
Happy reading....
Kontrakan Aleta Quenby Elvina.
Pagi hari, Aleta tengah bersiap-siap untuk melamar pekerjaan di perusahaan baru yaitu Albern Food. Aleta tidak yakin apakah dia akan diterima kerja atau tidak. Dia hanya mengandalkan ijazah SMP.
Meskipun dia tidak begitu yakin akan diterima bekerja di perusahaan itu. Dia akan tetap melamar, siapa tahu dia beruntung. Tidak ada yang tidak mungkin, dia akan mencobanya lebih dulu. Urusan hasilnya, belakangan saja.
"Aleta, ayo buruan! Nanti kejebak macet!" teriak temannya yang bernama Nisa dari luar kontrakan.
Zainisa Xaquila adalah teman sebayanya Aleta. Zainisa yang biasa dipanggil Nisa ini juga tinggal satu kontrakan dengan Aleta. Mereka berdua seumuran dan sama-sama anak rantau. Mereka berasal dari kota kembang.
"Iya, sebentar. Aku sudah selesai kok," teriak Aleta dari dalam kontrakan.
Sementara itu, sambil menunggu temannya keluar dari kontrakan Nisa pun menghidupkan motor maticnya lebih dulu. Selang beberapa menit, Aleta keluar dari kontrakan. Sebelum pergi, Aleta mengunci kontrakannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia menghampiri temannya yang sudah menaiki kuda besinya.
"Ini, pakai dulu helmnya. Ntar ada polisi bisa kena tilang kita, repot." Nisa memberikan helm pada Aleta.
"Aduh, Mak. Masih pagi udah ngomelin aku. Sabar, aku akan pakai helmnya kok. Sabar ya, Cantik." Aleta tersenyum imut sembari Mengedip-ngedipkan matanya pada Nisa.
"Apaan sih lo, Aleta. Sok imut lo," celetuk Nisa dengan ketus.
"Yee, emang gue cantik. Wlee." Aleta menjulurkan lidahnya tanda meledek.
"Naik atau gue tinggal nih," ancam Nisa seraya melakukan motornya.
"Hei, Nisa! Jangan tinggalin gue! Kebangetan banget lo jadi teman!" teriak Aleta seraya berlari mengejar motor Nisa yang sudah melaju.
Kemudian motor Nisa berhenti dan menunggu temannya yang masih berlari. Dia hanya tertawa melihat temannya yang berlari dengan helm di kepalanya. "Aleta, lo lucu banget kau lari pake helm. Udah kek 17 agustusan tau," ledek Nisa dengan sedikit berteriak.
"Sialan lo! Berani sekali ngatain gue kek gitu," timpal Aleta dengan ketus.
"Udah jangan mengoceh mulu, buruan naik. Nanti gue tinggal, tau rasa," ancam Nisa.
__ADS_1
"Gila lo ya! Lo bisanya ngancem gue mulu. Awas aja kalau gue udah punya motor sendiri," omel Aleta.
"Udah buruan naik! Kita bisa terlambat nih, liat jam!" Nisa menyuruh temannya untuk segera naik motornya.
Begitu Aleta naik motor, dia melihat jam tangannya. Alangkah terkejutnya dia melihat jam menunjukkan pukul 07.00, itu artinya mereka harus segera sampai kantor secepatnya. "Nis, buruan ngebut! Sekarang udah jam 07.00," teriak Aleta.
"Seriusan lo?" Nisa terkejut mendengar ucapan temannya.
"Iya, ayo buruan!"
Tanpa membuang waktu lagi, Nisa segera melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Nisa sedikit tidak fokus menyetir karena dia takut terlambat datang ke kantornya. Sehingga akhirnya mereka melanggar lalu lintas. Dua orang polisi pun menghadang jalan mereka hingga mereka pun ditilang.
****
Di dalam mobil ....
Bobby sedang menyetir seraya mendengarkan musik. Tiba-tiba fokusnya teralihkan dan tertuju pada dua orang gadis yang sedang berdebat dengan dua orang polisi. Bobby mematikan musiknya dan menepikan mobilnya.
"Pria aneh!" panggil Aleta kepada Bobby.
Bobby yang mendengar itu hanya mengernyitkan alisnya. Dia heran, kenapa Aleta mengatainya pria aneh? 'Apakah penampilanku terlihat aneh?' Bobby memperhatikan pakaiannya, takutnya memang ada hal yang aneh. Namun, setelah dia memastikan penampilannya, tidak ada yang aneh kok. Lalu, kenapa Aleta mengatakan dia aneh?
"Ada apa ini, Pak Polisi? Saya lihat sedari tadi kalian sedang berdebat," tanya Bobby.
"Kedua gadis ini telah melanggar lalu lintas, giliran kami tilang mereka mengatai kami sedang lapar makanya menilang mereka. Padahal jelas-jelas mereka melanggar lalu lintas. Saat kami hendak mengambil motornya, mereka tidak mau," jelas Polisi.
"Ambil saja motornya, Pak. Anggap saja sebagai pelajaran agar mereka tidak melanggar lalu lintas lagi," celetuk Bobby.
Tentu saja mendengar ucapan Bobby Aleta dan Nisa membelalakkan matanya dengan sempurna. "Hei, Om! Kalau bicara itu jangan asal celetuk! Jika motor temanku diambil, bagaimana kami berangkat kerja? Mana kami sudah terlambat lagi," timpal Aleta seraya menatap tajam ke arah Bobby.
"Kalian kerja di mana? Biar saya yang mengantar kalian, bagaimana?" Bobby menawari kedua gadis itu tumpangan.
"Ck. Dasar modus!" celetuk Aleta dengan memutar bola matanya.
__ADS_1
Nisa langsung membungkam mulut temannya. "Lo, kalau ngomong dipikir dulu. Masih untung ada yang mau menawarkan tumpangan untuk kita," bisik Nisa sembari menegur temannya.
"Jika kalian tidak mau tidak apa-apa. Saya akan pergi." Bobby membalikkan badannya dan hendak meninggalkkan kedua gadis itu bersama kedua Polisi.
"Tunggu!" panggil Nisa pada Bobby.
Bobby menghentikan langkahnya, dia kembali menoleh ke belakang. "Tolong antar kami ke perusahaan Albern Food, maafkan teman saya, Pak. Dia kalau bicara tidak pernah di filter," ucap Nisa.
"Baiklah, saya akan mengantar kalian. Sekalian saya juga mau ke Albern Food." Bobby mengajak kedua gadis itu untuk berangkat bareng menggunakan mobilnya.
Sebelum mengikuti Bobby, Nisa memberikan kunci motor beserta surat-suratnya kepada Polisi. Dia akan menebusnya nanti. Setelah itu, Nisa menarik tangan Aleta yang raut wajahnya terlihat bete.
"Ayo, jangan menolak pertolongan orang. Lagi pula kita tidak punya pilihan lain selain menumpang di mobil Pak tampan itu," ucap Nisa.
"Gila lo ya. Om-om gitu lo bilang tampan. Katarak mata lo tuh," celetuk Aleta.
"Udah jangan ngomel-ngomel mulu! Ayo,"
Mau tidak mau, Aleta pun mengikuti temannya yang sudah masuk ke mobil Bobby. Aleta masuk mobil dan duduk di belakang bersama temannya. Namun, begitu Aleta hendak menutup pintunya tiba-tiba Bobby menoleh ke belakang.
"Gadis cabai, kau duduk di depan!" perintah Bobby pada Aleta.
"Haha, gadis cabai." Nisa yang mendengar itu langsung tertawa puas.
"Apa? Gadis cabai? Sembarangan kalau ngomong! Enggak, aku akan duduk di sini saja. Si Nisa aja yang suruh duduk di depan kenapa harus aku," celetuk Aleta.
"Karena kau yang masuk terakhir. Jadi cepat pindah!"
"Aish! Ribet amat." Aleta keluar dari mobil dan masuk kembali melalui pintu depan.
Dengan wajahnya yang cemberut, dia menutup pintu mobilnya seraya memakai sabuk pengaman. Bobby segera melajukan mobilnya. Dalam hatinya dia tersenyum melihat tingkah Aleta. Walaupun kata-katanya sangat pedas, Aleta ini jika diperhatikan sangat ikut dan menggemaskan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1