
"Nisa?" panggil Aleta dengan mengerutkan keningnya.
Ternyata orang yang tiba-tiba menyahut tidak lain adalah temannya sendiri, Zainisa. Nisa berjalan mendekati Aleta. Begitu berada di hadapan Aleta, dia segera mengambil cangkir dan membuat kopi untuknya sendiri.
"Tadi gue nyariin lo ke kediamannya Pak Bobby, tapi kata security lo sama Pak Bobby sudah pergi. Lo dari mana aja?" tanya Nisa pada temannya.
"Gue tadi mampir ke rumah nyokap bokap gue, Nis." Aleta mengambil cangkir, lalu dia membuat kopi untuk calon suaminya.
"Gimana?" Nisa menaik-turunkan alisnya.
"Gimana apanya?" alih-alih menjawab, Aleta justru balik bertanya pada Nisa.
"Hubungan lo sama Pak Bobby. Lo Terima lamaran dia 'kan?" goda Nisa seraya menyenggol tubuh Aleta.
"Ya, gue terima." Aleta mencoba menahan senyumannya sampai hidungnya terlihat kembang kempis.
"Ciee, senyum aja keles enggak usah ditahan kek gitu," kekeh Nisa seraya memegang secangkir kopi.
"Yee, apaan sih lo." Aleta memutar bola matanya.
"Alah, enggak udah ngeles lo. Hidung lo aja udah kembang kempis gitu, pake bohong segala lagi," celetuk Nisa.
"Nyebelin lo," timpal Aleta.
"Nyebelin apa ngangenin nih?" tanya Nisa dengan penuh percaya diri.
"Idih, over PD lo!" Aleta tertawa terbahak-bahak.
"Oh iya, Leta ... jadi kapan nih, pertunangan lo sama Pak Bobby?" tanya Nisa.
"Kepo lo," tawa Aleta dengan puas.
"Leta ih! Lo lama-lama bikin gue gedeg ya." Nisa cemberut seraya menyeruput secangkir kopi.
"Kami akan bertunangan 2 minggu lagi," jawab Aleta.
Uhuk! Uhuk!
Nisa yang mendengar jawaban Aleta langsung tersedak. Bagaimana tidak, dalam dua minggu temannya akan bertunangan. Dua minggu adalah waktu yang cepat, dia tidak menyangka jika Aleta akan bertunangan secepat itu.
__ADS_1
Dengan sigap Aleta mengambil satu botol air mineral dari lemari es. Kemudian dia memberikannya pada Nisa. "Ini, lo minum dulu."
Nisa pun lansung meneguk air mineral pemberian temannya. Setelah itu dia menyimpan botol minuman di meja pantry.
"Lain kali kalau nyeruput kopi itu pelan-pelan. Gue enggak bakalan minta kopi lo itu kok," tegur Aleta.
"Gue tersedak karena jawaban lo. Enggak salah dengar gue, lo mau tunangan 2 minggu lagi? Bukanlah itu terlalu cepat, Leta?" Nisa menatap Aleta dengan tatapan yang serius.
"Ya, gue tahu. Tapi, semua ini kemauan Pak Bobby. Dan lo tahu, Pak Bobby ingin kita menikah dalam waktu 3 bulan," jelas Aleta.
"Apa?" Nisa membelalakkan kedua matanya. "Terus, lo jawab apa? Lo setuju jika kalian menikah secepat kilat gitu?" Nisa lanjut bertanya.
"Ya enggaklah, ngaco! Mana mau gue menikah secepat itu," timpal Aleta.
"Terus lo jawab apa?"
"Gue jawab aja kalau gue belum siap nikah dalam waktu dekat. Gue minta waktu 1 tahun."
"Lo yakin mau menikah dalam 1 tahun? Lo udah yakin sama perasaan lo sendiri?" tanya Nisa.
"Gue yakin, bahkan gue sangat yakin jika Pak Bobby adalah pria yang akan membahagiakanku suatu saat nanti. Lagi pula, nyokap bokap gue udah setuju sama hubungan kami. Gue hanya enggak nyangka aja jika gue akan menikah dengan pria yang usianya 9 tahun lebih tua dari gue. Semoga aja hubungan gue sama Pak Bobby langgeng sampai pernikahan. Do'ain gue ya, Bestie," jelas Aleta disertai senyuman kebahagiaan.
"Iya, Nisa bestie gue. Gue akan selalu ingat pesan lo ini. Gue akan tetap berhati-hati kok. Ya udah, kalau gitu gue balik ke ruangan Pak Bobby ya." Aleta mengambil secangkir kopi yang sudah siap. Kemudian dia membawanya ke ruangan Presdir Bobby.
Sementara itu, Nisa hanya menatap kepergian Aleta. "Semoga hubungan kalian baik-baik aja ya, Leta. Gue hanya khawatir jika ada orang jahat yang akan menghancurkan hubungan kalian. Semoga aja ketakutan gue itu hanya ketakutan yang tidak akan pernah terjadi."
****
Tok! Tok! Tok!
Begitu sampai di depan pintu ruangan Presdir Bobby, Aleta langsung mengetuk pintu sebanyak 3 kali. "Masuklah!" ujar Presdir Bobby dari dalam.
Mendengar itu, Aleta segera membuka pintunya. Dia pun masuk dengan secangkir kopi di tangannya. Tidak lupa, dia langsung menutup kembali pintunya.
Perlahan dia berjalan menghampiri calon suaminya. Lagi-lagi dia merasa gerogi ketika Bobby menatap tajam ke arahnya. Ditatap lekat seperti itu, tentu saja wajah gadis cabai ini langsung merona bak kepiting rebus.
"Mas, ini kopinya." Aleta menaruh secangkir kopi itu di meja kerja Bobby.
"Terima kasih." Bobby tersenyum seraya mengambil secangkir kopi itu.
__ADS_1
Bobby langsung menyeruput kopi buatan sekretaris sekaligus calon istrinya. "Sayang, tunggu!" panggil Bobby pada saat melihat Aleta yang hendak berjalan meninggalkan meja kerjanya.
Aleta yang merasa dirinya dipanggil pun segera menoleh ke belakang. "Iya, Mas. Apa Mas membutuhkan sesuatu?" tanya Aleta.
"Kemarilah!"
Aleta menuruti perkataan Bobby. Dia berjalan menghampiri atasan sekaligus calon suaminya lagi. "Iya, Mas." Aleta menatap Bobby.
"Sini!" Bobby menarik lengan Aleta sehingga tubuh gadis cabai ini pun jatuh ke pangkuannya.
Deg!
Jantung Aleta berdegup begitu cepat disertai bola matanya yang membelalak seakan melompat keluar dari tempatnya. Sesekali dia tertegun melihat rahang tegas calon suaminya.
"Mas jangan membuatku takut kek gini dong," keluh Aleta tanpa berani menatap mata Bobby.
"Takut? Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu, Gadis cabai? Kenapa harus takut, heum?" Bobby mencolek hidung Aleta.
"Posisi seperti ini yang aku takutkan, Mas. Kau dengar? Jantungku berdegup cepat, lama-lama aku bisa kena riwayat jantung kalau kek gini terus," celetuk Aleta, konyol.
"Konyol! Haha," Bobby tergelak tawa.
"Aku serius, Mas. Malah ketawa,"
"Ya udah iya. Gini, Leta ... aku mau menunjukkan sesuatu padamu," ujar Bobby mengalihkan pembicaraan.
"Apa itu, Mas?" tanya Aleta dengan menoleh ke wajah Bobby.
Bobby memeluk Aleta dari belakang. Kemudian tangannya mengotak-ngatik laptopnya. Setelah beberapa detik kemudian, muncullah beberapa tempat yang sangat indah. "Lihat ini!" Bobby menunjukkan jari telunjuknya ke layar laptop.
"Tempatnya bagus, Mas. Kenapa Mas menunjukkan tempat yang indah ini padaku?" tanya Aleta dengan mengerutkan keningnya.
"Ini tempat pertunangan kita nanti, aku ingin tempat ini menjadi saksi atas peresmian hubungan kita ini." Bobby menatap Aleta dalam.
"Sweet banget sih," ucap Aleta kelepasan.
'Aduh, bego banget! Kenapa pake keceplosan segala sih.' Aleta membungkam mulutnya sendiri sembari menggerutu di dalam hatinya.
****
__ADS_1