
Di ruangan Presdir Bobby ....
Saat ini Aleta tengah terbaring di sofa dengan buku yang berada di pelukannya. Yup, Aleta ketiduran pada saat dia menghafal tiga bahasa yang diperintahkan atasan sekaligus calon suaminya. Gadis cabai ini memanglah gadis yang kurang sekali membaca, jika terlalu lama membaca dia akan mulai mengantuk dan langsung tertidur saat itu juga.
Melihat istrinya yang tertidur di sofa, Bobby pun beranjak dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri sekretaris yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya. Begitu berada di samping Aleta, dia pun melepaskan jasnya, lalu Presdir Bobby menyelimuti tubuh gadis yang biasa panggil gadis cabai ini.
Sebelum kembali ke meja kerjanya, Bobby mengelus kepala Aleta dan mencium keningnya. Dia tahu jika Aleta telah berusaha sangat keras untuk menjadi seorang sekretaris yang baik untuknya. Maka dari itu, Pria bermata biru ini tidak mempermasalahkan Aleta tertidur.
Tidak hanya itu, Bobby tetap setia menunggu Aleta di ruangannya sampai sekretarisnya benar-benar bangun. Waktu berlalu begitu cepat. Kini arloji yang tengah dia pakai telah menunjukkan pukul 19.35.
Bobby harus segera pulang ke kediamannya untuk mengemasi Barang-barangnya. Sebab, dia akan menjemput keluarganya di London. Namun, dia tidak mungkin meninggalkan calon istrinya tertidur di ruangannya sendirian. Kini akhirnya, Bobby memutuskan untuk tetap menunggu Aleta dan akan pulang setelah sekretarisnya bangun.
Selang beberapa menit, akhirnya Aleta terbangun dari tidurnya. "Hoam!" Aleta menguap seraya meregangkan otot-ototnya.
Setelah itu, barulah Aleta bangun dan duduk. Pada saat dia duduk, dia melihat jas Presdir Bobby ada padanya. Sontak kedua matanya terbelalak seraya mengecek jam di jam tangannya. "Astaga, aku ketiduran." Aleta panik dan langsung berdiri.
Aleta hendak pergi dari ruangan Presdir Bobby. Namun, Bobby memanggil sekretarisnya. "Leta, tunggu!"
Aleta yang mendengar namanya dipanggil langsung menghentikan langkahnya serta membalikkan badan ke arah sumber suara. Begitu dia menghadap ke meja kerja Presdir Bobby, dia melihat atasannya membalikkan kursinya ke arah Aleta. Padahal sebelumnya, Aleta tidak melihat Presdir Bobby ada di meja kerjanya. Itulah, mengapa gadis cabai ini segera pegi meninggalkan ruangan Presdir Bobby.
Namun, belum sampai di pintu keluar, Aleta terhenti dengan sedikit terkejut. "Loh ... kok Mas masih di sini? Leta pikir Mas sudah pulang, taunya Mas masih di sini," ucap Aleta.
"Bagaimana bisa aku pulang dan meninggalkanmu di sini sendirian. Aku takut ada orang yang jahatin kamu di sini ya walaupun kau tertidur di ruanganku."
"Aah, Mas perhatian sekali." Aleta terkesima melihat kepribadian calon suaminya.
__ADS_1
"Tentu saja, kau ini calon istriku. Aku wajib memberikan perhatian lebih padamu. Sudah, jangan memujiku seperti itu. Ayo kita pulang, kau harus membantuku berkemas," ajak Bobby seraya beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan menghampiri Aleta.
"Mas, ini jasnya pakai dulu." Aleta memberikan jas yang tadi sempat menjadi selimutnya.
"Tidak perlu, Sayang. Kau pakai saja, di luar udaranya sangat dingin. Aku tidak mau kau sampai kedinginan." Bobby mengambil jasnya.
Kemudian Bobby memakaikan jas miliknya ke tubuh Aleta. Tentu saja, Aleta yang diperlakukan begitu hangat merasa dirinya sangat beruntung karena bisa melihat sisi baik dan tulusnya seorang Duren Sawit ini. "Terima kasih, Mas Duren Sawit," Aleta mengucapkan terima kasih disertai senyumannya yang manis.
"Jangan berterima kasih seperti itu, Leta. Aku ini calon suamimu. Dan iya ... jangan memanggilku Duren sawit lagi. Karena sebentar lagi akan menikah denganmu." Bobby mencolek hidung Aleta.
"Iya deh iya, Mas. Entah kenapa aku menyukai julukanmu itu. Unik sekali dan cocok untuk Mas Bobby," Aleta cengengesan.
"Udah, ayo kita pulang. Mau sampai kapan kita berada di ruangan ini?"
"Iya, Mas. Ayo." Aleta menggandeng lengan atasannya.
Mereka berjalan menuju basement untuk mengambil mobil Bobby. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di basement. Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera memasuki mobil dan pulang menuju Albern Home.
****
Setelah beberapa menit kemudian, Bobby dan Aleta sampai di kediaman Albern. Mereka keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya yang mewah itu. Mereka berjalan menuju kamarnya tanpa melipir ke ruangan yang lain.
Ceklek!
Pintu dibuka oleh Bobby. Keduanya masuk bersamaan. Bobby mengambil sebuah koper untuk mengemasi barang-barangnya. Namun, sebelum berkemas pria bule ini mengajak Aleta untuk duduk bersamanya sebentar sembari meminum wine merah.
__ADS_1
"Mas, aku tidak suka minuman seperti ini. Bisakah aku meminta minuman yang lain?" tanya Aleta.
"Memangnya kenapa? Minuman ini enak kok, bahkan setiap kali aku merasa lelah, aku selalu minun wine. Jika kau tidak percaya, cobalah." Bobby menyodorkan segelas wine. Pada Aleta.
Aleta menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Aku tidak ingin meminumnya. Besok aku harus kerja, aku tidak boleh kerja dalam keadaan mabuk. Lagian Mas juga akan terbang ke London besok pagi 'kan? Jadi, Mas tidak boleh minum wine ini, okay." Aleta merebut segelas wine untuk menyimpannya.
Namun, pada saat dia hendak menyimpan wine tersebut. Tiba-tiba kakinya tersandung dan wine itu tumpah di bagian kemeja Bobby. Aleta membelalakkan matanya, dengan cepat dia mengambil sapu tangan miliknya dan membersihkan kemeja Bobby.
"Ya ampun, Mas. Maafin Leta, aku tidak sengaja menumpahkan ini. Tadi kakiku tiba-tiba tersandung," jelas Aleta dengan sedikit cemas.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku bisa menggantinya. Kalau begitu, kau tunggu di sini. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu." Bobby beranjak dari duduknya dan segera melepaskan kemeja yang terkena noda wine itu.
Glek!
Aleta tertegun pada saat melihat tubuh Bobby yang polos. "Mas, tidak marah 'kan?" tanya Aleta.
Bobby yang mendengar itu langsung tersenyum dan kembali menghampiri Aleta. Dia menarik lengan sekretarisnya serta menatapnya dengan tatapan yang lekat. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Bobby langsung menarik pinggang ramping Aleta sehingga tidak ada lagi jarak antara mereka.
Cup!
Bobby mengecup bibir Aleta cukup lama. Sementara itu, Aleta terkejut bukan maen. Bagaimana dia bisa lengah seperti ini. Dia mencoba untuk menghindari Bobby, akan tetapi bosnya ini sudah seperti harimau yang siap untuk menerkamnya.
Dan benar saja dugaan Alsta. Kini Bobby kembali mencium bibir ranum Aleta dengan sangat lembut. Kali ini gairah Bobby benar-benar meningkat. Wajar saja dia seperti ini karena selama bertahun-tahun dia cukup kesepian dan tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Aleta mulai kehabisan napas, ciuman yang awalnya begitu lembut tiba-tiba berubah menjadi ganas membuat Aleta kewalahan mengimbangi permainan bibir calon suaminya. Sebenarnya dia sangat ingin menolaknya akan tetapi tenaga dan gairah Bobby yang telah menguasainya. Setelah puas, Bobby pun melepaskan pagutannya.
__ADS_1
"Mas, kau hampir membunuhku." tubuh Aleta merosot ke sofa dengan napasnya yang tersenggal.
****