
Kediaman Aleta ....
Saat ini, Bobby, Aleta dan keluarga Aleta tengah berkumpul di ruang tengah. Orang tua Aleta merasa sedikit canggung dengan kedatangan atasan putrinya. "Aleta, Ayah mau menanyakan sesuatu padamu." Elvaro menatap putrinya dengan tajam.
"Iya, Yah. Ayah mau bertanya apa?" Aleta membalas tatapan ayahnya disertai dengan senyuman manisnya.
"Ayah dengar dan lihat dari artikel tentang pertunanganmu dengan Nak Bobby. Apa maksudnya ini? Kalian mau bertunangan tanpa sepengetahuan kami?" tanya Elvaro.
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, tentu saja Aleta langsung terdiam. Matanya tertuju pada Bobby. Dia memberikan sebuah kode lewat tatapannya kepada calon tunangannya.
Bobby tersenyum. Dia memahami tentang ekspresi Aleta. Pria bermata biru ini langsung angkat bicara.
"Begini, Pak-Bu ... mohon maaf saya izin menjawab pertanyaan Pak El. Semua ini awalnya hanya sebuah kesalahpahaman. Akan tetapi, ada seseorang yang menyebarkan hoax sampai gosip ini menyeret putri Pak El. Maka dari itu, saya datang ke mari ingin melamar Aleta. Saya ingin menikahi Aleta, tentunya sebelum menikah saya ingin bertunangan terlebih dahulu. Apakah Pak El dan Bu Devica merestui hubungan kami?" jelas Bobby dengan tatapan yang serius.
"Leta, apa benar yang dikatakan bosmu ini? Kalian ingin menikah?" tanya Elvaro dengan menoleh ke arah putrinya.
Aleta mengangguk. "Iya, Ayah. Leta mau menikah dengan Mas Bobby. Leta sudah menerima lamarannya," jawab Aleta.
"Apa kalian yakin? Apa kalian menikah karena terpaksa? Jika kalian menikah karena gosip itu maka kami tidak akan merestuinya. Ingatlah, Nak ... pernikahan itu adalah hal yang sakral. Pernikahan bukanlah permainan, Ayah tidak ingin jika putriku menikah dengan pria yang tidak mencintainya!" tegas Elvaro.
"Pak El tidak perlu khawatir. Kami menikah atas dasar cinta. Saya sangat mencintai putri Bapak. Saya menikahinya karena saya ingin membuat hidup Aleta bahagia, saya ingin menjadikan Aleta sebagai istriku. Namun, semua keputusan saya serahkan pada Aleta dan keluarga. Saya hanya ingin jujur, kalau status saya adalah seorang duda. Saya tidak ingin karena status saya sebagai duda akan menyebabkan rasa malu pada Aleta dan keluarga. Itulah, kenapa saya datang dan menjelaskan maksud saya," tutur Bobby dengan sopan dan ramah.
"Kami tidak merasa keberatan dengan status Nak Bobby. Hanya saja kami merasa bahwa Aleta tidak pantas mendapatkan suami sebaik Nak Bobby. Keadaan kami dengan Nak Bobby sangat jauh berbeda. Kami dan Nak Bobby antara langit dan bumi. Apakah pernikahan ini akan baik-baik saja nantinya? Bagaimana dengan keluarga Nak Bobby tentang pernikahan ini?"
"Pak El tidak perlu bicara seperti itu. Kita semua sama di mata Tuhan. Keluarga saya tidak akan keberatan dengan pernikahan ini. Jika Ibu dan Bapak setuju dengan pernikahan ini, saya akan menjemput keluarga saya dan datang kembali untuk melamar Aleta," timpal Bobby.
__ADS_1
"Saya terserah Aleta saja. Semua keputusan ada pada putriku. Jika Aleta bersedia menikah dengan Nak Bobby maka kami pun akan merestui hubungan kalian. Iya 'kan, Bu?" Elvaro menatap ke arah istrinya.
"Iya, Yah. Ibu gimana Aleta saja. Ibu tidak akan menghalangi hubungan kalian. Hanya saja, Ibu berpesan pada Nak Bobby untuk sayangi Aleta, lindungi dia, bimbing Aleta. Karena, Aleta masih sangat muda untuk menikah. Terkadang sikapnya terlalu kekanak-kanakan. Nak Bobby harus banyak sabar menghadapi putri kami ini," pesan Devica pada calon menantunya.
"Karakter Aleta akan berubah setelah menikah dengan saya, Bu. Saya akan memperlakukan calon istriku ini seperti yang Ibu inginkan." Bobby menoleh ke samping dan mengelus kepala Aleta.
Wajah Aleta langsung merona. Dia tersipu malu diperlakukan seperti itu, apalagi di hadapan orang tuanya. Aleta tidak mengatakan apapun, dia hanya tersenyum tipis ke arah calon suaminya.
"Oh iya, Pak-Bu ... jika tidak keberatan, saya akan datang kembali bersama keluarga saya ke mari untuk melamar Aleta. Bagaimana jika pertunangannya dilangsungkan 2 minggu yang akan datang?" tanya Bobby.
"2 minggu?" Aleta terkejut. Matanya membola dengan sempurna.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Nak?" tanya Devica yang ikut terkejut dengan ucapan calon menantunya.
"3 bulan? Enggak, Mas. Leta belum siap menikah secepat itu!" protes Aleta.
"Lalu, Leta siapnya kapan? 3 bulan cukup lama untuk mempersiapkan semuanya," timpal Bobby.
"Apa yang dikatakan Aleta benar, Nak Bobby. Kami belum memiliki uang yang cukup untuk melangsungkan pernikahan. Kami harus menabung setidaknya dalam satu tahun."
"Ya ampun, Bu. Untuk soal itu biarkan Bobby yang mempersiapkan segalanya. Bobby yang akan menanggung biaya pernikahannya." Bobby tersenyum.
"Mas, itulah yang kami tidak inginkan. Kami tidak mau Mas yang menanggung semuanya. Aku tahu, Mas banyak uang, Mas kaya raya tapi izinkan kami juga bertanggung jawab atas pernikahan ini. Aku ingin menikah dengan uang hasil kerja kerasku. Aku tidak ingin dicap sebagai wanita parasit yang menghabiskan banyak uang suaminya. Mas paham 'kan maksud Leta?" jelas Aleta.
"Iya, Nak Bobby. Apa yang Aleta katakan memang benar. Izinkan kami ikut mempersiapkan pernikahannya. Lagi pula ini pernikahan putri kami, Aleta. Kami ingin menjadi orang tua yang bertanggungjawab. Bagaimana jika pernikahan ini dilangsungkan tahun depan?" saran Devica.
__ADS_1
"Baiklah, Bu. Saya setuju, saya tidak akan memaksa Aleta untuk menikah cepat denganku. Saya akan sabar menunggu hari itu tiba," jawab Bobby.
"Mas tidak marah 'kan?" tanya Aleta.
Bobby tersenyum gemas. Dia pun mencubit hidung Aleta. "Gemesin banget sih. Aku tidak mungkin marah karena hal itu, Leta."
"Ah, syukurlah. Aku takut Mas marah, nanti gajiku dipotong, 'kan bisa gawat. Hehe," Aleta cengengesan.
"Haha, kau ini. Jadi, kau hanya mengkhawatirkan gajimu."
****
Albern Food ....
Sebuah mobil berhenti tepat di depan Albern Food. Mobil itu tidak lain dan tidak bukan adalah milik Bobby Albern. Bobby dan Aleta keluar dari mobil secara bersamaan. Kemudian Bobby memegang tangan Aleta dan memasuki kantornya.
Tentu saja semua mata memandang ke arah Bobby dan Aleta. "Mas, lepasin tangannya. Aku risih berjalan sambil bergandengan tangan kek gini. Lihat itu, mereka menatapku sinis seperti itu," bisik Aleta dengan kepala sedikit menunduk.
"Jangan pedulikan mereka. Biarkan saja mereka menatap kita seperti itu. Fokuslah berjalan dan lihat ke depan, aku bersamamu, Gadis cabai!" bisik Bobby dengan sedikit menekankan kata gadis cabainya.
"Mas, kau ini benar-benar pria aneh! Nyebelin banget," timpal Aleta dengan bibir yang dikerucutkan.
"Gemesin deh." Bobby menyomot bibir Aleta di hadapan para karyawannya.
Tentu saja melihat adegan itu, membuat mata para karyawannya membola dengan sempurna seakan mau melompat dari tempatnya. Aleta menghentikan langkahny, dia terdiam tak berkutik. Matanya berkedip beberapa kali, dia seakan terhipnotis oleh calon suaminya sendiri.
__ADS_1