Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)

Gairah Sang Duren Sawit (Duda Keren Sarang Duit)
Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanannya, Nisa celingukan mencari sahabatnya yang sejak tadi belum kembali dari toilet. Begitupun dengan Presdir Bobby, dia pun belum kembali juga dari toilet juga. Berbeda dengan Hadwin, dia tidak begitu mempertanyakan ke mana Aleta dan Bobby sekarang. Kenapa belum kembali juga. Pria itu hanya asyik bermain ponsel seraya sesekali melirik ke arah Nisa.


"Mereka pasti sengaja diam-diam pergi tanpa memberi tahu kita, agar kita bisa saling mengenal dan semakin dekat," celetuk Hadwin tanpa menoleh ke arah Nisa. Matanya hanya fokus menatap ke layar ponselnya.


"Eoh?" Seketika mata Nisa langsung menoleh ke arah Hadwin.


"Sa, kamu mau enggak jadi pacarku?" tanya Hadwin seraya menyimpan ponsel di atas, meja.


Kini matanya menatap lekat pada Nisa. Sementara itu, Nisa yang mendengar pernyataan Hadwin langsung terkejut. Kedua bola matanya membulat dengan sempurna, dia merasa tidak percaya kalau seorang Hadwin yang terkenal pria dingin bisa semudah itu menyatakan perasaannya.


"Apa Pak Hadwin sedang bercanda? Pak Hadwin sengaja prank aku buat aku baper gitu?" alih-alih menjawab perasaan Hadwin, justru Nisa malah menuduh atasannya jika ucapannya itu hanyalah sebuah prank belaka.


"Saya serius, Zainisa! Apa mata saya terlihat sedang berbohong? Lihat wajah saya dan katakan, apa saya terlihat sedang bercanda?" Tatapan Hadwin semakin tajam ke arah Nisa.


Nisa terdiam bak patung, dia tidak menjawab sepatah kata apa pun. Saat ini dia hanya sedang menetralkan debaran jantungnya yang sedari tadi terus berdegup kencang. "Saya beri kamu waktu lima belas menit untuk menjawabnya. Pikirkan baik-baik karena aku tipe orang yang tidak suka banyak mikir. Kalau kamu yakin maka ayo kita jalani tapi sebaliknya, jika kamu tidak yakin maka tolak saja," ujar Hadwin dengan nada yang serius.

__ADS_1


"Hah? Lima belas menit? Dikira lagi presentasi kali ya. Unik banget nih cowok masa iya disuruh menjawab perasaan dalam waktu lima belas menit. Ini cowok maunya apa sih? Kok lama-lama ngeselin ya," gumam Nisa dengan pelan.


"Ekhem! Kamu sedang mengumpat ya?" Hadwin berdehem sembari sedikit menyindir bawahannya.


"Enggak, Kok. Untuk apa mengumpat?" Nisa menjawab dengan nada yang bete.


"Kalau begitu, katakan apa jawabanmu? Apa kamu menyukaiku? Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Hadwin sekali lagi.


"Tidak. Saya tidak bisa memutuskan dalam waktu lima belas menit. Lagi pula ini bukan presentasi, tapi ini masalah hati. Aku tidak ingin memilih hati yang salah cuma harena waktu yang ditentukan. Kalau begitu, aku permisi." Nisa menolak perasaan Hadwin.


Seketika sajah Hadwin langsung memerah menahan rasa malu. Baru kali ini cintanya ditolak. Sebelumnya banyak wanita yang selalu mengejar cintanya. Namun, kali ini keadaan berbalik. Kini dirinya lah yang mengejar cinta seorang gadis.


****


"Mas, kita main tebak-tebakan yuk?" Aleta mengajak kekasihnya untuk bermain tebak-tebakan.

__ADS_1


"Tebak-tebakan apa?" Bobby yang saat ini sudah siap untuk melajukan mobilnya, kembali mematikan mesinnya. Dia menoleh ke arah Aleta.


"Begini, Mas tebak jawab dari pertanyaanku ya. Menurut Mas, apa Pak Hadwin dan Nisa sudah jadian?" Aleta bertanya pada Bobby.


"Menurutku sih belum, tebakan saya adalah, Hadwin akan ditolak oleh Nisa. Bagaimana dengan tebakanmu,Sayang?" Bobby balik beratnya pada istrinya.


"Menurutku mereka sudah jadian,"


"Oh iya? Kita lihat nanti, jika tebakanmu salah maka kamu harus menciumku sepuluh kali, bagaimana?" Bobby menaik-turunkan alisnya.


"Bagaiamana kalau tebakanku benar?"


"Kamu boleh meminta apa pun dariku, bagaimana?" Bobby mengulurkan tangannya.


"Deal." Aleta pun setuju dengan berjabat tangan bersama calon suaminya.

__ADS_1


****


__ADS_2