
"Mas, ada apa? Kenapa menarikku seperti ini?" Aleta menatap Bobby dengan tatapan yang heran.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Cesya?" Bobby melepaskan tangan Aleta, lalu memegang kedua bahunya.
"Apa sih, Mas? Dia hanya menyapaku saja," Aleta menjawab dengan mengalihkan tatapannya dari tatapan suaminya.
"Jangan bohong! Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu."
"Tidak ada, Mas. Aku tidak menyembunyikan apa pun dari Mas,"
"Oh iya? Kalau begitu tatap mataku dan katakan!" skak Bobby.
Perlahan Aleta mulai menatap mata Bobby. Dia sedikit tertegun dan mengedipkan matanya beberapa kali. Begitupun dengan Bobby, dia membalas tatapan calon istrinya dengan penuh kelembutan dan membuat Aleta merasa nyaman dengan tatapan teduh Bobby.
"Apa Mas menyembunyikan sesuatu dariku?" Aleta menatap Bobby dengan wajah yang penasaran.
Bagaimana tidak, dalam benaknya memikirkan tentang ucapan Cesya perihal rahasia Bobby. Sementara itu, Bobby tidak langsung menjawabnya. Dia melangkah satu langkah dan mendekatkan bibirnya di telinga Aleta.
"Aku tahu apa yang akan kamu tanyakan. Seharusnya kamu tidak terpengaruh dengan ucapan Cesya. Ingatlah, saat ini dia hanya sedang berusaha menggeser posisimu dan menggantikannya dengan dirinya. Dia ingin menjadi istriku kembali untuk menguasai kekayaanku! Percayalah, Sayang. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu," bisik Bobby dengan suara yang begitu lembut memasuki telinga Aleta.
__ADS_1
"Baik, Mas. Leta minta maaf, Leta tidak tahu tujuan Bu Cesya apa hanya saja ...."
"Hanya saja apa?" sela Bobby.
Dengan cepat Aleta menggelengkan kepalanya. "Eumm ... bukan apa-apa, Mas. Ayo, kita pulang." Aleta mengalihkan pembicaraan dengan mengajak calon suaminya pulang.
"Leta ... kamu tidak sedang mengalihkan pembicaraan 'kan?" tebak Bobby.
"Enggak kok, Mas. Udah yuk, kita pulang. Leta gerah mau mandi dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit,"
"Ya udah, ayo."
Mereka pun jalan bergandengan. Sepanjang jalannya, mereka isi dengan canda dan tawa yang tulus. Tak heran jika pandangan para pejalan kaki tertuju pada Aleta dan Bobby, sebab mereka terpaut usia yang lumayan jauh. Namun, meskipun begitu mereka terlihat acuh dan tidak memikirkan pendapat orang lain.
****
"Siap, Presdir Bobby," kekeh Aleta dengan menundukkan kepalanya.
"Hei, kamu ini sedang apa." Bobby menangkup kedua pipi calon istrinya disertai celengan kepala.
__ADS_1
Muach!
Tanpa Aleta duga, Bobby lagi-lagi menyerang calon istrinya dengan senjata bibirnya. Karena hal itulah, seketika bola mata gadis itu langsung membelalak dengan sempurna. Jantung Aleta langsung berdebar tak karuan.
"Mas! Kebiasaan deh. Udah sana pulang, jangan cari-cari kesempatan dalam kesempitan." Aleta mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu nanti sore. Bye, Gadis cabai." Bobby mengedipkan sebelah matanya sebelum dia pulang.
"Iya, Pria aneh. Hati-hati di jalannya," balas Aleta dengan sedikit tertawa. Kemudian dia membalikkan badannya dan berjalan memasuki rumahnya.
Begitu masuk rumah, Aleta langsung pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Dia membawa satu kaleng minuman dingin dan membawanya ke kamar. Pada saat Aleta hendak melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba-tiba Devica datang dan menepuk pundak putrinya.
"Sayang, kamu baru pulang?"
Aleta menoleh ke belakang. "Eh, Ibu. Iya, Leta baru pulang." Aleta tidak jadi pergi ke kamarnya. Dia memutuskan untuk duduk di meja pantry sembari menikmati minuman dingin yang ada di tangannya.
"Sayang, apa benar jika kalian akan langsung punya anak dan tidak akan menunda kehamilanmu setelah menikah?" celetuk Devica.
Uhuk! Uhuk!
__ADS_1
Seketika Aleta langsung tersedak dengan wajahnya yang merona.
****