
Rooftop ....
Sesampainya di rooftop, Bobby melihat dengan jelas jika Aleta sedang duduk sembari memeluk kedua lututnya. Gadis yang biasa dijuluki gadis cabai ini sedang menangis sesegukan. Perlahan, pria bermata biru yang sedang berdiri pun berjalan mendekati Aleta.
Begitu dia berada tepat di depan kekasihnya, Bobby berjongkok sembari mengelus lembut kepala Aleta. "Maafkan aku, Sayang. Aku bisa jelasin semuanya, semua yang kamu lihat tadi tidaklah benar. Semu itu hanya salah paham," tanpa banyak basa-basi lagi, Bobby menjelaskan tentang kesalahpahaman yang tadi Aleta lihat.
Aleta yang merasa kepala dielus dan mendengar suara yang tak asing di telinganya, seketika langsung mendongkak menatap kekasihnya. Dengan matanya yang sembab, dia menunjukkan kekecewaan yang sedang dia rasakan. Setelah beberapa menit saling bertatapan, kini Aleta membuang muka. Kemudian dia berdiri dan membalikkan badannya membelakangi Bobby.
"Leta, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak berbohong. Aku bukanlah pria brengsek yang tega melakukan itu pada wanita apalagi kamu adalah calon istriku. Percayalah padaku, Sayang." Bobby memeluk Aleta dari belakang.
Aleta hanya bisa menangis tanpa henti, hatinya benar-benar sakit. Belum pernah merasakan sakit hati sampai sesakit ini. Ia merasa hatinya seperti tercabik-cabik tanpa henti.
Bagaimana tidak, pria yang akan menjadi suaminya tengah berduaan dalam satu ruangan. Wanita mana yang tahan melihat suaminya dekat dengan mantan istrinya sendiri. Hanya wanita bodoh yang pura-pura baik-baik aja.
"Apa lagi yang mau Mas jelasin? Semua sudah jelas, Mas. Apa yang aku lihat tadi sudah lebih dari cukup. Aku tahu, seperti apa dirimu," timpal Aleta dengan air mata yang terus berjatuhan.
"Kamu harus dengarkan aku dulu! Semua yang kamu pikirkan itu salah. Aku tidak melakukan apa pun dengan wanita itu! Aku juga tidak mengerti kenapa dia datang ke kantorku. Sekali ini saja kamu percaya padaku, Leta!" tegas Bobby seraya melepaskan pelukannya.
Aleta kembali membalikkan badannya. Dia menatap tajam pada Bobby. "Kalau begitu kamu jelaskan sekarang! Aku tidak ingin menikah dengan pria yang selalu dihantui bayang-bayang masa lalu. Aku tidak mau, Mas!" Kini tatapan Aleta berubah sendu.
"Baik, akan aku jelaskan! Dengarkan aku baik-baik!" Bobby memegang kedua baju Aleta.
__ADS_1
"Jelaskan dengan jujur!"
"Sebelumnya kamu pasti bertanya-tanya, kenapa aku tidak menghubungimu usai pulang dari rumahmu? Jujur, semalam aku sedikit kecewa padamu, Leta. Asal kamu tahu saja, aku sangat membenci orang yang suka mengingkari janji. Bukan karena aku mesum atau pria brengsek! Aku hanya ingin tahu, apakah kamu akan menepati janjimu atau tidak? Dan ternyata kamu tidak menepati janjimu. Jika kamu tidak sanggup menepati janjinya kenapa kamu mau bertaruh denganku? Selain itu, pada saat aku kesal kamu bukannya membujukku agar aku tidak marah tapi, kamu justru pergi meninggalkan aku tanpa meminta maaf atau membujukku sama sekali. Karena itulah, aku tidak menghubungimu sebagai tanda hukuman untukmu. Dan untuk masalah yang terjadi hari ini, aku benar-benar tidak tahu menahu sebab Cesya datang begitu saja. Entah apa tujuannya, pada saat aku hendak bertanya tiba-tiba saja kamu datang dan melihat kami. Aku sudah menjelaskan semuanya dengan jujur. Sekarang, kamu cerna baik-baik ucapanku. Apakah aku pria brengsek seperti yang kamu pikirkan atau tidak," Bobby menjelaskan semua yang terjadi dari semalam sampai yang terjadi hari ini.
Sejenak Aleta terdiam membisu. Dia hanya menatap lekat Bobby. Secara perlahan dia menyeka air mata yang sudah tidak berjatuhan lagi. Belum sempat Aleta menjawab ucapan Bobby, tiba-tiba Nisa datang.
"Maaf aku menyela kalian. Leta, semua yang Pak Bobby jelaskan itu memang benar. Jika kamu tidak percaya, aku punya buktinya," sela Nisa.
Sontak Aleta dan Bobby menoleh ke arah Nisa. "Bukti? Bukti apa, Sa?" tanya Aleta dengan wajah yang bingung.
Nisa tersenyum sembari berjalan mendekati Aleta dan atasannya. "Kamu lihat ini sampai selesai!" Zainisa menunjukkan sebuah rekaman yang ada di ponselnya.
Tanpa berlama-lama, Aleta mengambil ponsel itu dan menonton rekaman tersebut. Alangkah terkejutnya Aleta, dia membelalakkan matanya pada saat menonton rekaman berdurasi 1 menit itu. Kini tatapan Aleta mengarah pada Bobby.
"Yes. Bukankah sudah aku katakan sejak awal, kalau dia hanya ingin hubungan kita kandas. Aku tahu usiamu masih sangat muda dan sulit menangani wanita seperti Cesya. Tapi, seharusnya kamu jangan terkecoh dengan semua ucapannya. Aku juga tahu kalau kamu mendapat pesan dari dia beberapa kali. Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu tidak memberi tahuku soal pesan-pesan itu? Apa kamu meragukanku?" skak Bobby dengan tatapan yang dingin.
"Dd-dari mana Mas tahu mengenai pesan itu? Apa Mas tahu dari Nisa?" tebak Aleta sembari melirik ke arah Nisa.
"Loh, Ta. Kenapa jadi gue?"
"Aku sudah memasang pelacak di ponselmu, Aleta. Kamu pikir aku bodoh, aku tidak akan membiarkan Cesya mengganggumu. Maka dari itu, dengan memasang pelacak di ponselmu setidaknya aku tahu apa yang akan dilakukan wanita lucknut itu. Aku minta maaf karena aku memasang pelacak tanpa sepengetahuanmu, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku melakukan ini semua demi kebaikan kita dan juga pernikahan kita. Ingatlah, pernikahan kita akan terjadi beberapa hari lagi." Bobby menangkup kedua pipi Aleta.
__ADS_1
Mendengar semua ucapan Bobby, kini hati Aleta mulai sedikit tenang. Setidaknya semua yang dia pikirkan salah. "Aku tidak sabar menunggu hati pernikahan kita, Mas," jawab Aleta.
"Hanya itu yang kamu lakukan? Apa kamu tidak akan mengatakan sesuatu setelah aku panjang lebar menjelaskan padamu?"
"Aku minta maaf, Mas. Terkadang aku ini masih sangat labil. Seharusnya aku mempercayaimu tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya mempercayai ucapan Bu Cesya. Aku minta maaf, Mas. Sungguh, aku benar-benar menyesal." Aleta melingkarkan kedua tangan di leher Bobby.
"Tidak apa-apa, aku memahamimu. Maafkan aku juga karena aku sudah membuatmu khawatir semalaman."
"Lupakan itu, aku mencintaimu, Mas. Cup!" Tanpa Bobby duga, Aleta telah mengecup bibirnya secepat kilat tanpa persiapan apa pun.
Sontak, Nisa yang melihat itu langsung ketar-ketir. Dia langsung pergi meninggalkan sepasang calon manten itu.
****
Wedding Day ....
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang. Baik dari media maupun orang sekitar. Mereka ingin menyaksikan pernikahan sang duren sawit, pria yang terkenal dengan paras tampan, mapan dan juga statusnya seorang duda.
Pernikahan Aleta dan Bobby terlihat sangat mewah. Banyak tamu undangan yang berasal dari negara asing yang merupakan rekan bisnisnya Bobby. Pernikahan mereka juga diliput media dan melakukan siaran langsung perihal pernikahan mewah sang duren sawit.
Setelah menyelesaikan beberapa acara pernikahannya, kini pasangan pengantin bersiap untuk melempar sebuah bunga beserta kain berisi uang kepada para tamu. Dalam hitungan detik Bobby dan Aleta melemparkan benda itu ke para tamu dengan posisi membelakangi para tamu.
__ADS_1
Dan untuk acara penutupan, pasangan pengantin beserta keluarga ini melepaskan ribuan balon ke udara. Acara penutupan ini sangat meriah. Seluruh orang yang menyaksikan itu turut bertepuk tangan dan bersorak. Kemudian Bobby dan Aleta digendong oleh kedua keluarga.
Happy Ending!