
"Aarrghh!" teriak Aleta seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.
Saat ini dia sudah sampai di depan rumahnya. Begitu dia hendak membuka pintu, pintu sudah terbuka dari dalam. Aleta berpapasan dengan Nisa yang hendak keluar dari rumahnya.
Keduanya saling bertatapan dengan sinis. "Apa lo liat-liat?" tanya Aleta dengan nada ketus.
"Ih, lo kenapa? Baru pulang jogging bukannya happy malah sensi kek gini. Lo lagi pms ya?" tebak Nisa.
"Kagak! Gue lagi kesal aja tuh sama si duren sawit! Bisa-bisanya dia jajan pantat love." Wajah Aleta kembali merah padam akibat emosi.
"Haha, lo ngomong apa? Pantat love apa? Emang ada ya orang yang jual pantat love?" Seketika Nisa langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya yang konyol ini.
"Ada, dan itu mantan istrinya si duren sawit! Aarrghhh, Nisa! Gue kesal banget, gue harus apa sekarang." Aleta menghentak-hentakkan kaki layaknya anak kecil yang sedang kesal.
"Tunggu dulu! Maksud lo ...."
__ADS_1
Belum selesai Nisa berbicara, Aleta langsung mengangguk cepat dengan bibir yang dikerucutkan. "Si duren sawit itu masih berhubungan sama si pantat love! Enaknya gue apain ya tuh mereka? Apa gue baluri pantatnya sama cabai? Gedeg banget gue. Benar-benar menjijikkan!"
"Sabar dulu. Mending kita bicara di taman belakang, biar enak. Ayo," ajak Nisa dengan menarik lengan Aleta membawanya pergi.
Aleta hanya mengikuti sahabatnya tanpa protes. Sesampainya di taman belakang rumah, mereka duduk di sebuah kursi besi yang cat dengan warna biru. Mereka duduk di bawah pohon mangga. Karena hatinya sedang kesal, Aleta pun beranjak dari duduknya dan memilih duduk di sebuah ayunan yang berada di samping kursi, tempat Nisa duduk.
"Ta, sekarang ceritain apa yang sebenarnya terjadi. Siapa tahu gue bisa bantu lo." Nisa menoleh ke samping.
Sejenak Aleta terdiam dengan bermain ayunan. Perlahan dia mulai menghembuskan napasnya. Kemudian dia menoleh ke samping.
"Iya, duren sawit lo kenapa?" Nisa memasang wajah yang serius tanda kalau dia sedang menyimak.
"Semalam dia bermain sama si pantat love."
"Bermain? Bermain ranjang maksud lo?" tebak Nisa dengan bola matanya yang membulat sempurna.
__ADS_1
Aleta mengangguk mantap. "Yup, mereka semalam gituan. Gue enggak ngerti kenapa Mas Bobby mau nikahin gue sedangkan dia masih berhubungan sama si pantat love? Jika mereka masih saling mencintai kenapa enggak menikah saja? Kenapa harus gue?" tutur Aleta dengan nada yang sedih dan matanya yang sedikit berkaca-kaca.
"Ya ampun, Ta ... lo yakin mereka melakukan itu? Lo tahu dari mana? Apa Pak Bobby yang ngasih tau lo?"
Aleta menggeleng pelan. "Bukan,"
"Terus, lo tau dari mana?"
"Bu Cesya. Tadi dia menghubungi nomor Mas Bobby dan mengatakan kejadian semalam. Menjijikan, telingaku sakit mendengar perkataannya."
"Astaga, Leta. Lo ini gimana sih? Bukannya Pak Bobby melarang lo buat percaya sama Bu Cesya? Lagian 'kan lo tau sendiri seperti apa Bu Cesya? Bu Cesya itu ingin kalian salah paham dan bertengkar. Dia ingin pernikahan kalian batal. Lo enggak mikir ke sana? Lo percaya sama ucapannya?" Nisa mengingatkan sahabatnya tentang karakter Bu Cesya.
"Bagaimana jika itu benar? Bu Cesya tidak mungkin menghubungi nomor Mas Bobby jika Mas Bobby tidak menghubunginya dari awal? Bagaimana jika itu benar? Gue harus gimana, Sa? Gue enggak mau nikah sama pria yang selalu dibayang-bayangi masa lalu. Gue enggak mau! Itu menyakitkan!" Aleta menitikkan air mata di hadapan sahabatnya.
****
__ADS_1