
Aleta tertegun mendengar kata kekasihnya. Wajahnya langsung berubah pucat. Tidak terbayang jika dia harus menciumnya sepuluh kali.
'Aduh, bisa dower bibirku,' Aleta bermonolog dalam lamunannya seraya meremas jemarinya.
Tangan Bobby seketika langsung menggenggam tangan calon istrinya. Dia tahu jika Aleta sedang gugup dibuatnya. Sementara itu, Aleta se makin takut lagi saat kedua tangannya digenggam.
"Apa kamu takut, Sayang?" tanya Bobby dengan sedikit menggoda Aleta.
"**-takut? Aku takut? Haha, ya enggaklah, masa iya aku takut sama duren sawit?" Aleta mengelak seraya menaik-turunkan alisnya.
Aleta ingin menyembunyikan kegugupannya. Karena jika Bobby tahu dia sedang gugup maka akan terus diledek. Dan gadis ini tidak ingin diledek oleh calon suaminya sendiri.
"Oh, baiklah. Sekarang aku meminta hakku! Bisa kamu berikan hakku itu?" tantang Bobby dengan bibirnya yang sudah dimajukan.
"Eh, tunggu dulu!" Aleta menempelkan telapak tangannya di bibir Bobby.
"Kenapa? Apa kamu takut?" sindir Bobby dengan mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Ya, aku takut. Puas! Puas, kamu ledekin aku." Aleta cemberut dengan melipat kedua tangan di dada.
__ADS_1
Bobby tertawa gemas melihat tingkah laku calon istrinya. Perlahan dia mengelus lembut kepala Aleta dan menangkup kedua pipinya. "Ululu, gemesin banget sih istri kecilku ini," goda Bobby dengan tatapan yang teduh.
"Apaan sih, enggak lucu!" Aleta masih menunjukkan kekesalannya.
Dia memalingkan wajahnya dari kekasihnya. Sementara itu, Bobby hanya menggelengkan kepala sembari tangan kanannya meraih sesuatu di kursi belakang. Bobby mengambil beberapa kotak yang terbungkus kantong plastik.
"Ini pizza buat kamu dan juga keluargamu." Bobby memberikan beberapa kotak pizza pada kekasihnya yang sedang merajuk.
Mendengar itu, sontak Aleta langsung menoleh. Kedua maniknya seketika berbinar. Dia tidak menduga kalau ucapannya benar, dengan membelikan pizza.
"Mas, ini ...."
"Pizza untukmu, Sayang." Bobby tersenyum.
"Tentu saja. Sekarang kamu enggak merajuk lagi 'kan?"
Aleta menggelengkan kepalanya. "Enggak dong, Mas 'kan udah bawain aku pizza. Ayo, berikan pizzanya," pinta Aleta uang sudah tidak sabar ingin melahap makanan kesukaannya.
"Eittz, tunggu dulu!" Bobby tidak langsung memberikan pizza-nya.
__ADS_1
"Apa lagi sih, Mas? Aku udah enggak sabar ingin makan pizza ini." Aleta kembali mengerucutkan bibirnya.
"Kiss dulu." Lagi-lagi Bobby kembali menagih haknya.
"Ayolah, Mas. Nanti saja setelah menikah. Pas honeymoon, jangan sekarang ya." Aleta membujuk Bobby dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Itu hakku loh, kamu kalah taruhan. Jangan curang dong."
"Ayolah, Mas. Nanti saja ya." Aleta terus membujuk Bobby agar tidak meminta haknya. Dia memeluk lengan calon suaminya.
"Ya sudah, kalau gitu kamu masuk ke rumah. Aku akan pulang sekarang." Bobby melepaskan tangan Aketa yang sedang melingkar di lengannya.
Kemudian Bobby memakai seat belt dan menghidupkan mesin mobilnya. "Itu pizza-nya jangan lupa dibawa. Katakan pada ibumu, aku ada urusan mendadak!" tegas Bobby tanpa menoleh ke arah Aleta lagi.
Aleta yang melihat perubahan dari sikap Bobby pun merasa tidak enak. Dia merasa takut dengan sikapnya yang ini, sebab selama ini Bobby belum pernah menunjukkan sikapnya yang seperti ini. Dengan tangannya yang gemetar, Aleta mengambil pizza itu.
"Baiklah, aku masuk dulu. Mas hati-hati di jalannya. Terima kasih untuk makanannya," ucap Aleta sembari keluar dari mobil Bobby.
Mendengar ucapan itu Bobby hanya bisa tercengang. Dia tidak menyangka kalau Aleta akan pergi sedingin itu. Gadis itu bahkan tidak menepati janjinya atau membujuknya.
__ADS_1
"Leta, bisa-bisanya kamu bersikap seperti ini pada calon suamimu? Apa aku ini tukang pengantar pizza? Miris sekali malam ini." Mata Bobby masih melihat ke arah Aleta yang berjalan menuju pintu rumah.
****