
"Ini baru percobaan, Gadis mungilku. Kau tahu, aku bisa lebih dari ini. Kau harus mempelajari dan membiasakannya." Bobby duduk di sebelah Aleta seraya merangkul tubuhnya ke dalam dekapannya.
"Mas! Jangan membuatku takut seperti ini. Barusan Mas hampir membunuhku. Mas sudah membuatku kehabisan napas," keluh Aleta.
"Benarkah? Aku pikir barusan kau menikmati permainannya," goda Bobby dengan sedikit tertawa.
"Mas, jangan menggodaku seperti ini! Jangan sampai aku mengundur hari pernikahan kita ya menjadi dua tahun lagi, mau?" ancam Aleta.
"No, no baby. Aku ingin pernikahan kita dipercepat, bagaimana?" bujuk Bobby seraya menaik-turnkan alisnya.
"Enggak, Mas. Kita akan menikah 1 tahun lagi. Leta enggak mau nikah cepat."
"Baiklah, baiklah. Aku akan tetap menunggumu. Sekarang bantu aku mengemasi barang-barangku," ujar Bobby.
"Iya, Mas. Akan Leta bantu," timpal Aleta seraya berjalan menuju koper yang sudah Bobby siapkan.
Diikuti oleh Bobby yang turut berjalan ke arah koper. Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun segera mengemasi barangnya. Karena tak terlalu banyak yang Bobby bawa, sehingga mereka pun hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja untuk mengemasi barang-barangnya.
"Mas, beristirahatlah. Aku akan pulang sekarang," ujar Aleta.
"Apa kau tidak mau menemaniku malam ini? Besok kita akan LDR-an, aku akan sangat merindukanmu, Leta." Bobby menatap Bobby dengan tatapan yang lekat.
"Apa maksudmu, Mas? Menemani apa? Aku tidak mungkin tidur dalam satu kamar bersamamu," timpal Aleta dengan wajah yang cemas.
"No, no. Bukan begitu maksudku."
"Lantas, apa maksud perkataan Mas?" tanya Aleta dengan tatapan yang serius.
"Malam ini kau tidur di kamarmu, besok aku akan mengantarkanmu ke kontrakan sebelum aku pergi ke bandara,' jelas Bobby dengan menatap mata calon istrinya.
"Baiklah, Mas. Aku akan menginap di rumahmu."
"Ya sudah, kau pergi ke kamarmu dan tidur," ujar Bobby.
"Iya, aku pergi ke kamar ya, Mas. Selamat malam," ucap Aleta seraya membalikkan badannya.
Pada saat Aleta hendak berjalan keluar kamar calon suaminya, Bobby tiba-tiba menarik tangannya. "Tunggu!"
Aleta menghentikan langkahnya dan berbalik. "Iya, Mas."
__ADS_1
"Apa kau melupakan sesuatu, Sayang?" Bobby mendekati Aleta.
"Kurasa tidak, Mas."
"Benarkah?" Bobby menarik pinggang ramping Aleta.
"Iya, Mas. Aku tidak melupakan sesuatu." Aleta mengerutkan keningnya.
"Kau yakin?" Bobby menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat Aleta menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Memangnya apa yang aku lupakan?" tanya Aleta dengan wajah yang bingung.
"Ini!"
Cup!
Bobby mengecup bibir Aleta secara mendadak. Tentu saja hal ini membuat Aleta terkejut. Seperti biasa, Aleta selalu membelalakkan matanya usai mendapatkan serangan dari calon suaminya. Kemudian Bobby melepaskan Pagutannya.
"Good night. Sweet dream, Honey." Bobby tersenyum seraya membelai rambut Aleta.
Mendengar perkataan romantis dari calon suaminya, tentu saja membuat hatinya senang dan berbunga-bunga. Namun, dia menyembunyikan rasa senangnya itu karena di malu diketahui Bobby. Karena hal itulah, Bobby bisa menyadari jika Aleta sedang tersipu malu dilihat dari wajah calon istrinya yang merona bakal kepiting rebus.
****
Pagi hari ....
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini malam telah berganti pagi. Aleta bangun dari tidurnya karena pantulan sinar matahari yang tepat mengenai wajahnya. Dia pergi ke kamar mandi sebelum dia pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Selang beberapa menit kemudian, Aleta selesai melakukan rutinitas pagi harinya. Selesai itu, dia keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi dan terlihat segar. Dia berjalan menuju dapur berniat ingin membuatkan sarapan untuk calon suaminya.
Sesampainya di dapur, lagi-lagi Aleta selalu dibuat terkesima dengan pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Apa yang Aleta lihat? Apa lagi, kalau bukan melihat calon suaminya yang sedang memasak dengan memakai celemek. Tanpa Aleta sadari, senyuman yang manis terlukis di bibirnya yang mungil.
Perlahan Aleta melangkahkan kakinya menghampiri Bobby yang tengah asyik memasak. Entah apa yang terjadi pada Aleta sehingga tiba-tiba saja dia langsung memeluk Bobby dari belakang. Bobby yang merasa tubuhnya tiba-tiba dipeluk dari belakang pun menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan spatula di wajan dan mengelus lembut kedua tangan Aleta yang tengah melingkar di perut sixpack-nya.
"Good morning, My future husband," sapa Aleta dengan senyuman yang manis.
"Good morning, Honey. Kau sudah bangun rupanya. Apakah tidurmu nyenyak semalam?" Bobby melingkarkan tangannya di pinggang ramping Aleta.
"Iya, Mas. Tidurku nyenyak. Bagaimana denganmu, Sayang?" Aleta melingkarkan tangannya di leher calon suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja, setelah kau hadir di kehidupanku. Setiap malam aku selalu tidur dengan nyenyak dan bermimpi tentang kita," jawab Bobby.
"Benarkah? Apa yang Mas mimpikan tentang kita?" tanya Aleta dengan tatapan yang lekat.
Bobby menggendong tubuh Aleta dan mendudukkannya di atas meja pantry. Kemudian Bobby mendekatkan bibirnya ke telinga Aleta. "Aku mimpi kita pergi berbulan madu, malam itu kau bermain sangat lihai. Kau benar-benar agresif," bisikan Bobby.
Bugh!
Aleta secara refleks memukul pelan dada bidang calon suaminya. "Mas! Kenapa Mas memimpikan hal itu, itu sangat memalukan untuk dibicarakan. Jangan ceritakan hal itu lagi, aku masih polos, Mas." Aleta memelototi calon suaminya.
"Haha, benarkah? Aku rasa setelah kau bersamaku kau sudah tidak sepolos itu lagi," goda Bobby sembari mencolek dagu Aleta.
"Semua itu karenamu, Mas. Mas selalu nyosor mulu!" timpal Aleta dengan ketus.
Kemudian Aleta turun dari meja pantry dan berjalan meninggalkan Bobby dengan wajahnya yang masam. Bobby tertawa gemas melihat tingkah laku Aleta yang menurutnya sangat menggemaskan. Tanpa berlama-lama, dia mengejar Aleta dan menarik tangannya.
"Ekhem, ada yang merajuk nih," sindir Bobby dengan memegang tangan calon istrinya.
"Lepasin tanganmu, Mas!" tegas Aleta tanpa menoleh.
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu, Leta. Masa gitu aja marah, aku hanya bercanda, Sayang." Bobby memeluk Aleta dari belakang.
Aleta tidak menanggapi ucapan Bobby. Dia benar-benar bete setelah mendengar ucapan Bobby. "Jika kau marah, maka aku akan memotong gajimu 70%, bagaimana?" ancam Bobby.
Mendengar itu, sontak Aleta langsung melepaskan pelukan Bobby dan membalikkan badanya. Kini dia berhadapan dengan calon suaminya. "Jangan mengancamku seperti itu, Mas. Itu curang!" omeli Aleta.
"Kenapa, jika kau bisa merajuk padaku seperti itu maka aku pun bisa memotong gajimu kapanpun aku mau, sangat adil 'kan?" Bobby menaik-turunkan alisnya.
"Mas! Jangan curang! Ini tidak adil, masa main potong gajiku seperti ini. Mas tidak boleh curang!" rengek Aleta dengan ekspresi yang cemberut.
"Kenapa tidak boleh? Aku ini atasanmu, aku boleh melakukan apapun termasuk padamu juga." Bobby mengedipkan sebelah matanya.
"Oh, jadi Mas mau seperti itu. Baiklah, lihat saja, begitu Leta menjadi istri Mas, Leta akan memegang semua uang Mas, Leta akan menghabiskannya!" ancam Aleta.
Mendengar itu Bobby tersenyum. "Itu yang aku inginkan, Leta. Tidak masalah jika seluruh uang bahkan hartaku menjadi milikmu asalkan istriku bahagia dan tidak pernah mengkhianatiku. Bukan hanya harta saja, bila perlu aku akan memberikan nyawaku untukmu," skak Bobby.
Aleta tercengang mendengar ucapan calon suaminya. 'Dasar aneh!' Aleta mengumpat di dalam hatinya.
****
__ADS_1