Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Paket Dari Calon Suami


__ADS_3

Albern Home ...


Kini Bobby dan orang tuanya telah sampai di kediamannya. Mereka keluar dari mobil bersama Hadwin, sang CEO Albern food. Kemudian mereka semua masuk rumah melalui pintu utama.


Pada saat mereka sudah memasuki rumahnya, mereka disambut oleh ART Bobby yang bernama Nurmeida. "Selamat datang, Tuan, Nyonya, Tuan muda dan Nak Hadwin. Mari masuk," sambut Bi Nur.


"Terima kasih, Bi. Oh iya, Mom, Dad ... Perkenalkan ini Bi Nur," Bobby memperkenalkan ART rumahnya ke orang tuanya.


Orang tua Bobby hanya tersenyum dan mengangguk kecil. "Biar saya yang membawa kopernya Tuan-Nyonya," tawar Bi Nur.


"Terima kasih, Bi." Ellena memberikan kopernya pada Bi Nur.


"Sama-sama, Nyonya. Nyonya jangan berterima kasih seperti itu karena ini sudah menjadi tugas saya." Bi Nur tersenyum ramah seraya membawa koper majikannya.


"Ayo, Mom-Dad," Bobby mengajak orang tuanya ke ruang tengah.


"Iya, Nak." Allard dan Ellena pun berjalan menuju ruang tengah bersama putranya.


Sesampainya di ruang tengah, mereka pun duduk di sofa. Mereka menyandarkan kepalanya di sofa tersebut untuk menghilangkan rasa penatnya. Gak lama kemudian, Bi Nur datang dengan membawa minuman segar untuk manikannya.


"Silakan diminum, Tuan-Nyonya dan Tuan muda." Bi Arum meletakkan minumannya itu di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi. Bibi boleh pergi," ucap Bobby.


"Maaf, Tuan. Kenapa Nak Hadwin tidak diajak ke ruang tengah?" tanya Bi Nur karena dia melihat Hadwin masih berada di depan pintu.


"Astaga, Bobby lupa. Haha, Mom-Dad Bobby ke depan sebentar. Bisa-bisanya Bobby lupa seperti ini," Bobby cengengesan seraya garuk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.


"Ya ampun, Tuan muda." Bi Nur tertawa kecil.


Sementara itu, orang tua Bobby hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil. "Saya permisi dulu, Tuan-Nyonya." Bi Nur menundukkan kepalanya tanda hormat. Kemudian dia pergi menuju dapur.


Sedangkan Bobby, dia pergi ke pintu depan untuk mengajak Hadwin. Tak lama kemudian, dia sampai di pintu depan dan benar saja jika Hadwin masih berdiri di pintu depan Albern Home. "Hadwin, astaga ... kenapa kau masih berdiam diri di sini? Ayo masuk." Bobby merangkul Hadwin dan membawanya masuk.


"Bagaimana saya bisa masuk sementara Pak Bobby tidak mengajak saya. Saya tidak akan selancang itu masuk tanpa ajakan dari Pak Bobby," kekeh Hadwin.


Hadwin mengikuti bosnya dengan mengikutinya masuk ke rumah yang super mewah itu. Keduanya berjalan menuju menuju ruang tengah. "Silakan duduk, Win." Bobby mempersilakan Hadwin untuk duduk.


"Terima kasih, Pak Bobby." Hadwin menundukkan kepalanya, lalu duduk di sebelah atasannya dan juga berhadapan dengan orang tua Bobby.


****


Kediaman Aleta ....

__ADS_1


Saat ini keluarga Aleta tengah sibuk mempersiapkan hidangan mewah untung kedatangan besannya. Sementara itu, Aleta berada di kamarnya. Dia sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan untuk malam ini.


Disaat dia sedang sibuk memilih pakaian, tiba-tiba ponselnha bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Dengan cepat, Aleta menaruh semua gaun yang sedang dia pilih dan meraih ponselnya. Tanpa berlama-lama, dia membaca pesan yang tidak lain dan tidak bukan dari calon suaminya, Bobby Albern.


{Sayang, aku mengirimkan sesuatu untukmu pakai malam nanti. Aku ingin kau memakainya di depanku dan juga keluargaku. Sebentar lagi, paket itu akan sampai di rumahmu. Love you}.


Seketika mata Aleta langsung berbinar dan meloncat kegirangan. "Suami idaman. Dia tahu aja jika saat ini aku sedang bingung memilih dress yang akan aku pakai nanti malam," gumam Aleta dengan senyuman yang merekah.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kamar Aleta. Dengan sangat antusias, Aleta segera membuka pintunya. "Ibu," panggil Aleta.


"Sayang, ini ada paket untukmu." Devica memberikan sebuah paket berbentuk kotak.


"Terima kasih, Bu." Aleta langsung mengambil paket itu dengan terus tersenyum.


"Ekhem! Paket dari siapa tuh," sindir Devica sembari berdehem kecil.


"Ah, Ibu pura-pura tidak tahu saja. Jelas ini paket dari calon suamiku," jawab Aleta dengan malu-malu kucing.


"Ya ampun putri Ibu ini langsung merona gini saat menerima paket dari calon suaminya," goda Devica.

__ADS_1


"Aah, Ibu! Jangan menggoda Leta seperti itu." Aleta tertunduk malu dengan memeluk paketnya.


****


__ADS_2