Kedua maniknya membulat dengan sempurna, ternyata orang yang menghubunginya tidak lain adalah Bobby Albern, sang calon suami.


"Ta, kenapa enggak diangkat?" tanya Nisa sembari menepuk pelan pundak sahabatnya.


"Mas Bobby," jawab Aleta singkat.


"Ya udah, angkat aja. Siapa tahu penting,"


"Okay, gue angkat teleponnya dulu." Aleta beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tepi ranjang.


Setelah berjarak beberapa meter dari sahabatnya, Aleta langsung mengangkat telepon dari Bobby. Dia menempelkan ponsel di telinga kanan. Gadis ini tidak langsung bersuara, dia masih menunggu Bobby yang bicara duluan.


Telepon terhubung!


"Hallo, Mas. Malam juga," Aleta balik menyapa calon suaminya.


"Sayang, bisa keluar bentar?"


"Keluar?" Aleta kebingungan mendengar ucapan Bobby.


"Sekarang aku ada di depan rumahmu. Aku belikan pizza kesukaanmu, ayo keluar."


"Pizza? Seriusan Mas beliin aku pizza?" Kedua manik Aleta langsung berbinar.

__ADS_1


"Iya, serius. Emang kapan aku bohong?"


"Aku keluar sekarang. Mas tunggu bentar. Tutt!" Aleta mengakhiri pembicaraannya di telepon.


Telepon terputus!


Setelah itu dia berlari ke arah jendela dan membuka sedikit gordyn untuk melihat ke halaman rumah. Dan benar saja, ucapan Bobby. Aleta melihat mobil calon suaminya terparkir di depan rumahnya.


Bibirnya tersenyum lebar, dia pun berlari keluar kamar tanpa mengatakan apa pun pada sahabatnya. Sementara itu, Nisa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia sudah tidak merasa aneh lagi, karena setiap dia sedang bicara atau bersama dengan kekasihnya, Aleta selalu melupakan sahabatnya.


****


Di sisi lain, Aleta sudah berada di luar rumahnya. Perlahan dia berjalan menuju mobil Bobby. Terlihat Bobby sedang duduk di kursi kemudi, samar-samar dia melihat calon suaminya sedikit tersenyum.


Tanpa berlama-lama, Aleta masuk ke mobil kekasihnya melalui pintu sebelah kursi penumpang. Aleta tersenyum pada Bobby. "Mana pizzanya?" Aleta menagih makanan yang Bobby janjikan.


"Enggak ada." Bobby tersenyum penuh misteri.


"Hah? Kok enggak ada sih? Bukannya tadi nyuruh keluar karena mau ngasih pizza buat Leta? Mas bohongin Leta ya?" Aleta cemberut.


"Aku menyuruhmu keluar karena aku mau menagih janjimu, Sayang. Kamu kalah taruhan, jadi aku berhak minta hakku." Bobby menaik-turunkan alisnya.


Gleuk!

__ADS_1


****


__ADS_2