Gara Gara Pergi Berlayar

Gara Gara Pergi Berlayar
Rencana Jahat


__ADS_3

# Gara Gara Pergi Berlayar


Bab 68 ( Rencana Jahat )


" Jadi bagaimana? " tanya Tessa sambil menyeringai.


Rudi hanya diam tak menanggapi pertanyaan Tessa.


" Oke diamnya kamu aku anggap kamu mau bergabung dalam misi kita kali ini " Tessa tersenyum penuh kemenangan.


Sebenarnya dalam hati Rudi dia masih bimbang, tapi dia memutuskan untuk mendengarkan rencana Tessa, karena sampai saat ini dia tidak tahu keputusan apa yang akan diambilnya nanti.


Tessa pun mulai menceritakan rencana yang sudah di susunnya. Ikbal sangat antusias sekali mendengarkan penuturan Ibunya.


Bahkan dia meminta agar Ibunya segera melakukan rencana yang sudah mereka buat.


" Bagus sekali rencana Mamih, aku suka Mih. Kalau bisa secepatnya kita eksekusi saja "


" Tentu saja rencanaku bagus dan aku harap kalian menjalankannya dengan baik. Ingat ini demi kelangsungan hidup kita ke depannya. Kalian tak mau kan selamanya hidup susah? "


Tessa tetap memprovokasi pikiran mereka agar tetap mau menjalankan misinya.


" Tentu saja tidak Mih, aku juga ingin hidup seperti Mela. Kenapa tidak sedari kecil saja Mamih membawaku? atau kenapa tidak Mela saja yang Mamih tinggal bersama Ayah "


Braakkkk


Rudi menggebrak meja dengan sangat kuat. Sampai piring dan gelas yang ada di meja bergetar bahkan minuman pun tumpah.


Tessa dan Ikbal terhenyak kaget, mereka langsung melihat ke arah Rudi. Ikbal langsung terdiam tak berbicara lagi.


" Anak kurang ajar, tak tahu terima kasih. Kau pikir uang yang kau habiskan untuk hidupmu itu sedikit. Kamu lupa berapa uangku yang sudah kau habiskan untuk menghidupi mu? Andai saja hidupmu benar mungkin kau bisa sekolah tinggi " bentak Rudi pada anak laki lakinya.


Melihat Ikbal yang terdiam Tessa langsung berusaha membelanya. Karena Tessa tak mau Rudi terus berbicara. Yang pada akhirnya akan mengatakan bahwa Tessa lah yang enggan membawa Ikbal.


Dulu Rudi memang tidak benar benar miskin. Rudi memiliki beberapa warisan dari orang tuanya.


Tessa sangat boros banyak menghabiskan uang Rudi. Untuk mengikuti gaya hidup Tessa, Rudi menjual beberapa peninggalan orang tuanya.


Karena khawatir semuanya akan habis Rudi memutuskan untuk mengatur dan membatasi Tessa.


Karena merasa dibatasi akhirnya Tessa memilih meninggalkan Rudi. Awalnya Tessa tidak membawa satu pun anaknya.


Tapi karena Mela masih kecil dan sering sakit sakitan dan Rudi tidak bisa mengurusnya dengan baik akhirnya Tessa kembali tapi hanya untuk membawa Mela.

__ADS_1


Itu pun Tessa seperti enggan membawa Mela. Setelah beberapa bulan akhirnya Tessa bertemu Mukhlis yang sedang membutuhkan pengasuh anak laki lakinya yaitu Deni.


Saat itu Bunda Deni yaitu Dewi masih hidup namun sering sakit sakitan. Sampai pada suatu hari Dewi meninggal.


Mukhlis sangat terpukul di saat itulah Tessa hadir mengambil hati Mukhlis dengan cara mendekati Deni.


Sedari awal Mukhlis pun menganggap Tessa hanya sebatas pengasuh untuk Deni. Namun karena sering bertemu dan Deni terlihat dekat dengan Tessa Mukhlis pun mencoba membuka hati.


Setelah berjalan beberapa tahun karakter Tessa mulai terlihat dan Mukhlis mulai tak nyaman.


Dia mulai menjaga jarak, sampai Deni menginjak remaja Mukhlis mulai merasakan ambisi Tessa yang sangat berlebihan sampai berniat menjodohkan Mela dan Deni.


Walaupun tak dikatakan secara langsung tapi Mukhlis paham. Apalagi Deni mengatakan secara langsung pada Mukhlis ketidaknyamanannya itu.


Sehingga Mukhlis mengambil banyak tindakan untuk mengantisipasi. Dimulai dari memindahkan semua aset atas nama Deni dan membelikan Deni apartement agar merasa nyaman.


Sampai pada akhirnya Mela semakin sulit diatur dan mulai sulit dinasehati Mukhlis pun makin berjauh dari ibu dan anak tersebut.


Namun mereka tak menyadari dan mencoba berubah. Bahkan menyalahkan Mukhlis dan berpikir Mukhlis sudah bertindak tidak adil pada mereka.


Bahkan timbul dendam dan iri setelah Dini masuk menjadi bagian keluarga mereka.


" Sudahlah Mas tak usah ribut, hal seperti itu saja kamu jadikan masalah " timpal Tessa dengan suara keras.


" Sebenarnya aku tak mau marah tapi anak ini sifatnya persis sepertimu " tunjuknya pada Ikbal.


Tessa hanya melengos tak mau menanggapi ucapan Rudi.


" Sudahlah kalian tak usah ribut, aku malu kalau sampai kamu mengamuk disini Mas " tambah Tessa sambil bersedekap.


" Aku mau pergi dari sini tak mau lagi mendengarkan semua omonganmu. Aku sudah malas " Rudi langsung berdiri dari duduknya.


Rudi berjalan cepat menuju pintu " Loh mas mas dengarin aku dulu "


Sebelum Rudi sempat membuka pintu Tessa sempat menarik tangannya.


" Duduklah dulu, jangan dengarkan Ikbal sebaiknya kamu tenangkan dulu pikiranmu " ujar Tessa membawa Rudi kembali duduk di kursinya.


" Biarkan saja Mih, nanti juga dia akan menyesal kalau melihat kita punya banyak uang bahkan dia akan datang mengemis pada kita " Ikbal kembali berkata membuat Rudi makin tersulut emosinya.


Buugghhh


Satu pukulan kini mendarat di rahang Ikbal. Membuat Ikbal terjatuh dari kursinya. Untung saja Tessa memesan ruangan privat sehingga adegan tersebut tak ada yang menyaksikan.

__ADS_1


Hanya saja suara kursi yang jatuh dengan keras dan jatuhnya Ikbal sedikit menarik perhatian pegawai cafe.


" Massss " pekik Tessa lalu dia berlari ke arah Ikbal dan membangunkan Ikbal.


Ikbal mengusap rahangnya berkali kali dan memegang sudut bibirnya yang perih.


Tok tok tok


Seorang kemanan cafe muncul membuka pintu " Maaf Bu apa ada masalah "


Untung saja cafe tersebut milik teman Tessa dan Tessa sering berkunjung kesana sehingga para pekerja cafe mengenalnya.


" Tidak apa apa Pak, ini hanya ada sedikit masalah. Kami akan menyelesaikannya "


" Baiklah Bu, kalau ada masalah tolong segera hubungi kami. Kami tak mau para pengunjung cafe yang lain jadi merasa tidak nyaman " ucap laki laki yang bertugas sebagai keamanan cafe.


" Baiklah Pak, saya paham " jawab Tessa.


" Kalau begitu saya permisi " laki laki tersebut keluar dari ruangan tersebut.


" Kalian kenapa sih, aku ngundang kalian bukan untuk ribut ya. Bikin malu saja " kini giliran Tessa yang meradang.


" Kamu juga Mas tak bisa menahan emosi " tunjuk Tessa pada Rudi.


Merasa dibela Ikbal menyunggingkan senyum meledek pada ayahnya dan Tessa melihat itu.


" Kamu juga tak ada hormat hormatnya pada orang tua. Mau bagaimanapun dia tetap ayahmu " kini telunjuk Tessa mengarah pada Ikbal.


Ikbal membuang wajahnya karena melihat Rudi balik tersenyum meledeknya.


" Duduklah Mas " titah Tessa pada Rudi setelah berhasil membawa Ikbal duduk kembali di kursinya.


" Aku sudah malas, kalian lanjutkan saja " Rudi kembali menuju pintu.


" Mas bagaimana dengan rencana kita? " Tessa berteriak.


" Itu rencanamu bukan rencanaku. Sebaiknya kamu didik anak laki lakimu. Dia tak pernah bisa menghargai nasehatku persis seperti kamu "


Rudi kali ini benar benar keluar dari ruangan tersebut. Tessa pun tak mengejarnya karena malu takut banyak yang mengenalinya.


" Ini semua gara gara kamu, bagaimana kalau ayahmu membocorkannya pada Mukhlis "


Ikbal hanya terdiam tak mau menanggapi omongan ibunya. Karena hanya akan menambah emosinya.

__ADS_1


__ADS_2