
Di dalam mobil ....
Kini Aleta dan Nisa sedang dalam perjalanan menuju kantor. Suasana cukup hening karena Aleta yang fokus menyetir dan Zainisa yang asyik bermain ponsel. Keduanya menunjukkan ekspresi yang berbeda. Yang satu lagi kasmaran dan yang satu lagi sedang galau karena calon suaminya yang tengah merajuk.
Lama kelamaan, Nisa yang melihat kebisuan sahabatnya pun langsung menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Dia fokus menatap sahabatnya yang sedari tadi diam tanpa kata. Perlahan wanita ini mengelus lembut pundak Aleta.
"Tenanglah, Pak Bobby tidak akan marah terlalu lama padamu, Ta. Pak Bobby itu bucin kali sama lo, gue yakin Presdir Bobby akan senang liat lo ada di kantor," tutur Nisa dengan meyakinkan sahabatnya.
"Gue enggak yakin, Sa. Apa gue bisa membujuk Mas Bobby," timpal Aleta dengan muka datar.
"Eiiy, belum juga dicoba udah nyerah aja. Ayolah, lo berjuang dikit napa? Gini deh, lo beliin makanan kesukaan Bobby atau enggak barang yang dia suka sebelum lo menemuinya, gimana?" Nisa menyarankan sahabatnya untuk membelikan sesuatu yang Bobby suka.
"Boleh juga, nanti sampai kantor gue melipir bentar buat beli martabak spesial cheese buat dia," jawab Aleta.
"Martabak? Lo yakin dia suka makanan kaki lima?" Nisa keheranan dengan makanan kesukaan atasannya.
__ADS_1
Aleta mengangguk mantap. "Iya, gue yakin. Sebelumnya dia pernah ngasih tau gue tentang makanan kesukaannya. Awalnya gue juga enggak percaya, masa iya seorang Bos besar suka makanan kaki lima. Tapi, begitu dia melahap habis martabaknya gue baru percaya."
"Wah, gila. Sang duren sawit ini sangat menarik. Jarang loh ada bos unik kek gini."
"Itulah, dia benar-benar unik."
"Lo jagain tuh cowok lo, jangan sampai si ulat gatal itu datang lagi dan gondol pacar lo,"
"Iya, lo tenang aja. Gue udah mantep sama Mas Bobby. Gue enggak akan biarkan dia melangkah sedikitpun untuk menemui wanita gatal itu."
Aleta hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Setelah berbincang-bincang, tak terasa kini mereka sudah sampai di kantor. Aleta memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah mereka keluar dari mobil.
"Sa, lo ikut gue bentar ya. Antar gue beli martabak," ajak Aleta sembari berjalan bersama dengan sahabatnya.
"Bentaran tapi ya, gue sebelum masuk kerja mau ketemu Kak Hadwin dulu," jawab Nisa sedikit cengengesan.
__ADS_1
"Yaelah, bentar doang. Enggak bakalan satu jam cuma beberapa menit. Ayok, nanti gue belikan juga buat lo." Aleta menarik pelan lengan sahabatnya dan membawa pergi.
"Setuju, kalau gini 'kan gue mau. Kapan lagi gue ditraktir calon manten, ya enggak?" goda Nisa sambil menaik-turunkan alisnya.
"Matre lo!" celetuk Aleta dengan memutar bola matanya malas.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka pun sampai di penjual martabak yang menggunakan gerobak. Tanpa berlama-lama, Aleta langsung memesan dua martabak. Keduanya adalah martabak spesial cheese namun untuk martabak Nisa dia merequest ingin ditambah topping coklat. Aleta tak mempermasalahkan hal itu, dia menyetujuinya.
Sambil menunggu martabak, mereka duduk di kursi plastik yang disediakan tukang martabak untuk para pembeli. Karena bete, mereka pun bermain ponsel. Aleta kembali galau karena Bobby belum mengiriminya pesan.
Namun, jelang beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk. Aleta dengan semangat membuka pesan itu. Sayangnya, pesan itu dikirim oleh nomor tidak kenal.
Mau tidak mau Aleta membuka pesan itu karena penasaran. Tanpa berpikiran macam-macam Aleta menyentuh pesan itu dan membacanya. Alangkah terkejutnya ia pada saat membaca pesannya. Dia berdiri dengan bola mata yang terbelalak dan mulutnya yang menganga tapi keburu ditutup oleh tangan kirinya.
****
__ADS_1