
"20 tahun? Apa kau yakin akan menikahi gadis berusia 20 tahun?" tanya Allard pada putranya.
"Ya, Dad. Bobby sangat yakin 1000%," jawab Bobby dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana ini, Mom, Grandma?" tanya Allard meminta pendapat pada istri dan juga ibunya.
"Aku tidak mempermasalahkan usia gadis itu, asalkan Aleta bertekad untuk menikah denganmu dan memiliki perasaan yang sama seperti saling mencintai, meyayangi, saling support satu sama lain. Jika keputusan kalian sudah bulat untuk menikah maka kami tidak mencegahmu. Bagimana dengan, Grandma?" tanya Ellena pada ibunya.
"Grandma nomor comment. Jika cucuku Bobby bisa bahagia dengan menikah, maka nenikahlah. Grandma akan mensupportmu, Nak." Grandma tersenyum pada cucunya.
"Thank you so much, Grandma." Bobby langsung neneknya dengan hangat.
****
Sore hari ....
Aleta yang baru selesai mandi pun, tengah memakai bodycare di tubuhnya. Saat ini tubuhnya masih tertutupi handuk di atas lutut. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada sebuah telepon masuk.
Dengan cepat Aleta meraih ponselnya yang berada di meja nakas. Begitu ponsel sudah berada di tangannya, dia melihat sebuah nama yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Nama itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bobby Albern.
Seketika bibir Aleta langsung tersenyum merekah. Tanpa berlama-lama lagi, dia langsung mengangkat telepon dari calon suaminya. Sebelum menyapa pujaan hatinya, Aleta menempelkan ponsel di telinga kanannya.
Telepon terhubung!
"Hallo, Mas," sapa Aleta setelah telepon tersambung.
"Hallo, Sayang. Teleponnya aku alihin ke video call, kamu angkat ya," ujar Bobby dari seberang telepon.
"Okay, Mas."
Kemudian Aleta berpindah dari yang awalnya hanya telepon biasa menjadi video call. Kini Aleta mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya. Dia melihat calon suaminya yang tengah duduk di sebuah ruangan yang tampak sangat indah.
"Leta, kok kamu cuma pakai handuk saja? Kenapa belum pakai baju?" Mata Bobby terbelalak dengan sempurna.
"Leta baru selesai mandi, Mas. Waktu Leta mau pakai baju, tiba-tiba Mas telepon," jawab Aleta.
"Loh, kenapa tidak pakai baju dulu?"
"Nanti kalau Leta lama angkat teleponnya Mas marah lagi sama Leta. Ya udah, berhubung Mas tahu kalau Leta belum pakai baju, Leta pakai baju dulu ya. Video call-nya aku tutup dulu ya," timpal Aleta.
"Jangan ditutup, kalau mau pakai baju tinggal pakai saja."
"Mas ngaco. Ya enggak mungkin lah, nangis Mas mengintip gimana? 'Kan bahaya, mana Mas belum nikahin aku lagi," kekeh Aleta.
__ADS_1
"Bisa aja kamu, ya sudah. Selesai pakai baju, kamu video call lagi ya," ujar Bobby.
"Okay, Sayang. Tutt!" Aleta mengakhiri video call-nya.
Dengan cepat Aleta langsung mengambil pakaian di dalam lemari dan memakainya. Setelah itu, Aleta mengeringkan sebentar rambutnya serta memakai liptint di bibirnya agar gidak terlalu kelihatan polos.
Setelah itu, barulah Aleta menghubungi calon suaminya lagi. Tak lama kemudian, video call pun diangkat oleh Bobby. Aleta segera meletakkan ponselnya di stand holder agar kamera tetap fokus pada wajahnya tanpa perlu repot-repot untuk memegangnya.
"Leta, kamu cantik sekali," puji Bobby sembari menunjukkan keterkesimaannya pada calon istrinya itu.
"Benarkah? Aku tidak memakai makeh up apapun kok Mas, hanya liptint saja. Masa iya, cantik," kekeh Aleta.
"Seriusan, kamu itu cantik walaupun tanpa polesan apapun. Keluargaku saja memuji kecantikanmu itu," ucap Bobby dengan jujur.
"Woah ... benarkah itu, Mas?" Aleta sedikit tertawa.
"Iya, Sayang. Dan kamu tahu, betapa terkejutnya mereka begitu mengetahui usiamu. Wajahnya mereka benar-benar tercengang saat aku memberi tahu usiamu yang baru 20 tahun," kekeh Bobby.
"Mungkin keluarga Mas heran kali ya, kok ada gadis belia seperti aku mau menikah sama Mas yang usianya terpaut cukup jauh," ledek Aleta dengan tertawa puas.
"Sembarangan, kita hanya terpaut usia 9 tahun. Apa salahnya dengan itu. Yang terpenting aku masih tampan, segar, mapan dan yang terpenting aku masih gagah jika bermain di ranjang," timpal Bobby dengan penuh percaya diri.
"Haha, masa sih, Mas? Kok Leta enggak percaya ya," Aleta tertawa terbahak-bahak menertawakan calon suaminya yang terlalu percaya diri.
Glek!
Aleta yang mendengar itu langsung menelan salivanya. "Ngaco, ya enggak mau lah, Mas. Nanti saja setelah menikah," timpal Aleta dengan menatap ke sembarang arah.
"Kenapa? Kamu takut?" kekeh Bobby dengan sedikit menggoda istrinya.
"Enggak, Leta enggak takut. Udah ah, jangan bicarain hal jorok kek gitu. Malu tahu, Mas. Jangan kotori pikiran Leta," ucap Aleta dengan cemberut.
"Ya udah iya, makanya jangan menantangku seperti. Giliran digoda balik marah," Bobby meledek calon istrinya.
Tok! Tok! Tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Mas, sebentar. Aku buka pintu dulu ya," ucap Aleta pada Bobby.
"Okay, Sayang."
Aleta beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tanpa berlama-lama Aleta segera membuka pintunya. Begitu pintunya terbuka, Nisa langsung nyelonong masuk ke kamar Aleta.
"Hei, jangan asal masuk gitu aja dong!" pekik Aleta seraya menyusul Nisa yang sudah masuk.
__ADS_1
"Ahh, nikmatnya!" Nisa menjatuhkan tubuhnya di ranjang Aleta.
"Nisa, lo itu maen masuk aja. Lo enggak liat apa, cowok gue lagi video call!" tegur Aleta sembari duduk kembali di kursi riasnya.
"Apa?" Nisa langsung terperanjat. "Kenapa enggak bilang dari tadi kalau kalian lagi video call-an?"
"Ya mana gue tahu kalau lo bakalan nyelonong masuk gitu aja," timpal Aleta dengan sedikit bete.
"Hehe, sorry. Gue enggak maksud buat ganggu kalian."
"Ya udahlah ya, udah terlanjur lo masuk."
Saat ini Bobby hanya menyaksikan perdebatan antara calon istrinya dan juga temannya. Bobby hanya tersenyum gemas mendengar serta melihat tingkah kedua gadis itu. Bobby sengaja biarkan calon istrinya berdebat dengan temannya karena hal itu sangat lucu.
"Leta, sekarang jadi nonton dan jalan-jalan 'kan? Lo udah janji kalau sore ini kita akan hang out bareng," tanya Nisa.
"Sstt!" Aleta menoleh ke arah Nisa dan meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirnya.
"Kamu mau pergi, Sayang?" tanya Bobby.
Aleta menepuk jidatnya sendiri. Dia memejamkan matanya, lalu dia menatap ke arah kameranya. "Iya, Mas. Aku sudah berjanji mau ngajak temanku jalan-jalan dan pergi nonton juga," jawab Aleta.
"Ya udah, kalau mau pergi."
"Mas enggak marah?" tanya Aleta.
"Ya enggak lah, Sayang. Masa istri mau jalan-jalan dilarang sih. Tunggu sebentar." Bobby memainkan ponselnya satu lagi.
"Mas, lagi ngapain itu?"
"Itu, aku sudah transfer 20 juta buat kamu. Jangan lupa, traktir temanmu itu ya."
"Hah? Mas seriusan?" Aleta tercengang.
Bobby mengangguk meng-iyakan. "Iya, istri kecilku. Kamu cek saja saldomu."
"Okay, Mas. Aku cek dulu bentar ya." Aleta mengecek isi saldonya melalui aplikasi bank.
Setelah dicek, ternyata benar jika Bobby sudah mentransfer uang sebesar 20 juta. "Sudah masuk, Mas. Makasih banyak ya. Mas ini royal sekali, padahal 2 juta juga cukup untuk nonton dan makan doang," ucap Aleta.
"Tidak apa-apa, sisanya Leta tabung saja. Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu ya. Have fun, Sayang. Jangan lupa kirim foto selca-mu nanti. Bye, muach." Bobby mencium Aleta secara virtual.
****
__ADS_1