
"Bagaimana? Kalian udah jadian 'kan?" tanya Aleta pada saat melihat sahabatnya masuk kamar.
Zainisa duduk di tepi ranjang. Dia memasang wajah yang sedih. Melihat itu tentu lah Aleta merasa heran dengan ekspresi sahabatnya.
"Woiiy, lo kenapa lagi sih? Kenapa lo sedih? Apa Pak Hadwin bilang sesuatu sama lo?" Aleta memegang bahu Nisa disertai tatapan penasaran.
"Leta!" teriak girang Nisa sembari melompat dari ranjang yang tengah ia duduki.
"Astaga, kampret lo! Ngapain teriak kek gitu mana lompat pula kek katak. Lo kenapa? Cerita sama gue?" Aleta terkejut sembari memegangi jantungnya yang hampir mau copot itu.
"Ta, gue seneng banget. Akhirnya!" Nisa kembali berteriak. Kali ini dia menarik kedua tangan Aleta dan memeluknya seerat mungkin.
"Ih, lo kenapa? Sadar, Sa! Lo enggak lagi kerasukan 'kan?" Aleta keheranan dengan tingkah sahabatnya yang berubah secepat kilat.
Zainisa melepaskan pelukannya dan menatap Aleta dengan penuh kebahagiaan. "Gue emang kerasukan. Kerasukan cintanya Sangat CEO tampan." timpal Nisa dengan suara yang antusias dan sangat lincah.
"Mulai deh, jangan alay dulu lo. Ceritain apa yang terjadi?" Rasa penasaran Aleta semakin besar karena dia yakin kalau taruhannya akan dimenangkan oleh dirinya ketimbang Bobby.
"Kamu nanya?" kekeh Nisa.
"Sa, lo mau gue gampar pakai panci pink Ibuku?" Aleta memicingkan matanya.
__ADS_1
"Haha, galak amat Nyonya Albern ini. Slow aja slow."
"Kagak ada, enggak ada kata slow. Buruan lo cerita atau lo tidur di luar mau?" Aleta mengancam sahabatnya agar mau menceritakan apa yang terjadi.
"Okay, okay. Gue cerita, gini ya ... besok gue mau ketemu sama Pak Hadwin untuk bicarain hubungan kita," jelas Nisa dengan sedikit malu-malu kucing.
"Iya, terus?" Aleta menyimak dengan baik cerita sahabatnya.
"Gue mau minta tolong sama lo,"
"Apa?"
"Eh, napa gue pula yang harus bantu lo? Kenapa lo enggak ke salon aja?"
"Ayolah, bantu gue ya. Sayang juga uangnya kalau buat pake ke salon. Mau ya bantuin gue, please." Nisa mengedip-ngedipkan matanya untuk membujuk sahabatnya.
"Idih, pelit amat lo. Ya udah deh, gue bantuin. Tapi, lo juga harus bantu persiapan pernikahan gue. Gimana?" Aleta menaik-turunkan alisnya.
"Gue setuju," timpal Nisa dengan sedikit mengerucutkan bibirnya.
****
__ADS_1
Pagi hari, Aleta bangun lebih awal. Dia sudah ada janji dengan Bobby untuk pergi jogging bersama. Melihat sahabatnya sudah berpakaian ala jogging, Nisa yang baru bangun dari tidurnya pun langsung mengucek-ngucek matanya untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar.
"Hoam." Nisa menguap. "Ta, lo mau ke mana pagi buta begini?" tanya Nisa dengan wajahnya yang kusut, serta rambut berantakan khas bangun tidur.
"Gue mau jogging," Aleta menjawab seraya memakai headphone di telinganya.
Sontak kedua mata Nisa terbelalak begitu mendengar jawaban sahabatnya. "Eh, tumben kali lo jogging. Biasanya lo paling males jogging."
"Mas Bobby yang nyuruh. Kalau bukan dia, mana mau gue lari pagi-pagi begini. Mending gue nonton drakor aja, hehe." Aleta cengengesan dengan tangan kanan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Rasain lo, sekarang Oppa Eun Woo buat gue ya. Lo 'kan udah punya Duren sawit yang tak kalah kecenya dari oppa oppa," celetuk Nisa dengan tertawa.
"Kampret lo! Mana boleh, Eun Woo cuma milik gue!" Nada bicara Aleta langsung tinggi ketika Nisa berani menyenggol nama biasnya.
"Maruk, lo. Udah punya calon suami mata masih jelalatan," ledek Nisa.
"Biarin aja, kalau perlu gue mau poliandri, haha."
"Parah lo, gue laporin laki lo!"
****
__ADS_1