Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Very beautifull


__ADS_3

Di restoran ....


Zainisa kini sudah sampai di salah satu restoran. Dia berdiri menatap ke arah restoran tersebut. Dengan jantungnya yang berdebar kencang, wanita ini berjalan memasuki restoran.


Langkah demi langkah Nisa sudah melewati beberapa meja. Namun, dia belum melihat pria yang ingin dia temui. Wanita ini merasa sedikit aneh, sebab keadaan restoran yang dia datangi tidak seperti biasanya yang ramai pengunjung. Entah kenapa hari ini ia tidak melihat satu pengunjung pun yang makan.


Di tengah kebingungannya, Nisa dihampiri oleh salah satu pelayan. "Selamat datang, apa anda yang bernama Zainisa?" Pelayan itu menyapa sekaligus bertanya.


Zainisa mengangguk disertai senyumannya yang ramah. "Iya, saya sendiri. Kenapa ya, Mbak? Bagaimana Mbak bisa tahu kalau saya Zainisa?" Nisa balik bertanya.


"Saya hanya menebaknya, sebab yang datang ke restoran hari ini khusus untuk anda. Pak Hadwin yang sudah booking restoran ini," jelas pelayan itu.


"Booking? Pak Hadwin booking restoran ini?" Seketika bola mata Nisa membelalak dengan sempurna.

__ADS_1


"Iya, mari. Saya antar anda menemui Pak Hadwin." pelayan itu mengajak Zainisa untuk ke ruangan VIP.


Zainisa tidak mengatakan apa pun, dia hanya mengikuti pelayan itu yang berjalan menuju salah satu ruangan. Entah apa yang ada dipikiran Hadwin, kenapa dia harus menyewa restoran seperti itu cuma karena untuk bertemu dengan Nisa. Begitulah yang ada dipikiran Zainisa saat ini.


Sesampainya di depan ruang VIP, pelayan itu mempersilakan Nisa untuk masuk. Sementara pelayan tesebut langsung meninggalkan Nisa. Dengan tangannya yang sedikit gemetar, dia mulai membuka pintunya dan masuk.


Begitu Nisa berada di ruangan, dia melihat Hadwin tengah duduk dengan tegap. Dilihat dari belakang saja sudah terlihat sangat gagah dan menarik. Perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah meja makan yang penuh dengan makanan, mulai dari makanan pembuka hingga penutup.


"Kak Hadwin, Nisa maaf karena telah membuat Kakak menunggu lama," ucap Nisa yang sekarang berada tepat di belakang Hadwin.


'Ya ampun, hari ini dia kelewat tampan. Apa dia sengaja berpenampilan sekece ini hanya untuk menemuiku? Oh tidak, jantungku sudah tidak aman ini,' Nisa bermonolog dalam hatinya seraya memegangi jantungnya yang sedari tadi terus berdegup kencang.


Hadwin beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di depan Nisa. Dia melangkah beberapa langkah sehingga jarak antara dirinya dengan Nisa hanya beberapa inchi saja. Nisa yang didekati Hadwin seperti itu tentu saja semakin tidak tenang. Dia tertegun pada saat salah pria yang dia sukai berada tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


'Bisa enggak waras aku kalau lama-lama ditatap kek gini.'


Hadwin tersenyum sembari menarik kursi yang berada di hadapannya. Setelah itu Hadwin mendekatkan bibirnya ke telinga Nisa. 'Aduh, dia mau ngapain?' Nisa sudah sangat ketar-ketir.


"Duduklah, kamu akan pegal jika terus berdiri," bisik Hadwin.


Kemudian Hadwin berjalan mengitari meja dan duduk berhadapan dengan Nisa. Tanpa berlama-lama, Nisa pun duduk. Dia menaruh tasnya di kursi kosong yang ada di sebelahnya. Ruangan itu cukup hening, hanya mata mereka yang saling bertatapan.


Nisa meremas jemarinya pada saat Hadwin terus menyorotkan matanya cukup tajam. "Kak Hadwin kenapa liatin aku sampe kek gitunya? Apa penampilanku ada yang aneh?" Nisa mulai memberanikan diri dengan bertanya mengenal penampilannya.


Hadwin tidak menjawab, hanya senyuman yang terlihat. "Apa penampilanku buruk?" gumam Nisa dengan pelan.


"Very beautifull."

__ADS_1


****


__ADS_2