
"Leta! Bangun, Nak. Kamu kenapa?" Devica menepuk-nepuk pipi putrinya agar bangun.
Seketika Aleta langsung mengerjapkan matanya. Keningnya dipenuhi keringat dan pipinya basah akibat menetesnya air mata. Begitu dia membuka matanya, dia sedikit terkejut ketika melihat ibunya berada di kamarnya.
"Loh, sejak kapan Ibu ada di kamar Leta?" Aleta duduk di tepi ranjangnya.
Diikuti oleh Devica yang duduk di sebelah putrinya. Dia menatap ke arah Aleta dan memegang tangannya. Aleta pun membalas tatapan ibunya.
"Ada apa, Bu? Kenapa lihat Leta sampai segitunya?" Aleta kebingungan dengan tatapan sang Ibu.
"Seharusnya Ibu yang tanya sama kamu, Nak. Kamu kenapa? Apakah kamu sedang ada masalah sama Bobby?" tanya Devica dengan penuh kelembutan.
Devica mengelus lembut kepala putrinya. "Enggak ada kok, Bu. Hubungan kami baik-baik aja." Aleta tersenyum manis dan langsung memeluk ibunya.
"Ibu hanya khawatir kalian berantem. Jika kalian baik-baik aja, kenapa kamu ngigo dan bilang kalau Bobby pria jahat? Apa yang kamu mimpikan tentang Bobby, Nak?" Devica bertanya sembari menepuk-nepuk pundaknya.
__ADS_1
Sejenak Aleta terdiam. Dia kembali mengingat mimpinya yang baru saja dia alami. Dia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
"Leta mimpi kalau pernikahannya dibatalkan Mas Bobby karena James terbukti memang anaknya. Dia ingin kembali bersama istri dan anaknya, Bu. Mendapat mimpi seperti ini, Leta jadi ngerasa seperti seorang pelakor aja," Aleta menjawab dengan jujur dan posisi masih memeluk ibunya.
"Tenanglah, Sayang. Itu hanyalah bunga tidur. Lagi pula keluarga Bobby tidak menyukai Cesya dari dulu. Jadi, Leta enggak boleh overthinking gitu ya, percaya aja sama calon suamimu, Bobby. Ibu yakin jika Bobby akan menangani masalah ini dengan baik. Udah, jangan dipikirkan. Sekarang kamu makan dulu gih, Ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu," Devica mengajak putrinya untuk makan.
"Iya, Bu. Leta akan turun sebentar lagi, Leta mau mandi dulu dan siap-siap. Jadi, kalau Mas Bobby datang menjemput Leta sudah siap," jawab Aleta dengan melepaskan pelukan hangat ibunya.
"Loh, kalian mau ke mana lagi? Bukankah tadi kalian sudah bertemu? Ingat, Nak. Kalian itu jangan terlalu sering pergi berduaan karena kalian akan menikah. Tidak baik jika kalian sering pergi-pergian," Devica menasehati putrinya dengan nada yang lembut.
"Bagus, kalau begitu cepatlah bersiap-siap. Setelah itu turun dan makan dulu." Devica beranjak dari duduknya.
"Baik, Bu. Leta akan turun sebentar lagi." Leta pun turut beranjak dari duduknya dan berjalan mengantar ibunya menuju pintu kamar.
Setelah ibunya keluar dari kamar, Aleta pun menutup kembali pintu dan menguncinya. Kemudian dia mulai bersiap-siap. Menit demi menit gadis ini lewati, kini setelah beberapa menit kemudian dia sudah selesai bersiap-siap.
__ADS_1
Aleta mengambil tas mininya, lalu keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga sembari bermain ponsel. Gadis itu tertawa kecil sembari menatap layar ponselnya.
"Perhatikan langkahmu, jangan sampai kamu terjatuh cuma gara-gara sibuk memperhatikan gadget," ucap seseorang yang sedang berdiri di depan tangga sembari melihat ke arah Aleta.
Langkah Aleta terhenti, dia mematikan ponselnya dan melihat ke arah orang itu. Seketika bibir Aleta langsung tersenyum ketika melihat orang itu. Ternyata orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Bobby.
"Loh, Mas ... kapan Mas datang dan berdiri di situ?" Aleta bertanya seraya kembali menuruni anak tangga.
"Baru aja, oh iya, Sayang ... kita tidak akan pergi ke rumah sakit,"
"Kenapa, Mas? Bukankah kita harus tes DNA?" Aleta mengernyitkan kedua alisnya.
"Itu tidak perlu, Sayang. Aku sudah tahu kalau James bukan putraku." Bobby tersenyum.
****
__ADS_1