Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Kita Sama


__ADS_3

"Pasti ada. Saya yakin kau akan mendapatkan pria idamanmu. Sekarang, ayo kita pergi." Bobby beranjak dari duduknya serta mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dan menyimpannya di atas meja.


Aleta beranjak dari duduknya dan pergi bersama Presdir Bobby. "Berikan kunci mobilnya!" pinta Bobby pada Aleta.


Aleta memberikan kunci mobil pada bosnya. Dia sedikit bingung, kenapa Presdir Bobby meminta kunci mobil. Apakah dia akan menyetir sendiri atau dia akan meninggalkannya di sana?


"Masuk!" perintah Bobby seraya memasuki mobilnya.


Aleta masuk mobil, dia duduk di depan sebelah bosnya. "Pak, biar saya yang menyetir," ucap Aleta.


"Tidak perlu. Kali ini saya ingin pergi ke suatu tempat. Saya ingin mengajakmu ke sana. Sekarang lepaskan heelsmu! Saya tahu jika kakimu sedang lecet," Bobby mengambil sebuah kotak obat.


'Bagaimana dia bisa tahu jika kakiku sedang lecet?' Aleta mengerutkan keningnya.


"Aleta!"


"Eh ... iya, Pak." Aleta segera melepaskan heelsnya.


"Berikan kakimu!"

__ADS_1


"Eoh?"


"Berikan kakimu, Aleta Quenby Elvina!"


"Tapi, Pak. Untuk apa?"


"Sudah, jangan banyak bicara! Berikan saja kakimu! Saya akan mengobati luka lecetmu itu," timpal Bobby.


"Biar saya sendiri yang mengobati luka lecetnya. Tidak sopan jika Pak Bobby menyentuh kaki bawahannya seperti ini," ucap Aleta.


"Jangan katakan itu! Kita semua sama di mata Tuhan. Cepat berikan kakimu, atau saya tinggal kau di sini sendirian, mau?" ancam Bobby dengan menakut-nakuti Aleta.


'Kok maksa gini sih!' omel Aleta dalam hati.


"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Aleta.


"Tanyakan saja," jawab Bobby tanpa menoleh.


"Apa benar, jika Pak Bobby sekarang Duda?" ceketuk Aleta dengan segala keberaniannya.

__ADS_1


Seketika, Bobby yang mendengar itu langsung menoleh dan menatap tajam sekretarisnya. "Kau yakin ingin tahu jawabannya?" dibalas anggukan oleh Aleta.


"Saya memang duda. Saya berpisah dengan mantan istri saya beberapa tahun yang lalu. Saya ingin memberikan pesan yang harus kau ingat selalu sepanjang hidupmu. Jika kau sudah menikah suatu saat nanti. Jangan pernah kau meninggalkan suamimu hanya karena suamimu tidak bisa memenuhi keinginanmu. Kau harus bisa menghargai suamimu berapapun uang yang dia berikan padamu. Hormati dia sebagai pemimpin rumah tangga. Saya tidak ingin kau bernasib sama sepertiku!" Bobby menasehati Aleta dengan tatapan yang melekat.


"Saya akan mengingat pesan Pak Bobby. Oh iya, apa Pak Bobby bercerai karena uang?"


"Iya," jawabnya singkat.


"Tapi, bagaimana itu mungkin? Pak Bobby 'kan seorang pengusaha sukses." Aleta tidak tahu jika Bobby dulunya adalah seorang kurir.


"Dulu saya tidak sesukses ini. Saya dulu hanya seorang kurir dengan pendapatan yang tidak seberapa. Karena gajiku itu, saya tidak mampu membiayai kehidupan istri saya yang sangat mewah dan glamor itu. Makanya saya memilih untuk berpisah dengannya. Karena selain gaya hidupnya yang glamor, dia juga memilih pria yang lebih mapan dariku. Jadi, sudah tidak ada yang bisa aku pertahankan jika hatinya sudah pindah ke lain hati, benar 'kan?" Bobby tersenyum miris menceritakan masa lalunya yang kelam.


"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk membuat Pak Bobby mengingat masa lalunya Pak Bobby," ucap Aleta.


"Tidak apa-apa. Kau sekarang sekretarisku, kau berhak tahu tentang kehidupanku. Aku tidak malu dengan masa laluku itu apalagi dengan status saya sebagai duda," kekeh Bobby.


"Haha Pak Bobby benar. Tidak salah Pak Bobby mendapat julukan Duren Sawit," Aleta ikut tertawa.


"Ah, julukan itu selalu menusuk telingaku." Bobby menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Duren Sawit, haha." Aleta menertawakan reaksi bosnya ketika dibilang dengan julukannya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2