
"Ta, lo kenapa?" tanya Nisa yang melihat sahabatnya tiba-tiba berdiri.
"Eoh ... enggak apa-apa. Gue hanya pegal aja kelamaan duduk, hehe." Aleta berusaha menyembunyikan kecemasannya karena tidak ingin sahabatnya merasa khawatir.
"Lo yakin? Enggak ada yang lo sembunyikan dari gue 'kan?" selidik Nisa dengan tatapan yang tajam.
"Enggak ada, Zainisa calon bininya Hadwin!"
"Yakk! Lo ... sttt!" Nisa memberi kode pada Aleta dengan matanya yang melotot serta menempelkan jari telunjuk di bibir.
"Oops, gue lupa," kekeh Aleta.
"Emang dasar bibir jolang, lo." Nisa memicingkan matanya pada Aleta.
"Hehe, sorry sorry."
"Neng, ini martabaknya sudah jadi," ucap tukang martabak.
"Tuh, bayar noh!" celetuk Nisa.
"Berapa semuanya, Mang?" tanya Aleta sembari mengeluarkan dompetnya.
"150.000, Neng," jawab tukang martabak sembari memberikan pesanannya pada pembeli.
__ADS_1
"Ini uangnya." Aleta membayar martabak dengan uang 200.000. Kemudian dia mengambil pesanannya.
Setelah itu, Aleta dan Nisa pergi. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan gerobak martabak, tukang martabak itu mengejar mereka berdua. "Neng tunggu!"
Mereka berdua menghentikan langkagnya dan menoleh ke belakang. "Iya, Mang. Ada apa?" tanya Aleta.
"Ini kembaliannya, Neng."
"Oalah, aku pikir apaan. Tidak apa-apa, kembaliannya buat Mang saja. Anggap saja itu rezeki anak, saya pergi Mang." Aleta tersenyum sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan tukang martabak.
"Terima kasih banyak, Neng!" Tukang martabak berteriak lumayan keras karena Aleta sudah pergi cukup jauh.
****
"Ta, lo yakin enggak ada yang lo sembunyiin dari gue?" bisik Nisa.
"Enggak ada, Sa."
"Terus, mereka ngapain ngeliatin kita sampai segitunya? Apa mereka tahu kalau gue juga berhubungan sama atasan gue sendiri?" Wajah Nisa sudah pucat pasi, dia takut kalau gosip akan bertebaran di kantor.
"Alah, udah. Jangan lo pikirin, positif thinking aja napa? Mereka emang suka gaje. Mending lo temui aja Pak Hadwin, enggak udah lo pikirin para karyawan julid, okay." Aleta berusaha menenangkan sahabatnya yang sedang cemas.
Zainisa hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Pada saat mereka hendak berjalan ke arah yang berbeda tiba-tiba seorang wanita mengatakan sesuatu yang membuat Aleta dan Nisa terdiam mematung. Mereka kembali dibuat terdiam dan hanya mata mereka yang saling berbicara.
__ADS_1
"Kasian banget ya, ternyata Bos kita hanya menjadikannya sebagai pelampiasan. Kalau gue jadi dia, gue enggak akan melangkah sejauh ini. Terlalu berharap sih, gue yakin setelah ini dia akan ditendang dari perusahaan," celetuk wanita yang bertubuh sedikit gemuk.
Deg!
'Apa ketakutanku selama ini akan jadi kenyataan? Apa yang dikatakan wanita ini benar? Mas Bobby jadikan aku pelampiasan? Lalu, siapa yang mengirimiku pesan? Dan apa maksudnya?' Aleta bertanya-tanya dalam batinnya. Benaknya dipenuhi banyak pertanyaan.
"Ta, lo bengong lagi?" Nisa menyenggol lengan Aleta yang sedang melamun.
Aleta tersadar dari lamunannya. "Eh, enggak kok, Sa." Lagi-lagi Aleta kembali menyembunyikan ketakutannya itu.
"Jangan bohong! Katakan ada apa?" desak Nisa. Sekarang dia yakin jika sahabatnya sedang menyembunyikan sesuatu.
"Enggak, Sa. Gue baik-baik aja, enggak ada yang gue sembunyikan kok."
"Enggak! Gue yakin, lo pastiin sedang sembunyiin sesuatu dari gue. Sekarang berikan ponsel lo!" pinta Nisa dengan wajah yang serius.
"Apaan sih lo, Sa. Mau apa lo minta hp gue?"
Tanpa banyak bicara, Nisa langsung merebut ponsel tersebut dari tangan sahabatnya. "Sa, balikin ponsel gue!" pekik Aleta dengan wajah kesal.
Nisa langsung memeriksa ponsel Aleta. Pada saat dia membuka pesan, tiba-tiba dia tertarik untuk melihat satu pesan yang dikirim dari nomor tidak dikenal. Ia langsung membuka dan membaca pesan itu.
{Hari ini kamu akan tahu seperti apa Bobby Albern!}
__ADS_1
****