Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Konspirasi Cinta


__ADS_3

Tak lama kemudian, mereka berempat sudah sampai di salah satu restoran yang tidak begitu jauh dari kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka semua keluar dari mobil secara bersamaan dari pintu yang berbeda. Bobby mengitari mobil dan meraih telapak tangan kekasihnya.


Dalam hitungan detik, tangan Aleta sudah digenggam oleh Bobby dan mengajaknya memasuki restoran. Sementara itu, Nisa dan Hadwin mengikuti atasannya dengan berjalan perlahan tepat di belakangnya. Setelah memasuki restoran itu, Bobby memiliki sebuah meja yang berada di pojok.


Tanpa membuang waktu lagi, Bobby memanggil salah seorang waiters dan memesan makanan sesuai selera masing-masing. Setelah memesan, waiters tersebut pergi dari meja Bobby dan segera menyiapkan pesanannya. Sambil menunggu pesanan siap, mereka mengabadikan moment saat itu juga melalui sebuah jepretan kamera ponsel.


Posisi duduknya persis seperti double dates di mana Aleta duduk di sebelah Bobby dan juga sahabatnya. Sementara itu, Nisa duduk di sebelah Aleta dan juga Hadwin. Begitupun dengan Hadwin, dia duduk di sebelah Nisa dan juga atasannya. Posisi mereka lebih tepatnya seperti berhadap-hadapan dengan pasangan masing-masing.


Tak lama kemudian, setelah beberapa menit lamanya menunggu pesanan siap. Waiters tadi pun datang dengan membawa pesanan Bobby beserta kekasih dan rekannya. Dengan sangat hati-hati, waiters itu menaruh pesanan itu di meja Bobby dengan melemparkan senyuman yang ramah.


"Selamat menikmati," tutur waiters dengan nada yang sangat ramah.

__ADS_1


Dibalas dengan anggukan kecil oleh Bobby dan yang lainnya. Setelah itu, waiters tersebut kembali ke belakang untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Bobby yang melihat waiters itu sudah pergi langusng mempersilakan Nisa dan Hadwin untuk makan.


"Ayo di makan makanannya. Kamu juga makan yang banyak ya, Sayang." Bobby menoleh ke samping tepatnya ke arah Aleta sembari menyentuh tangan kekasihnya dengan lembut.


"Iya, Mas." Aleta tersenyum sembari mengambil makanannya.


Mereka pun fokus makan tanpa adanya pembicaraan. Hanya saja mata Hadwin diam-diam memperhatikan Nisa yang sedang asyik makan. Tanpa dia sadari, ternyata Aleta dan Bobby sedang mengawasi gerak-gerik sang CEO tersebut.


"Ekhem ... aku ke toilet bentar ya, Mas." Aleta memberikan kode lewat tatapan matanya pada Bobby.


"Win, saya pergi ke toilet dulu. Kalian lanjutkan saja makannya. Nisa, ajak Hadwin bicara agar kenal," kekeh Bobby dengan sedikit menggoda kawannya.

__ADS_1


"Baik, Pak." Nisa tersenyum kecil untuk menanggapi gurauan bosnya.


Sedangkan Hadwin hanya menatap Bobby tanpa berekspresi sedikitpun. Bagi Nisa hal ini bukanlah hal pertama kalinya. Sebab sikap Hadwin memang sedikit cuek dan cukup dingin layaknya kulkas tiga puluh lima pintu.


Namun, entah es batu dalam diri Hadwin sudah mencair atau tidak, tiba-tiba saja tangan kanannya mengambil sebuah tissue dan dengan gerakan yang cepat pria dingin itu membersihkan sudut bibir Nisa yang terdapat sisa makanan.


"Sudah dewasa kok masih belepotan," ujar Hadwin tanpa ekspresi.


Nisa hanya bisa tertegun sekaligus terdiam mematung kala mendengar ucapan Hadwin serta mendapat serangan mendadak yang seketika membuat jantungnya kembali berdegup kencang tak seirama. Berbeda dengan Hadwin, pria itu tampak santai-santai saja. Setelah membuat Nisa ketar-ketir dengan santainya dia kembali menyantap makanannya sampai habis.


"Ini cowo kalemnya kebangetan banget. Bisa-bisanya dia sesantai ini setelah membuat jantungku dalam bahaya," Nisa mengumpat pelan sembari mengaduk-aduk makanannya.

__ADS_1


Ternyata, tanpa sepengetahuan mereka, Bobby dan Aleta sudah bersepakat untuk membuat Nisa dengan Hadwin menjadi lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain. Mereka ingin kedua manusia beda tingkah itu bersatu seperti dirinya. Itulah kenapa Aleta dan kekasihnya merencanakan makan siang bersama dengan tujuan menjodohkan dua insan tersebut.


****


__ADS_2