Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Curhat Mela


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 35 ( Curhat Mela )


" Makasih ya Pih, Yah udah izinin Dini kerja lagi " Dini sangat senang akhirnya dia mengantongi izin untuk bekerja kembali.


" Jangan lupa minta izin suamimu Din, kamu harus mendapat ridhonya " Hanif memberi pesan pada Dini agar meminta izin pada Deni.


" Iya Yah, Dini permisi dulu ke depan ya.Makasih udah ngasih izin kerja buat Dini. Inshaa allah aman hehee "


Dini pun kembali ke ruang tamu berkumpul kembali bersama ibu, mertua dan adik iparnya.


" Pak saya nitip Dini, dia memang seperti itu. Keinginannya kuat, dari kecil dia sangat mandiri dan tak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain. Tapi Inshaa Allah dia bisa jaga dirinya "


" Saya percaya Pak, Deni sering bercerita tentang Dini. Nanti saya akan memberi tugas Dini yang ringan ringan saja yang penting dia gak bosan "


" Nah itu lebih baik jadi kita gak terlalu khawatir "


" Betul itu Pak "


***


Dini kembali duduk berkumpul di ruang tamu dan mendengarkan percakapan mereka. Walaupun Dini jenuh dan bosan karena yang dibicarakan ibu mertuanya hanya soal kemewahan.


Bu Isma pun terlihat tidak nyaman tapi berusaha sabar karena menghargai besannya.


" Bu Isma katanya suka bikin kue kering ya terus suka open PO gitu? " tanya Tessa.


" Iya Bu kalau ada pesanan saja, kebetulan kemarin ada pesanan dan bikin banyak siapa tahu Ibu mau coba " sahut ibunya Dini.


" Sebenarnya sih saya suka beli di toko kue langganan saya disana enak enak dan di jamin higienis tapi boleh lah dicoba dulu kue buatan Ibu siapa tahu cocok di lidah saya "


Dengan santainya Tessa berucap tanpa mempedulikan perasaan Isma. Mendengar perkataan besannya Isma cukup kaget dia menautkan kedua alisnya lalu beralih memandang Dini.


Dini hanya diam dan menunduk merasakan malu atas ucapan ibu mertuanya.


Melihat Dini yang tunduk Isma mulai faham seperti apa sifat besannya tersebut. Dia pun tak mau ambil pusing lebih memilih mengalah dan bersabar.


" Mari Bu kita ke ruang sebelah karena kue nya saya simpan disana, kalau kita bawa semua sepertinya akan sedikit merepotkan " ajak Isma pada besannya.


" Oh ya mari Bu " Tessa ikut berdiri dan mengikuti Isma menuju ruang sebelah.


Melihat Ibunya dan Ibu Dini pergi Mela berpikir inilah kesempatannya untuk mengobrol dengan Dini.


" Teh " sambil tersenyum Mela mendekati Dini dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


Dini merasa heran jarang sekali Mela bersikap sok akrab seperti ini, dulu dia sering bersikap ketus. Kemarin kemari bersikap tak peduli dan sekarang dengan ramahnya dia menyapa dan mendekatinya.


Dini curiga memiliki maksud padanya dan dia mulai bersikap waspada.


" Bi Marni dimana Teh? "


" Dia di apartement, kenapa? " Dini balik bertanya pada Mela.


" Gak ada Teh, udah lama aza gak jumpa. Aku mau cerita Teh, tapi sebelumnya aku minta pengertian dari Teteh dan aku harap Teteh gak marah sama aku "


" Ini anak maunya apa ya kok berbelit belit sih " Dini membatin.


" Aku lagi deket sama seseorang, tapi Mamih sama Papih gak tahu. Aku harap Teteh bisa pegang rahasia aku " pinta Mela pada Dini.


" Mmmhhh gimana ya Mel, kalau sekiranya itu rahasia kalau bisa jangan cerita sama Teteh ya, Teteh takut gak amanah.


Terkadang gak tahu itu lebih baik menurut Teteh "


Dengan halus Dini berusaha menolak karena dia gak mau kalau sampai ada masalah dia akan terbawa bawa atau lebih parahnya dia menjadi kambing hitam.


" Ah si*l aku gak bisa pamer deh padahal niatku kan pengen dia tahu supaya dia cemburu hehee " Mela menggerutu dalam hati.


" Gitu ya, sebenarnya aku cuma pengen curhat saja sih. Lagian kan apapun itu kalau yang namanya rahasia lama lama juga orang bakalan tahu " tambah Mela.


" Iya kamu bener, maaf bukan Teteh gak mau berbagi rahasia, tapi takut itu menjadi beban " Dini kembali beralasan.


" Duh maksa juga nih anak, tapi tak apalah kan dia bilang bukan rahasia. Lagipula siapa tahu dengan ini aku bisa jadi dekat dengannya. Karena mau bagaimana pun dia tetap adik Mas Deni, ya walaupun adik tiri " lagi, Dini membatin.


" Ya ceritalah " pinta Dini.


" Aku lagi deket sama cowok dan Teteh kenal banget sama orangnya, aku bilang gini sekalian izin gitu biar antara kita gak ada salah faham " Mela menarik nafas seperti bersiap akan menceritakan hal besar.


" Teteh janji ya gak akan marah dan berpikiran jelek tentang aku " pinta Mela wajahnya begitu memohon.


Melihat tingkah Mela seperti itu selain ada rasa heran muncul juga rasa penasaran dalam diri Dini serta sedikit rasa geli. Mela yang sehari harinya begitu angkuh namun bisa memohon padanya.


" Apa itu? " karena tak sabar Dini pun bertanya namun dengan wajah datar agar tak terlihat kepo.


" Mmhhh aku lagi deket sama cowok " Mela kembali terdiam.


Dini menautkan kedua alisnya " Huhhh ini anak drama banget sepertinya sengaja pengen bikin aku penasaran saja " batin Dini, dia sedikit kesal karena merasa dipermainkan.


Bahkan terlihat sengaja di ulur. Dia akui jiwa keponya mulai meronta tapi Dini tetap ingin terlihat biasa saja.


" Oke selamat ya, terus? " tanya Dini.

__ADS_1


" Wah kayaknya dia gak tertarik sama yang aku omongin padahal aku ingin dia penasaran " batin Mela.


" Aku lagi deket sama Budi " Mela langsung menyebut sebuah nama.


" Budi? " sedikit kaget tapi Dini berpikir nama Budi pasti banyak bukan hanya Budi mantannya.


" Iya Budi mantan Teteh " dengan santainya Mela bicara namun matanya seakan menyelidik wajah Dini.


Untung saja Dini segera menguasai keadaan dia kembali ke setelan awal alias pasang wajah tak peduli.


" Oh A'Budi, oke gak apa apa kok. Mungkin dia berjodoh sama kamu Mel. Kamu gak usah khawatir Teteh gak marah apalagi cemburu, buat apa? " dengan tegasnya Dini berucap.


" Kok dia biasa saja ya, halah paling dia cuma akting aku yakin dia kesal " Mela menggerutu dalam hatinya dia cukup kecewa dengan tanggapan yang diberikan Dini.


" Teteh gak apa apa kan, beneran gak marah sama aku? " tanya Mela lagi dia ingin meyakinkan dirinya.


" Enggak Mel, kalau kamu merasa cocok sama A'Budi ya silahkan, keluarganya baik kok. Kalau kamu berpikiran Teteh bakal marah kamu salah, apalagi kalau berpikir Teteh bakal cemburu ya jelas itu salah banget.


Untuk apa Teteh cemburu karena Teteh lebih milih Mas Deni untuk menjadi Imam teteh. Teteh yakin Mas Deni yang terbaik buat Teteh " papar Dini sambil mengulas senyumnya.


Jawabannya begitu mengena. Dia ingin Mela sadar dia tak akan terpengaruh dengan hubungan Mela bersama Budi.


Mendengar jawaban Dini yang panjang lebar membuat Mela sedikit salah tingkah, ternyata perkiraannya salah. Dini benar benar tak perduli.


Ada perasaan senang juga dengan begitu Mela yakin kalau Dini sudah melepas Budi. Berarti dia tak perlu khawatir lagi Dini dan Budi bakal CLBK bila nanti Mela berjodoh dengan Budi.


" Syukurlah kalau Teteh gak marah, aku seneng banget. Aku gak nyangka Teteh begitu mengerti, aku pikir Teteh bakal marah sama aku. Makasih ya Teh " ucapnya terlihat tulus.


Dini mengangguk sambil tersenyum " selamat ya semoga kalian langgeng dan bisa ke jenjang pernikahan "


" Makasih Teh "


" Ada apa Mel kamu bilang makasih, ada yang belum kamu ceritain sama Mamih? " Tessa datang sambil membawa beberapa toples kue kering bahkan mulutnya penuh dengan kue yang dikunyahnya.


" Eh ngga Mih aku cuma lagi cerita aza. Gimana Mamih udah dapat kuenya? " tanya Mela mengalihkan pembicaraan.


" Ada ini, rasanya lumayan lah " Tessa menunjukan toples kue yang dibawanya.


" Mamih kalau ngomong coba itu kondisikan mulutnya. Habisin dulu makanannya jangan seperti anak kecil, bikin malu saja " tegur Mukhlis yang sudah berada di belakangnya bersama Hanif.


Tessa hanya tersenyum getir dan membuang muka karena malu di tegur suaminya.


" Din kita mau pulang dulu ya, nanti Papih akan carikan job yang cocok untukmu. Papih gak mau nanti kamu terlalu cape "


" Emang mau kemana Pih? " Tessa bertanya dan menghentikan kunyahannya.

__ADS_1


" Dini mau tetap bekerja "


Tessa langsung menatap tajam Dini " Kamu gak salah Din ? " tanya Tessa ketus.


__ADS_2