Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Pesona Duren Sawit


__ADS_3

Di ruang pribadi Bobby ....


Saat ini Aleta tengah duduk di sofa seraya menegadahkan kepalanya menatap langit-langit. Tiba-tiba Robbie datang mengejutkan Aleta. "Aleta datang Aleta datang!" ucap Robbie dengan suara khas robotnya.


Aleta langsung terperanjat dan melompat menjauhi Robbie. "Aduh!" Aleta terjatuh.


"Aleta jatuh Aleta Jatuh! Robbie akan bantu." Robbie berjalan mendekati Aleta.


"Robbie, tidak apa-apa. Aku baik-baik aja, aku bisa bangun sendiri." Aleta menyuruh Robbie untuk tidak mendekatinya.


Robbie pun langsung berhenti dan berdiri di depan Aleta. Begitu Aleta hendak berdiri tiba-tiba pergelangan kaki Aleta terasa ngilu sampai dia tidak bisa berdiri dan kembali terduduk di lantai. Sementara itu, Presdir Bobby baru saja sampai di lantai atas.


Pada saat Bobby hendak masuk, dia melihat Aleta sedang duduk di lantai dengan memegang pergelangan kakinya disertai meringis kecil. Tentu saja melihat hal itu, Bobby membelalakkan matanya. "Leta, kau sedang apa di situ? Robbie apa kau menjahili sekretarisku?" Bobby menghampiri Robbie yang berdiri di depan Aleta.


"Bukan Robbie bukan Robbie. Aleta jatuh," jawab Robbie dengan kepalanya yang sedikit tertunduk.


Robot Robbie ini walaupun kaku tapi dia itu robot yang sangat menggemaskan. Selain penurut dia juga bisa menangkap ucapan orang dengan baik bahkan mampu berkomunikasi layaknya manusia. Robot ini hanya diciptakan 5 di dunia. Dan semuanya sudah habis terjual.


Robot ini benar-benar robot yang sangat canggih, selain itu dia tidak mudah rusak seperti robot pada umumnya. Terkadang, robot ini dikatakan robot manusia karena dia bisa mengerjakan pekerjaan manusia bahkan dia cerdas sama seperti manusia. Tinggi robot ini sekitar 157 cm. Ya, hampir setinggi wanita Indonesia.


"Benar, apa yang dikatakan Robbie? Kau terjatuh, Leta?" tanya Bobby seraya berjongkok di hadapan Aleta.


"Hehe, iya. Saya terjatuh karena kaget. Tiba-tiba Robbie datang di hadapanku," Aleta cengegesan sembari menggaruk lehernya yang tidak gatal karena malu.


"Oh my god. Jadi kau terjatuh karena kaget? Leta, ini bukan kali pertamanya kau melihat Robbie. Kenapa masih kaget kek gini, ayo bangun!" Bobby mengulurkan tangannya kepada Aleta.

__ADS_1


"Namanya juga kaget, lagian Robbie tiba-tiba ada di hadapanku. Siapa yang enggak kaget coba." Aleta menjebikkan bibirnya.


"Haha, ya sudah. Ayo bangun, jangan duduk di lantai seperti itu," kekeh Bobby.


Aleta memegang tangan bosnya. Dia pun akhirnya bisa berdiri walaupun terasa sakit jika kakinya di tahan terlalu lama. Bobby berjalan ke arah sofa, lalu dia duduk dan bertumpang kaki. Sementara itu, Aleta masih berjalan dengan kakinya sedikit di seret.


"Leta, kakimu kenapa? Sakit?" Bobby berdiri dan mendekati Aleta lagi.


"Tidak kok, Pak. Saya hanya keseleo dikit," jawab Aleta.


"Kenapa tidak bilang? Kalau saya tahu kau keseleo saya tidak akan membiarkanmu berjalan seperti itu. Sini, biar saya obati kakimu yang terkilir itu." Tanpa diduga, Bobby menggendong tubuh Aleta dan mendudukkannya di sofa.


Mata Aleta membola dengan sempurna. Secara reflek, tadi tangan Aleta tiba-tiba melingkar di leher bosnya. Begitu Bobby hendak mendudukkan sekretarisnya di sofa dan dia hendak pergi untuk mengambil oil untuk memijat atau mengobati kaki Aleya. Tiba-tiba rambut Aleta tersangkut di kancing kemeja bosnya.


"Aww!" ucap Aleta pada saat rambutnya sedikit ketarik oleh bosnya.


Aleta hanya tertunduk, dia tidak berani menatap kedua bola mata berwarna biru indah milik bosnya itu. Tidak ada cara lain, Bobby langsung mencabut kancing kemeja itu. Tidak masalah jika dia harus rusak satu kancing dari pada melihat asistennya merasa sakit karena rambutnya yang tersangkut.


Berbeda dengan Aleta, justru dia cemas melihat Bobby mencopot kancing kemejanya. "Pak, kenapa merusak kancing kemeja Bapak sendiri? Saya bisa menggunting sedikit sambut saya. Maaf jika gara-gara rambut saya yang tersangkut kemeja Pak Bobby menjadi rusak," ucap Aleta dengan menatap mata indah bosnya.


Bobby tersenyum gemas melihat kecemasan gadis 20 tahun ini. "Ini hanya kancing, Leta. Saya bisa memperbaiki ini sendiri. Lagi pula saya tidak akan membiarkan rambut indahmu digunting." Bobby menaik-turunkan alisnya.


"Haha, benarkah? Pak Bobby bisa memasang kancing kemeja ini? Haha, tidak mungkin." Aleta tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan bosnya karena tidak percaya dengan ucapan bosnya.


"Kau tidak percaya rupanya. Baiklah, akan kubuktikan. Robbie, ambilkan alat jahit kini di laci sebelah sana!" perintah Bobby pada robotnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan Bobby." Robbie pun berjalan menuju laci yang tuannya maksud.


Sambil menunggu alat jahitnya, Bobby langsung melepaskan kemeja di hadapan sekretarisnya. Dia tidak merasa canggung saat Aleta akan melihat perut sixpack-nya. Berbeda dengan Aleta, dia justru ketar ketir.


Dia berusaha mengalihkan pandangannya dari perut sixpack bosnya. Namun, entah kenapa matanya selalu saja ingin melihat tubuh seksi Bobby. Setelah kedua matanya menatap roti sobek Bobby, dia tertegun beberapa kali dan matanya tidak berhenti berkedip seakan mengagumi keseksian tubuh bosnya.


Tak lama kemudian, Robbie datang dengan membawa alat jahitnya. Bobby duduk di sebelah Aleta dan membisikkan sesuatu. "Berkediplah! Matamu akan perih jika tidak berkedip seperti itu. Saya tahu kau mengagumiku tapi jangan sekarang. Saya belum mandi, saya belum tampan mempesona. Nanti saja ya," kekeh Bobby.


"Percaya diri boleh, tapi jangan berlebihan, Tuan bule!" Aleta mengerlingkan matanya.


Bobby yang melihat reaksi sekretarisnya seperti itu langsung tertawa. Dia tidak menjawab upacara Aleta. Dia hanya fokus memasukkan benang ke dalam lubang yang ada pada jarum jahitnya.


Bobby mulai memegang kancing dan menempelkan di kemejanya. Setelah posisinya pas dengan lubang kancingnya. Dia segera menjahitnya sampai rapi dan kuat.


Aleta tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Bos yang menurutnya Arrogant itu ternyata cukup mandiri dan serba bisa. Dia bahkan tidak menyuruh orang lain untuk membetulkan kemejanya seperti rich pada umumnya.


Tanpa disadari, Aleta tersenyum melihat ketampanan bosnya sendiri yang sedang fokus menjahit kancing. Matanya yang biru, hidungnya yang mancung, serta bulu matanya yang lentik membuatnya terpesona. 'Aku rasa aku telah mengagumi ketampanan bosku ini. Tapi, masa iya aku tertarik pada bosku sendiri sih. Enggak! Aku enggak boleh tertarik padanya. Ingat kasta, Leta! Ingat!' Aleta menepis perasaannya sendiri.


****


Semakin hari Aleta semakin dekat dengan bosnya. Dia mulai nyaman bekerja dengan Presdir Bobby. Selain tegas, Presdir Bobby juga orang yang asyik yang bisa membuat orang di sekitarnya tertawa.


Begitupun dengan Bobby, dia juga mulai nyaman dengan kehadiran Aleta. Bobby yang sejak beberapa tahun ini sangat anti berdekatan dengan wanita kini Bobby sudah mulai terbiasa dengan adanya seorang wanita. Tidak terasa, hari demi hari mereka lalui bersama.


Sekarang tepat 1 minggu Aleta bekerja menjadi sekretarisnya. Itu artinya, Bobby akan segera membelikannya sebuah mobil sesuai dengan janjinya. Bobby ingin tahu, reaksi Aleta akan seperti apa begitu melihat mobilnya sendiri?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2