
"Hei, kenapa berteriak? Aku Bobby, Leta!"
Yup, orang yang berada di pintu kamar Aleta tidak lain dan tidak bukan adalah calon suaminya. Bobby menarik tangan Aleta dan membalikkan badan calon istrinya. "Lihat aku, Leta!" Bobby memegang bahu Aleta sembari menatapnya.
"Iya, Mas. Aku tahu ini kamu, aku berteriak karena aku malu. Kenapa Mas datang ke kamarku sepagi ini? Lagian, aku malu ... aku belum mandi," ucap Aleta dengan suara yang sedikit pelan.
"Memangnya kenapa jika kamu belum mandi, heum? Kamu tetap terlihat cantik kok dan satu lagi ...." Bobby mendekati tubuh Aleta dan tangannya meraih sesuatu, sehingga posisinya seperti orang yang sedang memeluk.
"Jangan pernah mengikat rambutmu seperti ini! Aku tidak suka jika kamu memamerkan leher indahmu ini. Aku juga tidak ingin kamu mengikat rambutmu pada saat di luar sana." Bobby protes dengan menarik lembut ikatan rambut calon istrinya.
Glek!
Aleta hanya tertegun pada saat Bobby meraih ikatan rambut itu dan membelai rambutnya. Tubuhnya membeku tak bisa bergerak sama sekali selain matanya yang terus menatap ke arah Bobby. Kini debaran jantungnya mulai beraksi, di mana jantungnya sudah berdegup kencang dari biasanya.
__ADS_1
Melihat Aleta yang sedang melamun, membuat Bobby menjentikkan jarinya tepat di depan wajah gadis cabai itu. Seketika Aleta langsung tersadar. "Eh ... iya, Mas."
"Kenapa malah bengong? Kamu dengar tidak aku bicara apa?" tanya Bobby.
Aleta mengangguk cepat. "Tidak kok, Mas. Leta tidak bengong, Leta juga dengar ucapan Mas. Kalau begitu, Leta mandi dulu ya. Mas tunggu di ruang tengah ya," ucap Leta disertai senyuman manisnya.
"Ya udah, aku tunggu di ruang tengah. Kamu jangan lama ya, nanti keburu siang," timpal Bobby.
"Siap, suami anehku." Aleta segera menutup pintu kamarnya dan bersiap-siap untuk mandi.
"Loh, Nak Bobby ... di mana Leta? Apakah dia masih tertidur? Anak ini, kalau enggak digedor susah sekali bangun. Biarkan Ibu saja yang bangunkan Leta. Nak Bobby minum dulu tehnya," ujar Devica seraya menyimpan segelas teh hangat di meja.
"Tidak perlu, Bu. Leta sudah bangun, saat ini Leta sedang bersiap-siap. Terima kasih untuk tehnya, Bu," Bobby mengucapkan dengan lembut dan penuh kesopanan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau Leta sudah bangun. Takutnya dia belum bangun. Kalau begitu, Ibu tinggal dulu ya, Nak Bobby. Ibu masih ada pekerjaan di dapur,"
"Iya, Bu. Silakan." Bobby melemparkan senyuman ramah pada ibunya Aleta.
Tak la kemudian, setelah Devica pergi, Aleta datang. Dia menghampiri Bobby yang sedang duduk sembari menyeruput teh hangatnya. Alangkah terkejutnya Bobby pada saat melihat pakaian yang Aleta pakai sampai dia tersedak.
Bagaimana tidak, pakaian yang saat ini Aleta kenakan adalah tshirt yang cukup seksi dengan menunjukkan perut mulusnya. Tentu saja Bobby terkejut bukan main. Bobby langsung berdiri dan melihat penampilan Aleta dengan tatapan yang tajam.
"Mas, ngapain liatin aku sampe segitunya? Apa ada yang salah sama Leta?" Aleta membalas tatapan Bobby dengan wajah yang keheranan.
"Kamu ini mau pergi jogging atau mau pamer sih? Aku enggak mau tubuhmu dilihat banyak orang. Sebentar!" Bobby membuka hoddie yang dia kenakan.
"Kau pakai ini!" Kemudian Bobby memakaikan hoddie itu pada Aleta.
__ADS_1
"Ih, Mas! Hoddie ini terlalu besar, aku seperti Nek gombreng tahu!" Aleta mengomel sembari mengerucutkan bibirnya.
****