Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Cesya Kembali


__ADS_3

Mobil Bobby sampai di salah satu perumahan yang di mana ada salah satu rumah yang tidak berpenghuni dalam artian, rumah ini kosong. Aleta mengernyitkan alisnya. Dia bingung, kenapa Presdir Bobby mengajaknya ke perumahan itu, sedangkan bosnya itu sudah memiliki rumah yang bak istana itu.


"Ayo, keluar," ajak Bobby pada asistennya.


"Iya, Pak." Aleta membuka seat belt. Kemudian dia keluar dari mobil secara bersamaan dengan bosnya.


Saat ini Aleta sangat ingin bertanya mengenai kedatangannya ke perumahan itu, akan tetapi dia tidak berani untuk menanyakan hal itu. Rasanya tidak sopan jika dia mempertanyakan apa yang seharusnya tidak dia tahu. Lagi pula kepo adalah bukan karakternya.


Aleta hanya bisa mengikuti setiap langkah Presdir Bobby tanpa bertanya apapun. Begitu mereka masuk rumah itu, bosnya mempersilakan Aleta untuk duduk di sofa yang tertutup kain putih. Tanpa menolak, dia duduk di sofa itu.


Kini matanya menelisik setiap sudut di rumah itu. Bukan hanya itu, Aleta juga menebak-nebak tentang siapa pemilik rumah ini. 'Apakah ini rumah mantan istrinya?' pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di benaknya, sehingga pada akhirnya dia pun memberanikan diri untuk bertanya pada bosnya mengenai tebakannya itu.


"Pak Bobby, apa ini rumah mantan istri Pak Bobby?" tanya Aleta dengan sedikit ragu.


"Haha, mantan istri apa? Saya tidak pernah menginjakkan kaki di rumah masa laluku. Asal kau tahu saja, saya membeli rumah ini untukmu dan juga keluargamu. Saya ingin kau bisa mengurus serta membahagiakan mereka," jelas Presdir Bobby dengan tatapan yang serius.


"Apa? Untukku?" Aleta terkejut dengan matanya yang membola dengan sempurna.


Presdir Bobby hanya mengangguk membenarkan ucapan Aleta. "Sekarang, ikut saya untuk menelusuri setiap ruangan di sini. Barangkali rumah ini tidak sesuai dengan seleramu. Ayo," ajak Presdir Bobby seraya berjalan menuju arah kamar.


Rasanya tian percaya jika dia akan segera memiliki rumah. Ya, walaupun rumah ini adalah pemberian bosnya, tapi dia akan bekerja dengan sekeras mungkin untuk melunasi rumahnya. Padahal jika dia tahu, Bobby tidak meminta Aleta untuk menyicil rumahnya namun, karena dia tahu jika Aleta akan merasakan canggung. Dia pun meng-iyakan ucapan sekretarisnya.


Ruangan demi ruangan mereka telusuri. "Apa kau menyukai rumah ini, Aleta?" tanya Bobby.


"Pak Bobby tidak perlu menanyakan hal itu, karena sudah pasti jika aku menyukai rumah ini. Oh iya, Pak ... saya 'kan baru bekerja menjadi sekretaris Pak Bobby, apa ini tidak terlalu berlebihan jika memberikan saya benefit secepat ini?" Aleta menatap bosnya.


"Kau tahu, kenapa saya memberikan benefit di awal?" Bobby menunjukkan senyumannya yang penuh misteri.


Aleta menggelengkan kepalanya. "Tidak. Memangnya kenapa, Pak?" tanya Aleta dengan wajah yang bingung.


"Agar kau lebih bertanggungjawab lagi dalam tugas-tugasmu. Selain itu, saya juga ingin membuatmu betah bekerja dengan saya. Sebab saya menyukaimu," jelas Bobby secara terang-terangan.


"Apa? Menyukai saya? Mm-maksud Pak Bobby apa?" tanya Aleta dengan sedikit gelagapan karena gugup.


"Lupakan! Saya hanya menyukai kinerjamu. Saya suka tujuanmu dalam bekerja. Itulah, kenapa saya ingin memberikan benefit di awal. Kau beruntung menjadi sekretaris saya, di luaran sana tidak ada atasan yang memperlakukan sekretaris seperti saya memperlakukanmu," ucap Bobby dengan membanggakan dirinya.


Mendengar kepercayaan diri bosnya yang terlalu tinggi membuat Aleta ingin tertawa, akan tetapi dia tahan karena sangat tidak pantas jika dia mentertawakan atasanya seperti itu. "Pak Bobby benar, saya sangat beruntung bisa menjadi sekretaris Bapak. Pak Bobby ini selain duren sawit, Pak Bobby juga baik hati dan tidak sombong," sindir Aleta dengan tatapan yang penuh arti.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Jangan menyebut julukan itu! Saya tidak menyukainya. Entah siapa orang pertama yang memberikanku julukan aneh seperti itu." Bobby terlihat bete dan melanjutkan penelusuran di rumah itu.


Bobby ingin rumah itu menjadi tempat ternyaman untuk sekretarisnya. Dia tidak ingin di cao sebagai Bos yang pelit ataupun Bos yang buruk. Sebenarnya dia juga heran, kenapa dia bersikap seperti ini pada Aleta.


Kenapa dia menginginkan Aleta hidup dengan nyaman dan bahagia. Padahal Aleta hanyalah seorang sekretaris muda yang dia tawarin pekerjaan itu.


Setelah beberapa jam kemudian, mereka pun pulang. Kali ini Aleta yang menyetir dan mengantar pulang Presdir Bobby.


****


Setelah sampai di Albern Home, keduanya keluar dari mobil dan hendak masuk ke rumah melalui pintu utama. Begitu sampai di ruang tengah, mereka dikejutkan dengan sosok wanita cantik, modis dan seksi. Tubuh wanita itu benar-benar body goals. Berbeda dengan body Aleta yang mungil, langsung dan imut.


Wanita seksi itu tidak lain dan tidak bukan adalah Cesya Dree, yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan istrinya. Melihat itu, tentu saja Bobby terlihat sangat marah. Matanya yang merah serta wajahnya merah padam menandakan jika dia sedang menahan amarahnya.


Seandainya saat ini tidak ada Aleta, mungkin Bobby akan segera menyeret keluar wanita tidak tahu diri itu keluar dari rumahnya. Hatinya sangat geram. Entah bagaimana dia bisa tahu alamat rumahnya. Dan apa tujuannya datang menemuinya lagi?


Sementara itu, Aleta menatap bosnya yang saat ini sedang menatap tajam penuh kemarahan ke arah wanita seksi itu. Sehingga, mulai terlintas di benaknya tentang wanita itu. 'Mungkinkah, wanita ini adalah kekasih Pak Bobby? Atau mungkin ini adalah mantan istrinya yang telah meninggalkan pria lebih mapan dan meninggalkan Pak Bobby?'


"Aleta!" panggil Bobby dengan tegas.


"Iya, Pak," jawab Aleta.


Mendengar ucapan seperti itu tentu saja Aleta terkejut bukan main. Matanya menyimpan banyak sekali pertanyaan mengenai ucapan bosnya itu. Jantung dia terasa berhenti berdetak, entah apa yang akan dia lakukan bahkan dia bingung harus menjawab apa. Dirinya terlalu gugup, ketika bosnya sendiri telah mengelus lembut kepalanya.


"Iya, Pak eh Mas." Aleta salah tingkah karena ulah bosnya itu.


Saat ini dia tengah menetralkan debaran jantungnya. Dia tidak nyaman berasa di posisi saat ini akan tetapi dia tidak bisa menolaknya. Bobby yang mengetahui kegugupan Aleta, dia segera menggenggam tangan sekretarisnya.


"Sayang, sebelumnya aku tidak memberi tahumu tentang mantan istriku. Dan wanita yang berada di hadapan kita ini adalah mantan istriku bernama Cesya Dree." Bobby memperkenalkan Cesya pada Aleta.


'Dugaanku benar ternyata. Dia adalah mantan istrinya. Oh, jadi saat ini Pak Bobby sedang bersandiwara,'


"Sayang, apa yang kau pikirkan? Apa kau sakit?" tanya Bobby penuh kelembutan.


"Eh, enggak kok, Mas. Aku hanya tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan mantan istrimu yang cantik ini," jawab Aleta seraya menoleh ke arah Cesya.


Mendengar pujian yang keluar dari bibir Aleta, tentu saja membuat Aleta sangat percaya diri bahkan menyombongkan dirinya di hadapan Bobby, sang mantan suaminya. Ternyata itu trik Cesya untuk mengikat kembali perasaan Bobby padanya. "Aku pun tidak menyangka akan bertemu dengan calon tunangan Mas Bobby yang standarnya begitu rendah." Cesya memicingkan matanya ke arah Aleta.

__ADS_1


Glek!


Aleta tertegun mendengar ucapan mantan istri bosnya yang begitu tajam. Berbeda dengan Aleta, Bobby yang mendengar itu justru malah tertawa. Dia merasa ucapannya begitu lucu karena yang sebenarnya standarnya rendah itu adalah dirinya sendiri.


"Aleta, Sayang. Kau tahu, terkadang kita harus menutup telinga untuk hal yang tidak penting dan pantas untuk di dengar. Karena masih ada orang yang bicara tanpa berpikir. Mereka sampai lupa jika ucapannya adalah sebuah nyinyiran untuk dirinya sendiri. Sebaiknya kau tunggu di ruanganku, aku akan segera menyusulmu." Bobby mengelus wajah mulus Aleta.


Aleta hanya mengangguk dan pergi ke ruangan Bobby yang berada di lantai atas. Dia tahu jika Presdir Bobby ingin menyelesaikan masalah ini dengan mantan istrinya. Lagian dia juga tidak begitu menyukai kecanggungan ini yang terjebak diantara mantan pasangan suami istri ini.


Setelah kepergian Aleta, Bobby pun menyeret Cesya Dree keluar dari rumahnya. Akan tetapi, dia bersikeras tidak ingin pergi dari kediaman mantan istrinya. "Aku akan keluar dari rumahmu setelah kau mau berbicara denganku. Aku ke mari karena ada hal yang ingin aku katakan padamu yang seharusnya aku mengatakannya beberapa tahun yang lalu." Cesya menjatuhkan air mata buayanya di hadapan mantan suaminya. Dia berharap Bobby akan kembali luluh dan mau menerimanya kembali.


"Kau beruntung karena saat ini suasana hatiku sedang baik. Jika tidak kau akan melihat sisi lain dari diriku. Sekarang duduklah, katakan apa tujuanmu datang menemuiku dan dari mana kau tahu alamat rumahku?" tanya Bobby seraya mempersilakan mantan istrinya untuk duduk.


Sekesal-kesalnya dia, dia tidak akan mungkin memperlakukan wanita seperti itu. Apalagi Cesya pernah singgah di hatinya dan menjalani hidupnya bersama walaupun kandas di tengah jalan. Bobby duduk berhadapan dengan mantan istrinya.


"Langsung pada intinya saja! Kenapa kau datang menemuiku lagi?" Bobby duduk dengan tegap dan menatap Cesya dengan tatapan yang sangat tajam.


Cesya menyeka air matanya dengan kasar. Dia membalas tatapan Bobby dengan tajam juga. "Aku datang menemuimu karena aku ingin minta maaf padamu, Mas. Aku ingin meminta maaf padamu beberapa tahun yang lalu akan tetapi aku tidak bisa menemukan keberadaanmu. Aku tidak tahu di mana kau tinggal dan bagaimana keadaanmu. Aku selalu merasa bersalah padamu. Seharusnya aku tidak menceraikanmu dan memilih pria brengsek itu! Aku telah ditipu habis-habisan olehnya. Aku menyesal karena telah meninggalkanmu, Mas." Lagi-lagi dia meneteskan air mata buayanya.


Dia telah memanipulasi kisahnya. Semua yang dia ceritanya tidak sepenuhnya benar. Dia ingin mantan suaminya ini luluh dan mulai tergila-gila lagi padanya.


"Tanpa kau meminta maaf seperti ini pun, aku sudah memaafkanmu. Asal kau tahu saja, setelah bercerai denganmu hidupku menjadi lebih baik. Justru aku sangat bersyukur dengan bercerai denganmu aku setidaknya tahu seperti apa karaktermu selama ini. Kau lebih mencintai bahkan menggilai harta. Aku tidak pernah menyesal telah bercerai denganmu. Jadi, untuk apa kau menceritakan kisahmu ini padaku? Pria yang kau anggap pria berengsek itu adalah pilihanmu. Semua ini adalah keputusanmu sendiri. Maka jalani saja hidupmu dan jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi. Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Kalau perlu anggap kita tidak pernah saling mengenal!" tegas Bobby.


Cesya merasa tertampar dengan ucapan Bobby. Dia tidak menyangka jika Bobby yang dia kenal selama ini telah berubah menjadi sosok pria yang tegas, dingin, cuek dan sedikit arrogant. "Mas, apa kau sudah melupakanku? Apa namaku tidak ada di hatimu lagi? Tidakkah ada sedikit perasaan untukku?" Mata Cesya berkaca-kaca.


"Jangan ngaco! Kau ini adalah mas lalu kelamku saja! Namamu telah hangus bersamaan dengan amarahku saat itu. Hanya ada satu perasaan yang tersisa untukku. Dan perasaan itu adalah KEBENCIAN! Hanyalah kebencian yang aku rasakan padamu. Maka dari itu, menjauhlah dari kehidupanku. Jika kau datang menemuiku karena uang, maka aku akan memberikannya karena sewaktu kita bercerai aku tidak memberikan sepeser harta untukmu. Jadi, aku akan memberikanmu sekarang."


"Bi Nur, tolong ambilkan cek di ruang kerjaku!" perintah Bobby pada pelayannya.


Setelah beberapa menit kemudian, Bi Nur datang dengan cek. "Ini, Tuan ceknya." Bi Nur memberikan cek pada tuannya.


"Terima kasih. Bi Nur boleh pergi,"


"Baik, Tuan. Saya permisi." Bi Nur pergi dari hadapan tuannya.


Tanpa berlama-lama lagi, Bobby segera menuliskan nominal sebesar 750 juta untuk mantan istrinya. Setelah itu, dia memberikan pada Cesya. "Aku harap setelah ini kita tidak pernah bertemu lagi!" Bobby beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Cesya.


Sementara itu, Cesya merasa sakit hati. Dia tidak menyangka jika Bobby tidak tertarik padanya lagi. Cesya mengambil cek itu dan pergi. Dalam hatinya dia berkata. "Aku tidak akan menyerah, melihatmu yng sekarang justru aku semakin yakin untuk mengejarmu lagi! Aku akan menghalalkan segala cara agar kau bisa menjadi milikku lagi, Bobby Albern!" gumam Cesya seraya berjalan keluar rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2