
Pagi hari ....
Nisa sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sedangkan Aleta, dia baru saja bangun dan rambutnya masih berantakan. Mengetahui sahabatnya akan pergi, Aleta langsung duduk dan mengucek-ngucek matanya yang masih lengket.
"Sa, lo mau berangkat sekarang?" tanya Aleta dengan suara yang khas bangun tidur.
"Iya, gue mau berangkat sekarang. Ta, gue boleh minta tolong enggak?"
"Apa?"
"Gue nebeng mobil lo boleh? Motor gue harus di service lagi keknya. Lo mau ke kantor juga 'kan?"
"Gue sebenarnya malas ke kantor, Mas Bobby masih merajuk. Semalam aja dia enggak ada hubungi gue setelah dia balik dari rumah gue. Lagian, di kantor gue mau ngapain? Gue udah cuti kerja ini." Wajah Aleta langsung berubah menjadi bete.
"Lo sih, salah sendiri. Kenapa enggak lo cium aja tuh Pak Bobby, dari pada marah kek gini 'kan nyeremin," celetuk Nisa.
"Ya, mana gue tau kalau dia akan merajuk kek gini. Masa cuma gara-gara kiss bisa merajuk kek gini. Gue enggak ngerti deh sama pola pikir cowok," timpal Aleta
"Ya karena lo enggak nepatin janjinya. Dan lo tahu? Cowok itu paling benci sama cewek yang suka mengingkari janjinya. Lebih baik lo minta maaf sama dia, jangan marahan terlalu lama. Ingat, minggu depan kalian akan menikah. Masa iya calon pengantin marahan." Nisa memberi saran pada sahabatnya sembari menepuk pundaknya pelan.
__ADS_1
"Iya, iya. Gue akan minta maaf sama dia. Tungguin gue di bawah. Gue mau mandi dulu bentar." Aleta berjalan menuju lemarinya dan mengambil handuk bersih.
"Okay, lo jangan lama ya. Gue enggak mau sampai telat," ujar Nisa.
"Iya. Bawel lo," timpal Aleta dengan memicingkan matanya.
Tanpa berlama-lama lagi, Aleta langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan Nisa, dia keluar dari kamar. Dia berjalan menuruni setiap anak tangga. Sesampainya di lantai dasar, dia berpapasan dengan ibunya Aleta.
"Nisa, kamu baru mau berangkat?" tanya Devica pada Nisa yang baru saja turun.
"Iya, Tan."
"Leta sedang mandi, Tan. Dia mah ke kantor bareng Nisa."
"Ke kantor? Loh, bukannya Leta udah cuti kerja ya?" Devica mengernyit kedua alisnya.
"Leta mau meminta maaf sama Pak Bobby, Tan. Dia baru menyadari jika perbuatannya semalam itu salah. Oh iya, Tante habis dari mana?" Nisa balik bertanya pada ibu sahabatnya.
"Tante habis nyiram tanaman. Sa, kamu sarapan dulu gih. Tante udah siapin sarapan buat kamu dan Leta, Ayo." Devica mengajak Nisa ke meja makan.
__ADS_1
"Iya, Tante. Terima kasih," ucap Nisa disertai senyuman yang ramah.
"Sama-sama, Sa. Kamu jangan sungkan ya, kalau mau nginep di sini nginep aja. Anggaplah rumah sendiri. Lagi pula Tante udah anggap kamu sebagai anak tante sendiri." Devica mengelus lembut rambut Nisa.
"Siap, Tan. Terima kasih banyak ya Tante." Nisa memeluk ibu dari sahabatnya.
"Sama-sama, Nisa. Ayo kamu sarapan dulu, nanti keburu dingin enggak enak." Devica melepaskan pelukannya dan menarik kursi meja makan.
"Iya, Tante." Nisa pun duduk dan sarapan.
***
Di kamar Aleta ...
Kini Aleta sudah selesai mandi. Saat ini dia tengah duduk di meja rias. Bukan untuk merias wajah melainkan sedang menunggu pesan dari calon suaminya. Walau wajahnya sudah terlihat sangat cantik, tetap saja dia masih menunjukkan kebeteannya.
'Segitu marahnya Mas Bobby sampai dia enggak kirim pesan padaku. Apa sikapku semalam sudah keterlaluan?' Aleta bermonolog dalam lamunannya.
****
__ADS_1