
"Eoh?" Nisa langsung mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Hadwin.
"Hari ini kamu sangat cantik, Sa," tutur Hadwin sekali lagi.
Dia memuji Nisa sembari memberikan senyumannya yang mempesona. Sementara itu Nisa hanya tersenyum malu-malu. Baru mendengar pujian saja kini wajahnya sudah merona bak kepiting rebus.
"Kak Hadwin juga tampan banget hari ini," Nisa balik memuji Hadwin.
"Masa? Jadi selama ini aku tidak tampan, begitu?"
"Eh, bukan gitu maksud Nisa. Setiap hari Kakak selalu tampil mempesona. Tidak perlu ditanya lagi soal paras Kakak yang tampan, karena setiap hari semua orang selalu memuji ketampanan Kakak. Cuma hari ini Nisa lihatnya beda. Kakak seperti ...."
"Seperti apa?" potong Hadwin.
"Eumm ... tidak, lupakan saja." Nisa tersenyum kecil.
"Baiklah, sekarang ayo kita makan terlebih dahulu. Setelah itu, ada yang mau aku sampaikan padamu." Hadwin mempersilakan Zainisa untuk makan.
Nisa mengangguk. "Selamat makan, Kak." Nisa mulai memegang garfu dan pisau.
"Ya," jawab Hadwin dengan singkat.
__ADS_1
Mereka pun mulai makan bersama, tak ada obrolan apa pun yang keluar dari bibir mereka. Mereka hanya fokus makan. Meski di ruangan itu cukup hening, mereka masih suka memperhatikan satu sama lain.
Terlebih lagi Hadwin. Sesekali dia tersenyum sembari menatap wanita yang ada di hadapannya. Karena sudah mulai terpikat, dia pun menyudahi makannya dan fokus memperhatikan Nisa yang masih asyik makan. Setelah beberapa menit kemudian, Nisa telah menghabiskan makannya.
Tidak sengaja Nisa bersendawa. Dengan cepat dia menutup mulutnya disertai matanya yang membulat. Sedangkan Hadwin, dia hanya tertawa kecil sembari menyodorkan segelas air putih kepada Nisa.
"Minumlah dulu."
"Hehe, maaf." Nisa tertawa kecil sembari menerima air putih pemberian Hadwin.
Tanpa berlama-lama, Nisa langsung meneguk habis air putih itu dan kembali menaruh gelas di meja. Pada saat dia hendak mengambil tisue tiba-tiba Hadwin berdiri dan mengelap bibir Nisa. Sementara itu, Nisa hanya bisa mematung.
Matanya tak berhenti berkedip menatap mata Hadwin. "Apa setiap makan kamu selalu belepotan seperti ini, Sa?" tanya Hadwin dengan matanya yang fokus memperhatikan bibir tipis Nisa.
Hadwin yang mendengar kata maaf, langsung berhenti mengelap bibir Nisa. Matanya menatap wanita yang ada di hadapannya. "Kenapa minta maaf? Aku hanya bertanya,"
"Jujur ya, Kak. Makanan ini sangat enak, maka dari itu Nisa makan begitu lahap sampai tidak belepotan kek gini. Kak Hadwin ilfeel lihat Nisa seperti ini?" Nisa balik bertanya pada pria yang ada di hadapannya.
"Tidak. Kenapa pula aku harus ilfeel sama wanita yang aku cintai. Melihatmu seperti ini membuatku gemas. Kamu lucu saat kamu sedang makan," timpal Hadwin disertai senyuman dan tatapan yang lekat.
"Lucu? Gemesin? Masa iya? Nisa itu udah gede, Kak. Janganlah samain Nisa sama bocil." Nisa protes dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Tuhkan, kamu gemesin lagi. Muach!" saking gemasnya, Hadwin sampai menyentuh bibir Nusa dengan tangan kanan dan mengeluarkan suara cium seakan-akan dia tengah menciumnya.
"Ih, Kak Hadwin. Kakak ngapain sih? Jangan bikin Nisa takut." Wajah Nisa berubah sedikit pucat pasi. Jantungnya pun tak berhenti berdetak. Dia merasa jantungnya semakin berdegup cepat.
"Habisnya sih, suruh siapa bertingkah lucu kek gini," kekeh Hadwin.
"Terus Nisa harus bertingkah kek gimana? Tingkah Nisa memang seperti ini."
"Enggak gimana-gimana, udah bertingkah seperti ini aja. Aku menyukainya. Oh iya, sekarang kamu berdiri. Aku mau menyampaikan sesuatu padamu." Hadwin beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari meja untuk mendekati Nisa.
Tak banyak bicara, Nisa menuruti perintah atasannya itu. Dia berdiri berhadapan dengan Hadwin. Langkah demi langkah telah membawa Hadwin menuju Zainisa.
Melihat Hadwin yang semakin dekat, membuat Nisa semakin ketar-ketir. Dia meremas jemarinya karena gugup. Sesampainya berada di hadapan Nisa, Hadwin langsung menggenggam kedua tangan Nisa.
Kemudian Hadwin berlutut di hadapan Nisa dengan gagah bak pangeran yang hendak melamar sangat putri. 'Aduh, mungkinkah Kak Hadwin mau menyatakan perasaannya lagi?' batin Nisa bersorak.
Di satu sisi Nisa memang menunggu hal ini. Tapi, di sisi lain Nisa juga takut. Dia gugup harus menjawab apa.
Perlahan, Hadwin mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru. Yup, kotak ke itu adalah kotak perhiasan berupa cincin. Pria tampan itu menyodorkan cincin itu ke arah Nisa.
"Sa, maukah kamu menikah denganku?"
__ADS_1
****