Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Syarat


__ADS_3

"Hah? Bagaimana bisa? Apa, Mas sudah melakukan tes DNA pada James?" Aleta bertanya dengan memasang wajah yang bertanya-tanya.


"Itu tidak perlu, karena aku sudah tahu siapa ayah James sebenarnya." Bobby tersenyum penuh bahagia dengan merangkul calon istrinya.


"Bagaimana caranya? Apakah Bu Cesya yang mengatakannya?"


"No, ayah James sendiri lah yang mengatakannya."


"Benarkah? Bagaimana jika James adalah anakmu, Mas?" Aleta menatap lekat Bobby.


"Sudahlah, percaya padaku. James bukan anakku, dia anak Garvin. Dia sudah menunjukkan bukti DNA yang menunjukkan jika James memang anaknya. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan hal ini lagi. Pikirkanlah tentang pernikahan kita. Aku tidak ingin kamu sakit cuma gara-gara ucapan Cesya." Bobby menangkup kedua pipi Aleta dan membalas tatapan lekat calon istrinya.


Sebenarnya Aleta masih ingin bertanya mengenai rahasia Bobby, akan tetapi dia mengurungkan niatnya karena tidak ingin memperpanjang masalah. Dia hanya bisa menganggukkan kepala disertai senyuman kecilnya. Kemudian Bobby mengajaknya duduk di sofa panjang.


"Duduklah, ada yang ingin aku tunjukkan padamu," tutur Bobby dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Aleta duduk dan diikuti oleh Bobby yang duduk di sebelahnya. Pada saat Bobby hendak menunjukkan sesuatu tiba-tiba Devica datang dengan membawa dua gelas minuman segar beserta cemilan. "Nak, Bobby. Silakan cicipi cemilan sederhananya. Semoga Nak Bobby suka ya," ujar Devica dengan ramah.


"Terima kasih banyak, Bu. Kenapa Ibu repot-repot seperti ini? Bobby bukan tamu Ibu, aku ini menantu Ibu." Bobby merasa tidak enak jika diperlakukan layaknya seperti tamu yang selalu dihidangkan cemilan dan minuman.


"Mas Bobby benar, Bu. Kenapa Ibu repot-repot seperti ini. 'Kan ada Leta di sini. Leta bisa membuat cemilan untuk Mas Bobby," timpal Aleta.


"Sudah, jangan seperti itu. Ibu hanya ingin putri dan menantu Ibu Selalu ngemil. Kalau gitu, Ibu ke dapur dulu. Kalian lanjutkan ngobrolnya." Devica menaruh cemilan dan minumannya.


"Terima kasih, Bu," ucap Bobby dengan senyuman yang ramah.


Setelah kepergian Devica, Aleta menoleh ke arah calon suaminya. "Mas, apa yang mau Mas tunjukkan sama Leta?" tanya Aleta dengan wajah yang penasaran.


"Ini loh Sayang ... aku mau tunjukkan tempat yang akan kita datangi untuk berbulan madu." Bobby merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.


"Mas, pernikahan kita masih lama tapi Mas sudah menyiapkan tempat untuk berbulan madu," ucap Aleta dengan ekspresi yang malu-malu kucing.

__ADS_1


"Lihatlah ini, tempat mana yang kamu sukai," Bobby mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan foto tempat-tempat yang akan mereka datangi setelah menikah.


Aleta tersenyum sembari mengambil ponsel Bobby. Matanya tertuju pada layar ponsel yang memperlihatkan tempat-tempat romantis dan juga aesthetic. Jari jempolnya menggeser setiap slide untuk melihat tempat-tempat pilihan kekasihnya.


"Bagaimana? Tempat mana yang kamu sukai?" tanya Bobby dengan wajah yang penasaran.


"Eum ... bagaimana kalau kita pergi ke pulau jeju? Pemandangan di sana sangat indah dan terkenal dengan kerang abalonnya enak?" alih-alih menjawab, Aleta justru balik bertanya pada Bobby.


"Jeju? Korea maksudmu?" tebak Bobby dengan mengerutkan kedua alisnya.


Aleta mengangguk mantap. "Yup, Leta ingin sekali pergi ke Korea. Leta ingin berkeliling Korea, dan mencoba setiap makanan khas sana. Apa Mas Bobby keberatan jika Leta ingin pergi ke Korea?"


"Tentu saja, tidak. Kenapa aku harus keberatan. Karena ke negara manapun kita pergi asalkan aku bisa bersama istri kecilku ini. Asal ada satu syarat yang harus kau penuhi." Bobby menaik-turunkan alisnya.


"Syarat? Apa itu?" Aleta mengerutkan keningnya.

__ADS_1


****


__ADS_2