
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 1 ( Tamu Tak Diundang )
Malam itu di rumah Dini terlihat ramai karena banyak saudara dan teman dekat Dini yang hadir.
Ruangan yang sudah didekor sedemikian rupa dan juga ada banyak hidangan istimewa untuk menyambut tamu.
Dini baru saja selesai didandani dengan jasa MUA yang dipilihnya untuk acara pertunangannya malam ini.
" Teh Dini cantik banget ih aku sampai pangling banget, selamat ya Teh semoga lancar sampai hari H "
Ocha tiba tiba sudah duduk disebelah Dini yang baru selesai berhias karena hari ini bertunangan dengan Budi kekasihnya.
" Ah kamu bisa aza, kamu juga cantik kalau dandan Cha. Kamu buruan nyusul dong "
" Nanti lah Teh kuliahku belum beres, aku pengen bahagiain dulu Ibu sama Ayah. Lagian aku pengen berkarier dulu teh " jawab Ocha.
" Mmhhh gapapa tiap orang punya pilihan sendiri. Teteh putusin buat nikah muda karena merasa sudah bertemu orang yang tepat "
Ketika mereka berdua sedang bercakap cakap, terdengar suara gaduh dari luar.
" Ih ada apa ya Teh kok rame banget? " Ocha langsung berdiri dari duduknya ingin melihat keluar.
" Sudah datang mungkin Mas Budi " ucap Dini sambil mengulas senyum.
" Ngga Teh ini kayak orang ribut " baru juga akan membuka pintu kamar, tiba tiba pintu sudah terbuka.
" Teh " Andri membuka pintu sambil terengah engah.
" Kenapa De, bikin kaget saja. Itu ada apa di luar? " tanya Ocha pada adik bungsunya.
" Itu Teh Mamahnya Mas Deni marah marah di depan? "
Degh
Dini langsung terdiam wajahnya pucat dan terlihat lemas.
" Teh, kenapa? duduk dulu jangan panik gitu "
Dengan sigap Ocha langsung mengambil segelas air minum yang berada di meja nakas.
" Minum Teh "
Dengan lesu Dini mengambil gelas tersebut dan meminumnya sedikit. Ocha dan Andri mencoba menenangkan Dini.
" Andri, coba kamu lihat kondisi di depan bagaimana sekarang "
" Iya Teh " jawab Andri, dia pun berdiri dan keluar.
Ocha mengusap lengan kakaknya agar mengurangi rasa paniknya.
Tok tok tok
__ADS_1
" Masuk " seru Ocha.
" Din ikut Ibu sebentar ya di depan ada keluarga Deni datang ingin menemuimu "
" Hufftt " Dini menarik nafas dalam dalam dan berusaha menenangkan dirinya.
" Bismillah " dengan langkah gontai dia berjalan di papah sang Ibu dan adiknya.
Sampai di ruang depan ternyata sudah ada tamu dan kerabatnya yang hadir. Di dekat pintu Dini melihat orang tua, adik serta keluarga Deni.
" Loh itu kan keluarga Deni, jadi sebenarnya Dini tunangannya sama siapa sih. Ini di undangan dia tunangan sama Budi "
" Si Deni kan tunangannya yang sebelumnya "
" Nah loh terus ngapain kesini keluarganya, mana Ibunya keliatan nafsu gitu kayak mau makan orang, ngeri ih "
bisik bisik mulai terdengar di telinga Dini, namun dia berusaha tenang.
" Assalammu Alaikum Mih, Pih semuanya " ucap Dini pada keluarga Deni.
" Bagus ya kamu bertunangan dengan orang lain, bukannya kamu sudah janji akan menikah dengan anak saya Deni? " Tessa Ibunya Deni langsung menyerang Dini.
Seketika tamu langsung riuh mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Tessa.
" Ih kok gitu, sok cantik banget si Dini main-main sama anak orang "
" Emang cantik si Dini tapi gak nyangka saja kelakuannya seperti itu. Amit amit ya "
" Kamu perut saja yang diurusin "
Dan masih banyak lagi bisik- bisik terdengar, yang membuat telinga Dini dan keluarganya panas.
" Ekheemm, Ibu-ibu dan Bapak- bapak tolong tenang dulu " Pak Hanif ayah Dini mencoba menenangkan tamu yang sudah terlihat riuh.
" Maaf Pak Mukhlis dan Bu Tessa bisakah kita bicara baik baik di dalam, agar lebih nyaman? " lanjut Pak Hanif.
" Tidak perlu saya tidak mau bertele-tele, saya merasa tidak dihargai keluarga Bapak. Untuk apa saya bicara baik baik seperti yang bapak minta "
Dada dan hidung Tessa terlihat kembang kempis menahan emosi.
Mendengar jawaban Tessa Hanif langsung terdiam dia merasa bingung karena sudah banyak tamu hadir, bahkan kalau sesuai jadwal keluarga Budi akan segera tiba.
Dia tidak mau ada kesalah fahaman antara keluarga besar mereka.
" Mih sudah Mih kita ini tamu harus menghargai pemilik rumah " Mukhlis mencoba menenangkan istrinya agar tidak membuat malu.
" Papih gak ngerti, sakit hati Mamih. Anak kesayangan Mamih dikhianati perempuan ini "
Telunjuk Tessa hampir menyentuh wajah Dini yang berdiri didekatnya sambil tertunduk menahan tangisnya.
" Maaf Mih, bukan seperti itu kejadiannya " Dini berusaha membela diri dari tuduhan calon mertuanya.
" Halah itu bisa bisanya kamu saja buat bela diri. Masih kurang apa yang sudah Deni kasih buatmu?
__ADS_1
Kamu tahu kan dia pergi kerja berlayar ingin menabung untuk biaya pernikahan kalian. Tapi kamu malah mengkhianatinya "
Ketika mereka sedang berdebat Iman adik Isma datang berbisik pada Hanif " Keluarga Budi sudah datang Mas, mereka bertanya ada apa. Mau ditahan apa gimana? "
Walaupun suara Iman pelan karena suasana hening, tetap saja suaranya terdengar jelas.
" Suruh masuk saja ngapain ditahan biar kita selesaikan masalahnya sekarang " suara Tessa dengan lantang.
Hanif terlihat bingung dia memandang Isma istrinya dan hanya dijawab anggukan.
" Selamat malam, maaf ini ada apa? " tiba-tiba Budi sudah berdiri di belakang keluarga Deni.
Melihat Budi datang, tangis Dini langsung pecah dia langsung memeluk ibunya.
Budi bertambah bingung melihat Dini menangis dia mencoba mendekatinya namun ditahan seorang laki laki yang datang bersama keluarga Deni.
Budi langsung mengkerutkan keningnya dan langsung memandang tajam laki laki tersebut sambil menepis tangannya.
" Mohon maaf untuk semuanya, bisakah kita sebagai keluarga berkumpul bersama di ruangan yang lebih nyaman "
" Baiklah Pak Hanif, saya juga merasa tak nyaman dengan kondisi seperti ini " jawab Mukhlis.
" Budi kamu ikut bersama kami ajak Ibu dan Bapakmu " seru ayah Dini
Mereka pun melangkah ke ruang keluarga dengan dilihat banyak pasang mata yang kepo ingin tahu endingnya.
" Sepertinya bakal gagal " ujar seorang tamu wanita
" Lah kamu ngarang aza, kamu naksir si Budi jadi do'anya seperti itu " jawab temannya.
Wanita tadi pun terkekeh mendengar jawaban temannya itu.
Dengan penuh inisiatif Iman langsung mempersilahkan tamu yang sudah datang untuk menikmati hidangan, untuk mengalihkan jiwa ke kepo an para tamu.
Kebetulan untuk hidangan disiapkan dihalaman rumah Dini yang luas. Sehingga mereka teralihkan keluar rumah.
Di dalam rumah itu sekarang berkumpul tiga keluarga yang diwakili keluarga inti saja.
" Selamat malam semuanya, maaf kita harus berkumpul dalam keadaan yang tak terduga. Saya selaku tuan rumah orang tua dari Dini ingin meminta maaf yang sebesar besarnya " sebagai tuan rumah Hanif membuka pembicaraan.
" Gak usah bertele tele Pak Hanif saya hanya meminta Bapak membatalkan acara pertunangan Dini dengan laki laki itu " kali ini telunjuk Tessa mengarah ke Budi.
" Maksudnya ini gimana Bud, Abah gak ngerti? " ayah dari Budi terlihat kaget dan bingung.
Mengapa pertunangan ini harus dibatalkan sedangkan keluarga mereka pun sudah menyiapkannya dari jauh jauh hari.
" Tentu saja ini harus batal, asal Bapak tahu ya. Dini ini sudah bertunangan dengan anak saya Deni. Jadi saya tidak mau tahu pokoknya pertunangan ini harus dibatalkan "
Tessa bersuara dengan lantang, sampai terdengar ke lantai bawah yang sudah dihadiri banyak tamu.
" Budi apa benar yang wanita ini katakan? " Bapak Budi langsung menatap tajam menuntut penjelasan dari anaknya.
Bahkan suaranya tak kalah lantang dari suara Tessa. Wajah Budi langsung menegang tak mampu menjawab pertanyaan Abahnya.
__ADS_1