
# Gara Gara Pergi Berlayar
Bab 65 ( Kecewa )
" Inilah kado pernikahan dari Papihmu Mel, pernikahan yang cukup megah walau tak semegah pernikahan Deni. Harusnya kamu bersyukur bisa dibuatkan pesta semewah ini.
Bahkan Deni dan Dini memberikan kalian paket honeymoon. Kalau untuk kado lainnya cobalah minta pada Ayahmu "
Perkataan yang keluar dari mulut Sarif paman Deni dari pihak Ibunya membuat Mela melongo.
Ternyata bukan hanya Tessa dan Rudi saja yang merasa kesal. Mela pun merasakan hal yang sama.
Dini baru masuk menjadi bagian keluarga ini sedang Mela sudah puluhan tahun. Tapi Mukhlis sekarang sudah berubah dia terlihat lebih menyayangi Dini.
Wajah Mela yang kecewa tertangkap begitu jelas oleh semua orang.
" Sebuah kado tak penting, yang lebih penting itu do'a. Rasa sayang Pak Mukhlis pada Mela sudah tergambar jelas dengan.merawat Mela dari kecil dan bertanggung jawab atas pernikahan ini. Benar perkataan Pak Sarif saya sangat setuju " Abah Budi menimpali pembicaraan tersebut.
" Apa kamu menginginkan mobil seperti Dini? buat apa Mel, kan kamu baru beberapa bulan kemarin mengganti mobil "
Mela tertunduk mendengar ucapan Mukhlis.
" Tapi Pih rasanya akan berbeda kalau kita mendapatkan hadiah, apalagi di moment penting seperti ini " Tessa ikut berbicara dan membela Mela.
" Manusia itu tak akan pernah ada puasnya. Yang perlu kita lakukan hanya mensyukuri semua nikmat yang sudah kita dapat. Apa kamu masih merasa kurang dengan apa yang sudah Papih berikan untukmu Mel? "
Degghhh
Pertanyaan Mukhlis benar benar mengena di hati Mela. Seakan mengatakan Mela seperti tak pernah merasa puas dengan apa yang sudah di dapatnya selama ini.
" Gak Pih, apa yang sudah Papih kasih sudah cukup, bahkan berlebih. Mungkin aku yang kurang bersyukur. Maafin aku ya Pih yang sudah sering merepotkan Papih "
Mela berusaha meredam rasa iri dan amarahnya. Dia tak ingin moment bahagianya rusak karena permintaannya.
" Din katanya kamu mau ngasih hadiah buat pengantin " Mukhlis mengalihkan pembicaraan mereka.
" Oh iya Pih, kemarin aku dan Mas Deni sepakat memberikan tiket honeymoon, semoga Mela dan Budi suka ya " ujar Dini sambil memberikan amplop putih yang sedari tadi di pegang Marni.
" Iya makasih " Mela seperti kurang antusias bahkan tak membukanya sama sekali. Mungkin moodnya sudah rusak karena pembicaraan soal hadiah tadi.
" Maaf Mel, bukan Papih tak mau memberimu hadiah. Papih hanya ingin kamu mulai membiasakan diri untuk hidup sederhana. Karena nanti Papih tak bisa selalu mengikuti kemauanmu " gumam Mukhlis dalam hati.
Acara sudah selesai, semua sudah mulai berpamitan untuk pulang tidak terkecuali Rudi.
Saat ini dia mencari Mukhlis untuk berbicara empat mata, beruntung dia bertemu ketika Mukhlis keluar dari toilet.
__ADS_1
" Pak Mukhlis " sambil setengah berlari dia memanggil Mukhlis.
" Iya Pak " jawab Mukhlis dengan ramah, karena berusaha menghargai Rudi sebagai ayah kandung Mela.
" Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk pesta ini. Dan terima kasih juga karena sudah merawat Mela dari kecil "
" Sama sama Pak, saya sudah anggap Mela seperti anak saya sendiri "
" Syukurlah, tapi kalau Bapak anggap Mela seperti anak sendiri harusnya Bapa memberikan hadiah sesuai keinginan Mela. Kan kasihan. Dini saja yang menantu Bapak di kasih mobil "
Tanpa rasa malu Rudi memprotes Mukhlis karena menolak memberikan hadiah untuk Mela.
" Maksudnya gimana ya Pak? " mata Mukhlis langsung memicing.
" Ya saya sebagai ayah kandungnya saja kecewa karena Bapak menolak memberikan hadiah apalagi Mela Pak, dia pasti sangat sedih. Padahal Bapak bilang barusan sudah anggap Mela seperti anak sendiri tapi Bapak masih saja perhitungan "
" Huffttt " Mukhlis langsung menarik nafas, benar benar merasa heran dengan tingkah Rudi.
" Maaf Pak Rudi bukan saya perhitungan, tapi Mela baru saja ganti mobil untuk apa saya membelikannya mobil baru.Lagipula saya sudah menyiapkan pernikahan ini dengan biaya yang tak sedikit.
Seharusnya Mela menjadi tanggung jawab anda. Dan lagi setelah ini Mela bukan lagi tanggung jawab saya karena dia sudah memiliki suami yaitu Budi. Maaf Pak Saya ada keperluan lain, saya permisi dulu ya "
Walaupun jengkel Mukhlis tetap berusaha tenang karena tak mau terpancing emosi.
Setelah pamit Mukhlis langsung pergi meninggalkan Rudi yang terlihat kesal.
" Ada apa? " Tessa yang hendak ke toilet menghampiri Rudi.
" Suamimu sombong sekali aku hanya minta supaya dia memberikan hadiah sesuai permintaan Mela tapi dia malah pergi " sahut Rudi.
Mata Tessa langsung melebar " Dasar bod*h "
Tessa meninggalkan Rudi yang melotot " Heehh kamu yang bod*h di bantuin ngomong malah ngatain "
Rutuknya sambil menunjuk nunjuk ke arah Tessa yang berjalan makin menjauh darinya.
Para pekerjaan yang berada di area tersebut langsung melihat ke arah Rudi mereka membicarakan dan mencibirnya.
" Ih siapa sih itu, gak malu apa teriak teriak disini "
" Tapi itu bajunya seperti keluarga pengantin ya? "
" Itu bapak kandung pengantin perempuan " teman mereka yang baru datang ikut menimpali.
" Loh bukannya pengantin perempuan itu anak Pak Mukhlis ya? "
__ADS_1
" Pak Mukhlis ayah tirinya, yang tadi ayah kandungnya "
" Oh gitu, pantesan gak ada akhlak beda sama Pak Mukhlis hahaa "
" Husss kamu tuh jangan kuat kuat kalau bicara. Aku dengar pengantin perempuan juga malu sama bapak kandungnya. Tapi mau gimana lagi gak bisa nolak takdir heheee "
" Kasihan juga ya. Jangan kan dia aku juga malu lihatnya "
" Sudah sudah ayo kita kerja lagi biar cepat beres "
Mereka kembali bekerja dan beraktifitas kembali terlebih orang yang mereka cibir sudah pergi.
***
Saat ini Mela sedang berdiri dekat jendela matanya menerawang melihat ke arah pemandangan di luar hotel. Budi baru saja masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang termenung. Saking seriusnya sampai tak sadar Budi masuk ke dalam kamar.
Budi duduk di tepi ranjang memperhatikan Mela, dia paham kekecewaan yang Mela rasakan tentang hadiah yang tadi dibicarakan.
Budi pun merasa Mukhlis memang pilih kasih, tapi siapa yang bisa menolak pesona Dini.
Pastinya Dini menjadi menantu kesayangan, belum lagi Deni yang merupakan anak kandung laki laki Mukhlis yang pastinya akan jadi pewaris utama.
" Mel " panggil Budi, tapi Mela diam saja dan tak menoleh.
" Mela" kali ini Budi kembali memanggil sambil berdiri dan menyentuh bahu istrinya.
Mela tersentak kaget, dia langsung menoleh dan memandang Budi.
" Kamu kenapa? " Budi bertanya pada Mela. Dia melihat kesedihan sekaligus kemarahan yang bersatu menjadi satu.
" Aku tak apa Mas " jawab Mela sambil mengusap air matanya.
" Apa kamu kecewa soal hadiah tadi? "
" Ng-nggak Mas aku gak apa apa. Kamu kapan masuk? " kali ini Mela yang bertanya.
" Dari tadi aku sudah masuk tapi kamu terlalu serius melamun sampai kamu tak menyadari kehadiranku " balas Budi sambil merajuk.
Mela tersipu melihat sikap Budi yang sedikit terasa hangat " Maafin aku ya, kamu pasti cape dan ingin beristirahat? "
" Mmmhhh tentu saja, aku ingin beristirahat lelah berdiri seharian "
Mela langsung memeluk Budi dan menariknya ke ranjang.
" Masih siang Mel, orang tua kita masih di bawah. Mereka pasti nyari kita buat pamit " Budi melepas pelukan Mela pelan.
__ADS_1
" Eeugghhh ' Mela bergumam kesal namun di balas kecupan Budi di kening Mela.
" Kecewa lah aku " ucap Mela lirih.