
Aleta yang saat ini sudah bersiap-siap untuk datang ke kediaman bosnya. Akan tetapi, begitu dia hendak keluar dari kamarnya, tiba-tiba sebuah telepon masuk. Telepon itu tidak lain dari bosnya sendiri, Presdir Bobby.
Tanpa berlama-lama dia langsung mengangkat telepon dari Presdir Bobby. Dia menempelkan ponsel di telinganya. Kemudian dia duduk di sofa.
Telepon terhubung!
"Halo. Selamat pagi, Pak," sapa Aleta begitu telepon tersambung.
"Selamat pagi, Leta. Apa kau masih di kontrakan?" tanya Bobby dari seberang telepon.
"Iya, saya masih di kontrakan. Saya baru mau berangkat ke rumah Pak Bobby," jawab Aleta.
"Tidak perlu. Saya hari ini tidak masuk kantor. Saya harus terbang ke London, ada hal yang harus aku selesaikan. Kau bantu Hadwin selama saya masih di London. Keluar dari kontrakanmu sekarang! Saya ada di depan kontrakanmu,"
"Apa! Pak Bobby ada di depan kontrakan saya?" Aleta terkejut mendengar ucapan bosnya.
"Iya, cepat keluar. Saya tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi saya akan ke bandara!" perintah Bobby.
"Baik, Pak. Saya keluar sekarang."
"Ya. Tutt!" Bobby mematikan teleponnya.
Telepon terputus!
"Hei, Leta! Lo mau berangkat sekarang? Siapa yang telepon lo barusan?" tanya Nisa yang tiba-tiba datang.
Aleta menoleh. "Bos gue. Dia ada di depan kontrakan gue sekarang. Kita bicara nanti saja, gue enggak mau diomelin dia lagi. Gue keluar bentar." Aleta langsung keluar dari kontrakannya. Nisa yang penasaran pun langsung mengintip Aleta dari jendela.
Setelah berada di luar, Aleta kembali terpesona melihat aura Duren sawit itu. Matanya tidak berkedip sedikitpun saking terkesimanya dia pada bosnya sendiri. Bobby saat ini sedang berdiri dengan melipat kedua tangan di dada dan menatap lurus.
"Leta, ngapain bengong? Sini!" Bobby melambaikan tangan menyuruh Aleta untuk mendekatinya.
Aleta mengangguk dan mulai berjalan menghampiri bosnya. "Pagi, Pak." Aleta menyapa Bobby disertai senyumannya yang manis nan ramah.
__ADS_1
"Pagi, Leta," Bobby balik menyapa sekretarisnya.
"Pak, kenapa repot-repot datang ke kontrakan saya? Kenapa Pak Bobby tidak menyuruh saya saja untuk datang menemui Bapak?" Aleta menatap ke arah Bosnya.
"Saya tidak punya banyak waktu. Saya sekalian pergi ke bandara, jadi saya mampir untuk memberikan benefit yang saya janjikan waktu kau menandatangani surat kontrak itu," jelas Bobby.
"Benefit?"
Bobby mengangguk. "Ini benefit yang saya janjikan." Bobby memberikan kunci mobil pada Aleta.
"Tapi, Pak. Bukankah saya sudah mengatakan jika ini terlalu berlebihan untuk saya yang hanya sekedar sekretarisnya, Pak Bobby?"
"Itu menurutmu, tapi tidak menurutku. Menurutku kau berhak mendapatkan ini. Anggap saja ini tanda terima kasih saya padamu, Leta. Karena kau telah menyembuhkan trauma saya terhadap wanita. Jadi, saya tidak ingin mendengar penolakan dari bibir mungilmu itu, terima ini." Bobby bersikukuh untuk memberikan mobil pada Aleta.
"Pak Bobby tidak perlu seperti ini, saya tidak melakukan apapun."
Ingin sekali dia menolaknya, akan tetapi dia tidak berani membantah perintah bosnya. Mau tidak mau, Aleta pun menerima mobil itu. Dengan tangannya yang gemetar, dia memegang kunci mobil itu.
"Selain itu, ini kunci rumah yang seminggu yang lalu saya beli. Ajaklah keluargamu dan tinggal di rumah barumu. Salamkan salam saya pada keluargamu. Saya pergi." Bobby meletakkan kunci rumah di tangan Aleta.
Aleta menghela napas panjang setelah mobil Bobby pergi jauh. Tak lama kemudian, Nisa datang menghampirinya. "Woiiy, lo kenapa bengong gitu? Ngapain Pak Bobby datang? Kenapa enggak disuruh masuk?" tanya Nisa dengan tatapan yang penuh penasaran.
"Gila lo ya, mana berani gue ngajak Pak Bobby masuk. Lagi pula Pak Bobby enggak ada waktu buat mampir. Dia mau pergi ke bandara." Aleta berbalik badan dan memasuki kontrakannya.
Nisa berlari menyusul sahabatnya. "Leta, Pak Bobby mau ke mana?" tanya Zainisa.
"Dia mau ke London, ada hal yang mau dia selesaikan katanya," jawab Aleta.
"Jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa?" Aleta menoleh ke arah Nisa.
"Jangan-jangan dia ke London, mau dijodohkan lagi sama wanita pilihan keluarganya?" celetuk Nisa dengan asal menebak.
__ADS_1
"Ya, kalaupun itu benar ... gue seneng aja dengernya. Pak Bobby 'kan harus memulai hidupnya lagi, tidak mungkin dia sendiri terus dengan status dudanya. Sayang aja, harta banyak tapi tidak ada pewarisnya," timpal Aleta.
"Apa lo enggak patah hati jika Pak Bobby menikah dengan wanita lain?"
"Hah! Maksud lo?" Aleta mengerutkan alisnya.
"Gini ya ... menurut gue, Pak Bobby itu suka deh sama Lo."
"Haha, ngaco lo! Mana ada atasan suka sama bawahannya sendiri. Enggak mungkin! Kalaupun itu ada, itu hanya ada di dunia novel. Kagak ada di dunia nyata kek gitu. Bisa viral nanti," Aleta menyangkal hal itu diakhiri dengan tertawa.
"Ya udah kalau lo enggak percaya. Kita lihat saja nanti. Apakah Pak Bobby suka sama lo atau enggak, jika itu terbukti, lo enggak bisa menyangkalnya lagi. Gue akan tes Pak Bobby sepulang dari London." Nisa tersenyum penuh misteri dengan menaik-turunkan alisnya.
"Jangan macam-macam, lo! Jangan berbuat konyol, gue engak mau ya jika gue sampai kehilangan kerjaan ini gara-gara lo."
"Lo tenang aja, gue cuma tes doang kok!"
****
Kediaman Cesya Dree ....
"Muach! Tidak salah gue menemui mantan suami gue. 750 juta gue dapatin secepat kilat. Lama-lama gue bisa kaya raya ini, haha." Cesya tertawa bahagia dengan menciumi cek senilai 750 juta itu.
"Gila lo, Cesya! Gimana caranya lo lakuin ini? Si Bobby sampai rela ngeluarin uang sebanyak ini buat lo, mantan istrinya. Jarang loh ada mantan suami yang sudi memberikan uang pada mantan istrinya apalagi istri yang dajjal kek lo," celetuk wanita bernama Renata.
Renata adalah sahabat dekat Cesya Dree. Yup, saat ini di kediaman Cesya Dree ada sahabatnya, Renata. Selama ini dialah yang selalu menemani Cesya Dree.
"Ya elah. Lo itu munafik banget sih. Gini ya, biar gue lurusin. Hidup di jaman sekarang ini, kita perlu menghasilkan banyak uang. Gue enggak mau lah jika gue udah tua, gue harus kerja dan ngandelin pendapat dari si Gavin. Semakin hari dia semakin susah aja. Bentar lagi juga perusahaan dia bakalan bangkrut. Maka sebelum itu terjadi, gue temui Bobby untuk mendapatkan uang ini. Gue mau gunain uang ini untuk buka usaha dan juga mengurus perceraian gue sama si Gavin. Udah hitam, kere lagi. Ih, enggak mau gue lama-lama hidup bareng si dekil itu!" timpal Cesya.
"Gila lo, Cesya! Hati-hati kalau bicara! Bisa kualat lo!" Renata mencoba mengingatkan temannya itu.
"Bodo amat! Gue enggak takut, oh iya gue udah menyusun strategi buat bikin gue sama Bobby balik lagi kek dulu." Cesya tersenyum licik.
"Strategi apa?"
__ADS_1
"Sini, gue bisikin!"
BERSAMBUNG....