Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Breakfast


__ADS_3

"Good morning, Tuan bule," sapa Aleta yang saat ini berada di depan meja pantry.


"Good morning too, baby. Kau sudah bangun rupanya." Bobby menuangkan nasi goreng ke dia piring yang sudah di siapkan di meja Pantry.


Setelah itu Bobby membawa dua piring nasi goreng dan dua jus wortel yang telah dia buat. Kemudian dia menaruhnya di meja makan. "Duduklah, calon tunanganku." Bobby menarik sebuah kursi untuk Aleta duduki.


"Wah, Pak Bobby ini baik sekali. Terima kasih," ucap Aleta dengan duduk di kursi yang Bobby siapkan.


Bobby mendekatkan bibirnya di telinga Aleta. "Jangan panggil Pak lagi. Kau ini akan menjadi tunanganku, jadi biasakan untuk memanggilku dengan Mas ya,' bisik Bobby di telinga Aleta.


Dengan cepat, Aleta mengangguk. "Iya, Mas. Aku akan membiasakan mulai dari sekarang." Aleta menoleh ke kanan.


Deg!


Begitu di menoleh ke kanan, alangkah terkejutnya dia pada saat melihat wajah Bobby sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan tidak ada jarak di antara mereka. Jantung gadis ini berdetak begitu cepat dari biasanya. Tidak, bukan hanya Aleta melainkan Bobby pun merasakan hal yang sama.


Keduanya larut dalam pandangan mereka satu sama lain. Mereka saling bertatapan satu sama lain dengan menunjukkan cinta yang baru saja tumbuh di hati keduanya. Setelah puas dengan saking menatap, tiba-tiba Bobby menarik tengkuk Aleta.


Aleta sontak memejamkan matanya karena takut. Dia tahu apa yang akan Bobby lakukan. Sebab, setiap pria memejamkan matanya maka pria itu akan menciumnya. Maka dari itulah, dia dengan cepat memejamkan matanya.


Cup!


Bobby mengecup kening Aleta dengan lembut. Setelah itu dia kembali duduk di sebelah Aleta. Sementara itu, Aleta langsung mengerjapkan matanya dan mengedip-ngedipkan matanya. Dia tidak percaya jika Bobby telah mencium keningnya.


'Aku tidak menyangka jika aku akan menjalin hubungan dengan pria yang 9 tahun lebih tua dariku.'


Tak!


Bobby menjentikkan jarinya tepat di depan wajahnya Aleta. "Kenapa bengong? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bobby dengan menatap Aleta.


"Eh, enggak kok, Mas. Aku hanya kaget aja," jawab Aleta disertai senyuman.


"Ya udah, cepat makan sarapannya! Setelah ini kita akan ke rumah orang tuamu!" tegas Bobby tanpa menoleh ke Aleta lagi karena dia sedang fokus makan nasi gorengnya.


"Rumah orang tuaku? Mas serius?" mata Aleta langsung berbinar begitu mendengar jika mereka akan mengunjungi kediaman orang tuanya.


"Iya, cepat makannya! Oh iya, setelah dari orang tuamu aku akan mengetes ketiga bahasa yang selama ini kau pelajari."


Aleta segera memakan nasi gorengnya. "Wah ... nasi goreng ini benar-benar sangat enak. Ini lebih enak dari nasi goreng yang pernah aku makan selama ini," Aleta keceplosan dengan memuji masakan calon tunangannya.


Bobby yang mendengar itu langsung tersenyum. "Apakah seenak itu, Sayang?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Ini itu enak banget. Aku sampai enggak mau berhenti makan ini. Mas harus tanggung jawab, aku enggak mau berhenti makan ini," timpal Aleta dengan mulut penuh dengan makanan.


"Loh, kok aku yang harus tanggung jawab sih? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu, heum?" Bobby menaik-turunkan alisnya.


"Suruh siapa masak makanan seenak ini. Aku sampe enggak bisa berhenti makan. Bisa-bisa aku gemuk nanti, Mas."


"Tidak masalah gemuk juga, yang terpenting aku sangat menyayangimu, Leta," skak Bobby.


Uhuk! Uhuk!


Aleta tersedak begitu mendengar ucapan bosnya. Dengan cepat Bobby mengambil segelas air dan memberikannya pada Aleta. "Makanya kalau makan itu pelan-pelan dan kalaupun mulutmu penuh jangan banyak bicara agar tidak tersedak," saran Bobby.


Aleta mengmbil segelas air itu dan langsung meneguknya sampai habis. "Eeurrgghh!" Aleta bersendawa.


"Astaga, Leta! Bukankah sudah kubilang beberapa hari yang lalu?" Bobby menatap lekat Aleta.


"Maaf, Mas."


"Ya udah, kalau makannya sudah kelar, ayo kita berangkat." Bobby beranjak dari duduknya.


"Ayo, Mas." Aleta turut beranjak dari duduknya.


****


Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna putih berhenti di depan rumah orang tua Aleta. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Bobby dan Aleta. Mereka keluar dari mobil secara bersamaan dan berjalan menuju rumah Aleta.


Begitu berada di depan rumahnya, Aleta menekan belnya. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh seorang wanita yang bernama Devica. Wanita itu tidak lain adalah ibunya Aleta.


"Leta?" Devica membelalakkan matanya ada saat menatap putrinya.


"Ibu!" Aleta langsung memeluk ibunya.


"Loh, Sayang. Bukankah kau bilang sedang sibuk? Lalu, kenapa kau tiba-tiba datang. Dan siapa pria bule ini, Nak?" tanya Devica dengan menatap ke arah Bobby.


Aleta melepaskan pelukannya. "Perkenalkan, ini bos sekaligus calon tunangan Aleta, Bu. Dan Mas, Ini Ibuku, Devica." Aleta memperkenalkan mereka berdua secara bersamaan.


"Hallo, Tante. Saya Bobby." Bobby menundukkan kepalanya tanda hormat.


"Saya Devica, Nak. Mari masuk," Devica mempersilakan Aleta dan Bobby untuk masuk.


Aleta dan Bobby pun masuk bersamaan dengan ibunya Aleta. Sesampainya di salah satu ruangan, mereka dipersilakan untuk duduk. Bobby dan Aleta duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Kalian tunggu di sini, Ibu akan ke dapur sebentar," ujar Devica.


"Iya, Bu."


****


"Sialan! Rencanaku gagal total! Aarrgghh!" teriak seorang wanita di depan meja riasnya. Dia menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Cesya Dree.


Sreett! Prang!


Cesya menyapu seluruh skincare dari meja rias sampai berserakan di lantai. Dia tidak menduga jika ulahnya untuk menjatuhkan bahkan memisahkan Aleta dengan mantan suaminya, yaitu Bobby. Akan berakhir seperti ini. Wanita ini yang ingin Bobby berpisah dari Aleta kini mereka justru akan bertunangan secara resmi.


Hal inilah yang membuatnya benar-benar marah. Selain itu, berita di setiap chanel kebanyakan membahas mengenai pertunangan Bobby dan sekretarisnya. Bahkan banyak artikel yang dipublish setelah konferensi pers kemarin selesai.


"Takkan kubiarkan gadis tengil itu merebut ataupun meluluhkan hati mantan suamiku! Aku akan mencari cara agar pertunangan kalian batal! Kau lihat saja nanti. Jika aku tidak bisa mendapatkan Bobby, maka wanita lain tidak akan mendapatkanya!" Cesya mengepalkan kedua tangannya.


Tak membutuhkan waktu lama, dia pun sudah mendapatkan cara baru untuk menghancurkan hubungan Bobby. Dia menghubungi seseorang yang entah siapa itu. Yang jelas dia menghubunginya. Teleponnya telah diangkat oleh orang tersebut.


Telepon terhubung!


"Hallo," ucap Cesya setelah telepon tersambung.


"Iya, Hallo." jawab seorang pria dari seberang telepon.


"Aku ada tugas untukmu! Kali ini aku akan membayar mahal untuk tugas ini, apa kau mau mengambil tugas ini?" tawar Cesya.


"Tugas apa, Bu?"


"...."


"Kapan saya harus menjalankan misinya?"


"Secepatnya! Saya tidak ingin ada kata gagal, karena jika itu terjadi maka aku tidak akan segan-segan untuk tidak membayarmu, paham!"


"Paham, Bu."


"Ya sudah, kau lakukan sesuai intruksiku. Tutt!" Cesya mengakhiri obrolannya.


Telepon terputus!


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2